
Ingin aku menjadi udara yang kau hirup setiap saat,
Lanjutan bisikan si angin...


Angel membukakan pintu untukku, dan ah…Nisa langsung memelukku,”Tante…Mama udah cerita ke Nisa, dari kemarin Papa selalu panggil nama tante terus.”Aku pun memeluk Nisa dan mengusap-usap rambutnya, aku lihat di sofa, si kecil Lia memandangku heran, dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi.
Aku memandang XDA yang terbungkus sarung kulit berwarna hitam itu. Aku meraih XDA itu, memandangnya dan kemudian memencet salah satu tombolnya untuk menghidupkan backlightnya, foto Nisa dan Lia yang menjadi wallpapernya. Hatiku tersayat ketika mengingat kembali obrolan aku dan kamu di café Tivoli, “Aku kangen anak-anakku..” ohh, tak menyangka saat ini kamu sedang bertaruh nyawa di kamar atas. Aku cari program Diary di XDAmu.
RS. Bintaro International, Jakarta. Hatiku sudah berdegup kencang ketika turun dari taksi. Angel sudah menawarkan agar aku mau dijemput supir di airport. Tapi aku mengatakan, aku bisa langsung ke RS sendiri.
Sudah sebulan semenjak kejadian di HK. Aku kembali ke kantorku di New York, menjumpai atasan langsungku Mr. John. Dia memberi kesempatan cuti kepadaku, setelah ia melihat ada yang lain dengan laporan-laporan yang aku buat. Sebetulnya dia ingin menegurku, hanya saja setelah melihat mataku yang sembab dan mukaku yang kuyu, dia segan bertanya macam-macam kepadaku.

Mau dinner di mana sih ?
Dari Sukhumvit, Bangkok, aku menikmati jalan-jalanku di daerah pusat kota Bangkok itu. Dengan ditemani alunan suara merdunya Celine Dion dari IPODku. Padatnya daerah itu membuatku memilih busana casual hari ini. Celana camel selutut berkantong banyak, kaos oblong putih bertuliskan Hard Rock Café Milano, kaos kaki pendek dan sepatu kanvas berwarna crème, tak lupa aku membawa tas cangklong kesayanganku, sudah rada buluk emang, sampai-sampai sewaktu aku dan kamu berjalan-jalan di Ginza beberapa waktu yang lalu, kamu memaksaku untuk membelikanku tas yang baru. Sempat terjadi perlawanan besar-besaran dariku ketika kamu hendak menarik tanganku masuk ke dalam butik Moschino. Dan dalam urusan tas cangklong kesayanganku, sudah saatnya bagimu untuk menyerah. “Ya sudahlah terserah kamu Hun, biar disangka abege terus ya, pake tas anak SMA kayak gitu.” Katamu tersenyum pahit.
Ginza, Tokyo di hari Minggu. Aku berjalan kaki bersamamu. Kamu bercerita banyak mengenai gaya hidup orang Jepang yang sangat kecanduan bekerja. Sesekali aku tidak mengindahkan omonganmu, kalau sudah melihat objek yang menarik untuk di foto.
Di hotel, New York aku mempersiapkan semuanya sebelum berangkat, bahan untuk presentasiku sudah siap, kali ini aku membawa tas dokumen bersamaku, dan tentu saja, tas cangklongku yang sudah sangat setia menemaniku. Ah, semoga hari ini presentasiku berjalan dengan lancar.
Dari kamar hotel di Prague, aku mengedit gambar-gambarku. Ah, untung saja ada yang menciptakan gadget-gadget canggih seperti Laptop, HP, XDA, dan IPOD. Kalau tidak, bagaimana aku bisa bekerja. Tuntutan pekerjaan yang selalu mobile seperti aku sangat membutuhkan piranti canggih tersebut.Terdengar lagu Nothings Gonna Change My Love for You yang dinyanyikan oleh Peppi Kamadhatu dari portable speaker nya IPOD. Sesekali sambil mengedit gambar aku ikut menyanyikan lagu tersebut. Aku sangat asyik dengan pekerjaanku, tidak sadar kalau ada e mail masuk ke Hpku.
