Google
 
Thursday, November 30, 2006
The Heartbeat

Dear Abi...belahan jiwaku,
Ingin aku menjadi udara yang kau hirup setiap saat,
Ingin aku menjadi angin yang berhembus pada tubuhmu,
Ingin aku menjadi air yang kau reguk semaumu,
Ingin aku menjadi debu yang bisa menempel pada ragamu,

Dear Abi...pangeran mimpiku,
Ketika kau merinduku, rinduku akan sepuluh kali lipat lebih darimu,
Ketika kau mencintaiku, cintaku akan lebih besar dari yang bisa kau bayangkan,

Dear Abi...bayangan hatiku,
Masih menjadi rahasia yang indah, apakah suatu saat nanti kita bisa bersatu,
Catatlah selalu impian yang kita rajut, dengan benang tawa dan tangisan kita,
Ingatlah selalu deru cinta dan rindu yang selalu kita utarakan,
Desahan nafas, degupan jantung kita berdua,
Simpanlah semua kenangan indah kita,

Dear Abi...api asmaraku,
Tak usah kau tanya lagi tentang isi hatiku,
Perasaan dan kejujuranku,
I am yours and you are mine,

Pejamkan matamu Bi,
Dan rasakan kehadiranku di sisimu,
Rasakan kecupan sayangku di pipi dan keningmu,
Dan rasakanlah bisikan disertai hangat nafasku di telingamu...
Yang mengatakan, aku cinta kamu...


Semarang, 26 November 2006



Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:24 AM ¤ Permalink ¤ 10 comments
Tuesday, November 28, 2006
Mystery Of Love ( XVIII )


Di Gorky Park Rusia, Winter 2007

Aku berjalan sendiri, mengendap-ngendap hendak memotret kucing yang sedang terlelap di Gorky Park. “Bundaaa…lagi apa sih.” Lia anakku mengagetkanku, “Ssst Sayang, lihat tuh, Bunda lagi mau memotret pus itu…” aku menunjuk ke arah kucing berwarna coklat belang hitam itu.
“Ihh..lucunyaaa !” Lia berkata polos.”Ssstt…hahaha, kamu ini gimana Sayang, tuh lari kan kucingnya.” Aku tertawa dan membelai rambut Lia.
“Maaf Bunda, hmmm, kok Papa, Mama, dan kak Nisa lama banget sih ke Bolshoinya?” Lia memandangku dengan wajah cemberut.
“Ya mungkin pertunjukan Swan Lake nya belum selesai, ahh itu mereka Sayang.” Aku menunjuk ke arah depan, Lia mengikuti arah jariku, dan ia kemudian berlari memelukmu dan kamu pun langsung menggendongnya.
Wanita di sebelahmu menghampiriku, “Maaf menunggu lama Dek, yuk kita makan yuk Pa, kasihan Dek Ara nih, lagian sekarang dia juga harus memberi makan yang di dalam perut ini.” Mbak Angel berkata kepadamu sambil mengelus-elus perutku yang sudah membuncit di balik mantelku.
“Oke, mau makan apa Hun?” tanyamu, kamu menatapku sambil tersenyum mesra.”Apa sajalah, yang penting Nisa dan Lia juga suka.” Aku melempar pandanganku ke arah kedua gadis cilik itu.
“Ah Dek, kalau mereka sih maunya paling cuman junk food, yuk Nisa, Lia ikut Mama, tidak boleh junk food hari ini yah, Dede kalian yang di perut kasihan entar.” Mbak Angel melepaskan Lia ke dalam gendonganmu, menurunkannya dan menggandengnya berdua Nisa.
Kamu menatapku, dan mengelus-elus perutku….,”Kamu bahagia Hun?”
Aku menatapmu, mencium pipimu sekilas dan berkata,”Ya, bahagia banget Cinta, kamu?”
Aku menggandeng lenganmu, menatap wajahmu, dan kamu menatapku balik,”Sangat bahagia.”. “Anak kita menurut USG cowok ya Hun?”
Aku mengelus perutku,”Insya Allah Cinta…”
Kamu menatapku mesra,”Aku ingin nama tengahnya Trafalgar.”
Aku menatapmu heran..,”Loh, kok Trafalgar ?”
Kamu menatap ke arah depan sambil tersenyum,”Tempat Hun jatuh cinta kepadaku untuk pertama kalinya.”
Aku mencubit lenganmu,”Ugh, bukannya kamu duluan yang jatuh cinta, semenjak di atas lift itu ? hahaha.”
“Papaaa, Bundaaa ayo dong…kita udah pada lapar niii.” Terdengar suara Nisa memanggil kita. Kulihat Mbak Angel tersenyum-senyum penuh arti kepadaku dan kamu, suaminya.
Aku dan kamu bergegas ke arah mereka, dan kemudian aku menggandeng tangan Mbak Angel.

