
I
Dosaku bertebaran di jalan berdebu,
Dalam sosok pemulung dan penyapu jalan,
Mengapa aku bilang itu adalah dosaku…
Karena aku membiarkan saudaraku hidup dalam keterbatasan,
Aku tak mampu berbuat apa-apa, karena aku pun belum mampu,
Melihat mereka, membuatku lebih bersyukur,
Melihat anak-anak mereka, membuatku memeluk dan mencium anakku,
II
Dosaku bertumpu dalam rumah kardus,
Dalam bentuk susunan papan triplek rapuh,
Mengapa aku bilang itu dosaku…
Karena aku membiarkan saudaraku hidup dalam ketidakpastian,
Lagi-lagi aku tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa mendo’akan mereka,
Semoga hidup mereka selalu bahagia, semoga batin mereka selalu tercukupi,
Melihat kegigihan mereka mencari sesuap nasi, sebagai cambuk buatku,
Melihat rajinnya anak mereka sekolah dengan keterbatasan, menjadi pengajaran buat anakku,
III
Dosaku juga berada di tenda-tenda pengungsian,
Dalam sosok pengungsi tsunami, gempa, banjir bandang, dan lumpur panas,
Mengapa aku bilang itu dosaku…
Kamu sudah tahu jawabannya tanpa aku ulang lagi…aku belum mampu membantu meringankan beban mereka…
Hanya bisa ikut prihatin atas nasib mereka..para saudaraku…
Melihat keikhlasan mereka, membuatku malu karena aku belum tau artinya ikhlas,
Melihat tawa anak-anak mereka, mengingatkan anakku untuk tetap riang di kala susah,
IV
Aku malu saudaraku…
Aku belum bisa sesabar, setabah dan seikhlas kalian….
Padahal kalian sudah kehilangan banyak…yakni,
Kesempatan untuk hidup layak di negeri kita sendiri,
Harta benda berharga hasil jerih payah kalian,
Bahkan nyawa orang-orang yang kalian cintai,
Sungguh kalian manusia yang kuat,
Apa yang bisa aku bantu untuk kalian saudaraku ?
Untuk meringankan beban kalian…
Maafkan aku saudaraku sayang, maafkan aku….
Jujur, aku belum mampu secara materi,
Saudaraku, aku yang harus belajar banyak tentang hidup dengan kalian,
Kalianlah guruku, untuk mata pelajaran Kesabaran, Ketabahan, dan Keikhlasan,
Cemetiku agar aku lebih bersyukur…
Ya Allah Ya Robb…
Ampunilah dosa-dosa saudaraku…janganlah uji mereka di luar batas kemampuan mereka…muliakanlah hidup mereka…tempatkanlah orang-orang yang mereka sayangi, yang telah lebih dulu Engkau panggil ke tempat layak di SisiMu…
Semarang, 29 Oktober 2006
Terinspirasi dari forward-an sms seorang teman, salah seorang korban tsunami Aceh, yang kehilangan anak dan suaminya :
“Memandangi foto2 ratu, aq mlht ada danau di 2 bola mtnya. Ada angin smilir, kbhgiaan saat ia melambai mnju surga. Aq spt mlht biduk sndri. Ada angsa yg berenang di permukaan danau, ada psn ttentu kpdku mamanya saat ia melambai mnju surga. Aq spt mlht atap langit, ada pelangi yg mjembatani jalur lgkhnya mnuju sebuah rumah mungil diatas bukit. Ada isyarat di mt ratu agar aq mperbaiki pagar2 y punah thempas glmbg tsunami. ( aq kgn anakku, mhn doanya buat kel aq ya. Tq ) sms dari Nana-Aceh”
Lanjutan bisikan si angin...



