Pandanganku menyapu bangunan-bangunan tua yang berada sepanjang sungai di Amsterdam. Setelah dari pagi tadi aku mengambil gambar bangunan-bangunan tua tersebut dengan menggunakan kamera digitalku, rasanya asyik sekali sampai-sampai tidak terasa beberapa kilometer terlewati dengan berjalan kaki ( bisa saja sih aku menyewa sepeda, tapi aku ingin sekali-sekali napak tilas dengan kakiku ), dan akibat berjalan kaki rasanya kedua kakiku mulai terasa pegal. Di atas water bus yang aku naiki dari central station Amsterdam, rasanya impas sudah rasa capek akibat berjalan kaki tadi, tergantikan oleh pemandangan yang kudapat dari atas water bus ini. Mendengar pemandu yang berbicara dua bahasa, dutch dan english membuatku teringat akan kamu. Kamu yang serba tahu akan sejarah berdirinya suatu bangunan kuno. Ah, aku rindu sekali kepada Cintaku itu. Saat ini sudah larut malam atau pagi di Jakarta, aku kurang tahu dan ketika water bus ini melewati Stadhuis semacam town hall, aku pun menulis e mail kepadamu.
Pagi Hun…masih capek karena perjalanan semalam? Sayang sekali, padahal aku sudah menyiapkan tour ke Altes Rathaus atau semacam old town hall untuk kamu, cepat mandi gih, aku tunggu di sana jam 10, please jangan telat, Miz U so much!
Hpku bergetar ketika aku hendak melempar koin ke dalam kolam Fontana Di Trevi, Roma. Kuurungkan niatku melempar koin, aku pun lalu duduk di pinggiran kolam, tumben sore itu Fontana Di Trevi agak lenggang, jadi aku bisa dengan leluasa duduk di pinggiran kolam. E mail dari kamu.
Di Basilique Notre Dame de La Garde, Marseilles. Kutatap lamat bangunan megah yang berdiri di depanku, dan kurasakan debaran kencang di dadaku. Aku menikmati setiap debar yang mempermainkan jantungku.
Siang yang panas ketika tidak sengaja aku mendengar ada tanda e mail masuk di Hpku. Ternyata itu dari kamu, dan barisan kata-kata singkat di e mail membuatku terpana.
Aku mengarahkan fokus kamera digitalku ke arah salah satu rumah di Pueblo Español, Barcelona. Aku ingin menambah portofolio hasil jepretanku. Daerah pedesaan ala Spanyol ini memang sangat indah, bentuk rumahnya yang unik, jalan yang sempit namun bersih.
Sewaktu menikmati malam bermandikan cahaya lampu di Tivoli, Copenhagen. Kembali aku melihat sosokmu. Dirimu sedang menikmati alunan musik biola dari pengamen jalanan. Kali ini kamu memakai jaket kulit biasa, karena udara di malam hari yang tidak begitu dingin. Aku sangat ingin menyapamu, tapi aku ragu kamu masih mengingatku. Aku pun berjalan cepat melewati belakang tubuhmu. Dan kudengar suara yang paling aku idam-idamkan di dunia ini memanggilku.
Saya ingat sewaktu saya ikut pertemuan orang tua murid baru di TK Restu Malang ( anak saya, Baby sempat sekolah di Malang selama seminggu ), yang saat itu menghadirkan seorang konsultan pendidikan anak. Sewaktu dia berbicara di depan audiens, selain menyelipkan humor dan permainan untuk melatih kepekaan mata, dia juga menceritakan pengalaman dia selama menjadi seorang konsultan pendidikan anak. 
Aku bertemu pertama kali denganmu di Trafalgar Square, London.
Ini sedikit cuplikannya dari Chapter I :
Aku bertemu pertama kali denganmu di Trafalgar Square, London.
Saat itu musim dingin,…
Kau memakai mantel abu-abu gelapmu, berdiri terdiam menikmati rintik salju.
Jarakku hanya 10 meter di samping kirimu dan pandanganku hanya terpaku ke kamu.
Tiba-tiba matamu melihat ke arahku, dan kurasakan pipiku menghangat seketika.
Kamu memberikan senyummu, senyum termanis yang pernah kulihat dari seorang pria.
Aku ragu apakah senyummu untukku…aku pun melihat ke arah samping dan belakangku, tapi yang ada hanya aku.
Dan ini dari Chapter II :
Sewaktu menikmati malam bermandikan cahaya lampu di Tivoli, Copenhagen. Kembali aku melihat sosokmu. Dirimu sedang menikmati alunan musik biola dari pengamen jalanan. Kali ini kamu memakai jaket kulit biasa, karena udara di malam hari yang tidak begitu dingin. Aku sangat ingin menyapamu, tapi aku ragu kamu masih mengingatku. Aku pun berjalan cepat melewati belakang tubuhmu. Dan kudengar suara yang paling aku idam-idamkan di dunia ini memanggilku.