Ketika cinta membuka tabir gelap dalam dadaku,
Aku membiarkannya masuk menembus sukmaku,
Membiarkannya menembus labirin rongga hatiku,
Membiarkannya memenuhi ruang sepi dalam jantungku,
Ijinkan aku mencintainya, walau kutau dia masih milikmu,
Ijinkan aku juga, untuk mencintaimu sebagai saudariku…


Puri Anjasmoro Semarang, 4 – 5 November 2006


------the end-----


Foot note :

Ah, akhirnya selesai juga postingan cerpannya, buatnya hanya 2 hari, tapi postingnya sampai 2 minggu lebih :)), thanks utk teman-teman semua atas komentarnya ( i really appreciate that ! ) dan untuk kesediaan waktunya dalam membaca karya perdana saya.

Terimakasih juga saya ucapkan kepada Allah SWT, yang memberikan hadiah kepada saya ( yaitu tiba-tiba aja bisa menulis ), my beloved father ( my first fans *halah* ) atas supportnya bagi saya untuk terus menulis, my beloved mom and my little pretty angel untuk pengertiannya yang mendalam selama 2 hari saya dibiarkan untuk menulis, B.E.S ( my ex boyfriend ) atas referensi tempat-tempat indahnya, untuk wikipedia dan google atas poto2nya, dan untuk seseorang ( abi ) :"> , yang saya pakai fisiknya untuk sosok Nata, Mas Pepih Nugraha, orang yang saya kagumi yang bersedia mereview cerpan ini dan buat saya semangat untuk terus menulis, Dek Nawir, adek angkat saya yang selalu merespon setiap chapternya walau sering telat bacanya *hahaha*, dan untuk Aa' Purwa, untuk kritikan atas bahasa-bahasa yang saya pakai dalam cerpan.




Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:10 PM ¤ Permalink ¤ 13 comments
Sunday, November 26, 2006
Mystery Of Love ( XVII )
Angel membukakan pintu untukku, dan ah…Nisa langsung memelukku,”Tante…Mama udah cerita ke Nisa, dari kemarin Papa selalu panggil nama tante terus.”Aku pun memeluk Nisa dan mengusap-usap rambutnya, aku lihat di sofa, si kecil Lia memandangku heran, dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi.
“Nisa, Lia, ikut Mama ke kantin yuk, kalian belum makan pagi kan?” Angel, menengok ke arahku dan menganggukkan kepalanya.
Nisa melonggarkan pelukannya terhadapku,”Tolong Papa tante.” Bisiknya pelan.
Kemudian Angel menggandeng kedua putrinya keluar, dan meninggalkan aku berdua dengan Mas Nata.
Aku melihat sosok tubuh yang berada di tempat tidur, wajahmu terlihat pucat, pipi yang dulu sering bersemu merah, sekarang tidak lagi bersinar…semuanya pucat. Aku membelai dan mengenggam tanganmu.
Kubisikkan kata-kata di samping telingamu,”Cinta,…aku datang.”
Tidak ada reaksi dari kamu..kuucapkan dengan nada lebih keras,”Cinta, aku sudah datang, disampingmu…Cinta…” Aku berupaya keras menahan air mataku yang sudah akan meleleh.
Aku pun lalu mencium kening dan bibirmu, tetap tidak ada reaksi dari kamu.
Aku menarik kursi kosong ke sebelah tempat tidurmu, aku duduk di sana dan terus memegang tanganmu, kuciumi tanganmu dengan penuh kasih…betapa aku sangat mencintaimu…
Aku ceritakan lagi kisah-kisah pertemuan kita yang semula aku kira hanyalah suatu kebetulan, tapi ternyata sudah kamu rencanakan. Aku ceritakan juga kenangan tentang obrolan kita yang menggelitik…aku tertawa, tapi kamu tetap tak bergeming Cinta.
Ya Allah, sembuhkanlah dia, sembuhkanlah dia….sadarkanlah dia…ijinkanlah dia melihatku sekali lagi…
Air mataku bercucuran, aku terus melantunkan Surat Al Fatihah dan dzikir berulang-ulang untuk kesembuhanmu…
Hatiku sangat sakit melihat keadaan orang yang sangat kucintai menjadi tiada berdaya. “Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi Cinta…aku akan terus bersamamu, melayanimu…sudah cukup pengorbananmu atas aku, dan sudah waktunya lah bagiku untuk berkorban untukmu.” Aku pun mencium keningmu, dan sesaat kulihat air mata mengalir dari sudut mata kananmu,”Cinta, apakah kau mendengarku?” ,aku melanjutkan kata-kataku lirih “Kalau Angel mengijinkan, aku akan menikah denganmu Cinta” aku pun mengusap pipimu pelan.
Dan perlahan-lahan kelopak matamu mulai bergerak dan sedikit demi sedikit terbuka, aku menangkupkan kedua tanganku ke mulutku dan mengucapkan tahmid berulang-ulang….bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka, dan Angel masuk dengan Nisa dan Lia…
Aku memandang takjub kepada apa yang kulihat dan kusampaikan kepada Angel,”Alhamdulillah….Mbak, Mas Nata sudah sadar.” Angel pun segera menuju samping kiri tempat tidurmu bersama Nisa dan Lia.
Kamu membuka matamu sedikit demi sedikit, mengerjap pelan dan lemah…Angel pun menangis bahagia…Nisa juga, dia terus memanggil Papanya.
Aku perlahan-lahan mundur menjauh, namun suaramu mencegatku,”Hun….”, aku mendekat kembali, air mataku kini berlinangan, aku menatap wajahmu, kemudian kamu meraih tanganku, dan meraih tangan Angel. “Aku mencintai dan menyayangi kalian berdua…, dan anak-anakku, Nisa dan Lia.”
Aku menatap mata Angel yang juga telah basah dengan air mata, kemudian aku menatap matamu. Berbagai perasaan berkecamuk di dadaku…Tiba-tiba Angel berkata,”Pa, aku ikhlas kalau kamu ingin menikahi Ara, dia wanita yang baik...Dia akan aku anggap sebagai adikku sendiri.”
Aku menatap Angel, dan terisak,….Kudengar suaramu berkata,”Ma, maafkan aku…”
“Pa, aku sudah mengetahui semuanya dari data di XDA mu, betapa dia sangat berarti dalam hidupmu, cinta kalian begitu dalam.” Angel melihatku dan kamu bergantian. Angel tersenyum tulus kepadaku.
“Ara…aku memintamu untuk menjadi istri bagi suamiku, kamu bersedia kan ?” Angel memegang lenganku.
Aku memandang kamu dan Angel bergantian, kamu pun menganggukkan kepalamu lemah, aku menatap Angel dan berkata,”Insya Allah Mbak.”
“Alhamdulillah…” Angel tersenyum melihatku dan kamu.
Aku melihat ke arah Nisa dan dia berlari ke arahku dan memelukku,”Aku juga ingin Tante menjadi Mamaku.”
Aku memeluk Nisa dan meraih Lia juga untuk aku peluk. Ah, betapa aku sudah mulai mencintai kedua anak ini…aku ciumi pipi mereka dan kening mereka bergantian, kulihat mereka berdua tertawa senang.
Kemudian, aku menghampiri Angel dan memeluknya, dia mencium pipiku, dan menghapus sisa air mata yang tadi meleleh di pipiku.
Lalu aku melihatmu, kamu merentangkan tangan ingin memeluk kami berdua.
Kami pun membungkukkan badan dan memelukmu dari sisi yang berlawanan, kamu mengecup kening kami berdua bergantian ,”Terimakasih Ma…” ucapmu lirih kepada Angel.
“Oh, aku akan memanggil perawat dulu untuk melihat keadaanmu ya Cin..” aku melihat ke Angel untuk meminta persetujuan dan dia mengangguk.

