Pagi Hun…masih capek karena perjalanan semalam? Sayang sekali, padahal aku sudah menyiapkan tour ke Altes Rathaus atau semacam old town hall untuk kamu, cepat mandi gih, aku tunggu di sana jam 10, please jangan telat, Miz U so much!Aku baca e mail dari Cintaku dengan mata setengah terpejam, aku tatap langit-langit kamar sambil mengumpulkan nyawa yang masih belum menyatu dengan tubuhku.
Sepuluh menit sudah cukup waktuku untuk bengong di atas kasur, dan kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Selesai Subuh, Hpku yang masih aku silent, bergetar lagi.
Masih bobok? Gak subuhan ya? Gimana dengan tawaran tour privatnya? Reply ASAP please
Aku pun menggelengkan kepalaku dan membalas,
Sabar, aku lagi melipat mukena nih, iya jadi Insya Allah…Oke, ga usah dibalas deh, aku mau tidur dulu 1-2 jam, ngantuk banget Cinta…c u
Jam 10.15 menit, aku baru sampai ke Altes Rathaus, Vienna, aku lihat Cintaku bergegas menuju arahku dan merentangkan tangannya.
“Maaf Cinta, aku te….” Belum selesai kalimat itu aku ucapkan, kamu sudah memelukku erat dan menciumi rambutku.
“Aku rindu kamu Hun…Rindu sekali” Kamu mengelus-ngelus rambutku dan mempererat pelukanmu.
“Iya sama Cinta, aku pun rindu….hmm, kamu bau Zeus.” Kataku sambil melonggarkan pelukanmu.
Kamu tertawa memandangku, ah semakin tampan saja kamu apalagi dengan penampilan barumu, kumis tipis di atas bibirmu. “Rambutmu juga bau es krim mint.” Katamu sambil mengambil beberapa helai rambut sampingku dan menciumnya.
“Kukira dengan kumismu, daya penciumanmu berkurang Cinta…” kataku memandangnya usil.
Kamu tersipu malu,”Kalau tak suka, akan aku cukur…”
Aku berbisik di telingamu,”Aku suka kamu Cinta, apa adanya…” dan memberikan kecupan di pipimu.
Selesai mengitari Altes Rathaus, kita pun duduk di café yang berada di dekat situ.
“Ada apa?” kataku, merasa jengah kamu memandangku lama.
“Tidak...hm…” kamu mempermainkan gelas mungil black coffee mu.
“Ada apa Cinta ? aku mengulangi lagi pertanyaanku.
“Hun, selama sebulan aku harus kembali ke Jakarta, aku harus memeriksa pertanggungjawaban cabang di Jakarta dan sekaligus aku ingin bertemu dengan anak-anakku.” Kamu berkata pelan agar aku benar-benar memahami setiap ucapanmu.
Aku terdiam beberapa saat, meneguk cappucino caramelku dan berkata, “Okay Cinta, aku mengerti. Kamu tentunya juga akan melepas kangen dengan istrimu kan…” suaraku rada tercekat pada kata ‘istrimu’.
“Hun, maaf, tapi yah, mungkin aku juga akan melepas kangen dengan dia, tapi kan bukan itu tujuan utamaku ke Jakarta kan?” kemudian kamu meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Aku mengerti Mas…ngerti banget, posisiku…statusmu...itu semua sudah risikoku ketika aku memutuskan untuk berhubungan denganmu.” Kuusap tanganmu lembut.
“Terimakasih Hun…Kamu tahu perasaanku kepadamu” kamu pun tersenyum kepadaku.
Dan aku memaksakan senyumku kepadamu.
Menjelang tidur malamku, air mataku terus bercucuran, aku tak tahu perasaan sebenarnya yang ada dalam hatiku, membayangkan kamu dengan perempuan lain yang merupakan istri sahmu. Terus teringat kata-kata yang pernah diucapkanmu sewaku pertama kalinya kita mengobrol ”Aku kangen dengan anak-anakku”.
Berbagai perasaan campur aduk dalam hatiku, perasaan bersalah, cemburu, rindu, ah..tidurku tak tenang malam itu.
Hpku yang telah kusilent bergetar, e mail dari Mas Nata.
Maafkan aku Hun…kamu tidak marah kepadaku kan ?
Aku tidak membalas e mailmu.









aku syeremm denger ceritanya, takut mengalami menjadi istri sahnya....takut mengalami menjadi 'hun' si other...dan takut menjadi 'cinta' sipembawa petaka....