
Menunggumu, mempelai priaku,
Lihat, lihatlah aku...
Kembang goyang berkilau tertimpa cahaya lampu,
Paes hitam basah melukis keningku,
Bulu mata tebal panjang penegas kecantikan mataku,
Gincu merah merekah menyelimuti bibirku,
Dan kebaya putih berpayet melingkari tubuhku,
Aku bahagia, bahagia sekali...
Seakan bau harum surga sudah mulai tercium di pelaminanku,
Aku sedang menunggumu wahai mempelai priaku...
Kubayangkan dirimu yang gagah akan menemaniku berdiri di sini,
Bersamaku menyambut para tamu,
Kita akan berdiam saling pandang...
Sentuhan nakalmu akan membuatku bergetar...
Kamu yang akan berbisik,
"Harumnya melati di pelaminan ini akan kubawa di peraduan saat kita bercinta nanti "
Bisikanmu yang akan membuat pipiku bersemu merah,
Kamu akan mempermainkan ronce melati di kerismu sambil mengerlingku,
"Jangan menggodaku dulu, simpan untukku di peraduan nanti.."
Bisikku pelan di telingamu,
Senyum tak akan pernah lepas dari bibir kita...
Menjadi raja dan ratu sehari...
Ah...aku tersenyum sendiri pada lamunan di atas pelaminanku,
Namun tiba-tiba bunda datang dan memelukku erat,
Suaranya bergetar disertai isakan,
"Sing tabah yo ndhuk...masmu wis rak ono...ndhisik'i awakmu ngadep gusti Allah...tabrakan ndhuk..."
Ah, lambat laun bau harum surga mulai menghilang...
Dan pelaminan indahku yang semula terang menjadi gelap.
Semarang, 10 Desember 2006
*Dalam lamunan bodohku*
Image di ambil dari www.kingfoto.com









Puisinya sedih banget....
Gak kebayang kalo ini terjadi beneran,... pasti sedih banget yaaa....