Aku pun berjalan keluar kamar, dan kembali menangis di koridor rumah sakit…tapi tangisanku adalah tangisan bahagia.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 6:25 PM ¤ Permalink ¤ 6 comments
Friday, November 24, 2006
Bidadari Kecil




Pernahkah kau melihat bidadari ?
Ya...aku pernah !
Setiap hari...bahkan kapan saja...
Bidadari kecil yang keluar dari rahimku...
Bidadari tanpa sayap di punggungnya...
Cantik...cantiknya bidadariku...
Rambut halus yang membingkai wajahnya,
Mata bulat yang mengerjap indah dengan barisan bulu mata jatuhnya,
Bibir mungil yang ketika merekah menebarkan aroma susu dan biskuit,
Hidung bangir yang lucu dan senyum tulus yang memamerkan lesung pipitnya,
Bidadariku, yang biasa kuhujani dengan ratusan ciuman dan pelukanku setiap harinya...
Walau tanpa sayap kecil di punggungnya, aku yakin...dia adalah seorang bidadari...
Yang dititipkan Sang Khalik untuk menemani dan menyayangiku...selamanya...

Semarang, 23 November 2006

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 5:28 PM ¤ Permalink ¤ 7 comments
Mystery Of Love ( XVI )
Aku memandang XDA yang terbungkus sarung kulit berwarna hitam itu. Aku meraih XDA itu, memandangnya dan kemudian memencet salah satu tombolnya untuk menghidupkan backlightnya, foto Nisa dan Lia yang menjadi wallpapernya. Hatiku tersayat ketika mengingat kembali obrolan aku dan kamu di café Tivoli, “Aku kangen anak-anakku..” ohh, tak menyangka saat ini kamu sedang bertaruh nyawa di kamar atas. Aku cari program Diary di XDAmu.
Aku teringat, kamu sering menertawakan aku karena melihat aku yang selalu rajin menulis catatan singkat mengenai kegiatanku hari itu,”Seperti anak abege saja kamu Hun...duh…fakta banget kalau kamu ternyata emang masih remaja kali ya, tas cangklong bulukmu, belum lagi hobi nulis diary di HP.”
“Ugh, sini aku installin juga deh, biar kamu nulis juga, sini XDA mu..”Aku pun berusaha mengambil XDA yang ada di saku kemejamu.
“Tidak ah, makasih, rasanya aku gak perlu aplikasi seperti itu.” Katamu sambil menutupi sakumu.
Air mata mulai terasa menggenang di pelupuk mataku, ketika kenangan denganmu sekilas melintas.
Ah ini dia….aku buka aplikasi tersebut, wah, banyak sekali…Tetapi hanya beberapa yang Angel sudah ditandai. Hatiku berdebar ketika aku mulai membacanya.

New York, Summer 2002
Hari ini aku melihatnya lagi, kami kembali satu lift, senyum ceria tidak pernah hilang dari mukanya, walau pun senyum itu bukan buatku. Aku bertanya kepada John siapa dia, namanya Prahara Samudra, lulusan UCLA tapi berasal dari Indonesia. Oke hari ini aku mendapatkan namanya. Dan kebetulan teman seangkatanku John yang menjadi atasannya. Aku rasa, ku telah jatuh cinta kepada Prahara.

Hongkong, Winter 2003

Tiba-tiba hari ini aku teringat padanya, gadis yang sering kutemui di lift kantor pusat New York, entah mengapa aku sudah merasakan rindu kepadanya, padahal dia belum mengenalku, aku pun nekat mengontak John, untuk mencari tau keberadaannya. Dari John aku dapat kabar, kalau gadis itu akan meliput di Trafalgar Square, London. Aku langsung memesan penerbangan pertama ke London.

London, Winter 2003
Aku sangat bahagia, penantianku selama 5 jam di Trafalgar Square tidak sia-sia, kami pun bisa berkenalan, dan aku memanggilnya Ara. Tapi apa aku yang ke geer an yah, karena sejenak aku melihat raut mukanya rada kecewa ketika mengetahui aku sudah menikah dan mempunyai anak, ah entahlah…

Copenhagen, akhir Summer 2004
Apakah ini pertanda dari Tuhan, entahlah, tapi ternyata kita berjumpa lagi, dan kali ini benar-benar suatu kebetulan. Ketika aku sedang mendengarkan alunan biola di Tivoli, mataku menangkap bayangmu, dan hampir saja aku tak mengenalimu Ara, dan ketika kamu berjalan di belakangku, aku pun menyapamu, oh..syukurlah kamu masih ingat kepadaku. Kita pun mengobrol di café, dan tanpa bisa kutahan, spontan aku mengajakmu suatu saat mengunjungi Malostranské Bridge di Prague berdua. Ah… tak bisa kulukiskan perasaanku malam itu Ara, aku bahagia sekali.

Tokyo, 2004
Ah suntuk dengan pekerjaanku, aku teringat kepadamu Ara. Aku pun menelpon John untuk menanyakan kamu sedang ada di mana. John sudah mulai curiga, tapi sikap kebaratannya yang tidak mau ambil pusing urusan orang, telah menyelamatkanku. “Ara sedang di Barcelona, hunting foto di Pueblo Español, mungkin sampai akhir minggu dia di sana.”
Aku pun menyelesaikan pekerjaanku malam itu juga dan dengan pesawat paling pagi aku berangkat ke Barcelona.

Barcelona, akhir Winter 2004
Setelah menyusuri jalan-jalan sempit di Pueblo Español, akhirnya aku bertemu denganmu Ara. Ah, kamu tampak cute sekali dengan cardigan berwarna coklat khaki dan rok sebatas lutut berwarna hitam, kamu juga memakai sepatu boot sepanjang betis. Kamu asyik sekali dengan kameramu, sehingga tidak menyadari aku yang sudah berdiri 10 menit di belakangmu.
Ara, hampir saja aku menciummu, ketika aku memasangkan syalku di lehermu, tapi sepertinya kau menghindar. Dan kekecewaanku terobati ketika kamu mau berjalan-jalan denganku menyusuri gang-gang sempit di Pueblo Español sore itu, aku mulai berani menggandeng tanganmu. Ah Ara…aku sudah jatuh cinta kepadamu semenjak di lift itu.

Aku mengusap air mataku yang menetes….ah Cinta, ternyata engkau duluan yang telah jatuh cinta kepadaku, bahkan sebelum aku menyadarinya.

Paris, awal Summer 2005
Aku mendapatkan kabar dari John, bahwa kamu hari ini sedang berada di Museum Louvre, suatu kebetulan, sudah seminggu ini aku berada di Paris, melakukan negosiasi dengan perusahaan pariwisata terbesar di Paris. Tanpa berfikir panjang, aku cancel jadwalku meeting dengan mereka, dengan alasan kelelahan, dan aku langsung menyusulmu ke Louvre.
Aku tidak sengaja melihatmu sedang adu mulut dengan penjaga ruang tempat lukisan Monalisa. Dengan bahasa Perancis bercampur Inggris, kamu kelihatannya sedikit putus asa menjelaskan ke penjaga tersebut, kalau kamu mempunyai izin untuk mengambil gambar. Namun, akhirnya kamu menyerah dan keluar dari Louvre, aku pun mengikutimu. Tidak tahan melihat kekecewaanmu, aku pun mengirim e mail kepadamu. Dan benar saja, senyum ceria langsung mengembang di mukamu. Hari itu juga aku mengajakku bertemu lagi di Marseilles, dan tempat yang aku fikirkan adalah Basilique Notre Dame de La Garde.

Marseilles, Awal Summer 2005
Basilique Notre Dame de La Garde, tempat kita bertemu sore ini, ahh dadaku berdegup kencang ketika berada di dalam taksi. Aku akan bertemu denganmu. Kemudian mataku menatap kepada seorang anak kecil penjual bunga di pinggir jalan, aku minta tolong kepada supir taksi untuk menghentikan taksinya sebentar. Aku panggil anak itu, dia menjual sekeranjang bunga lili berwarna putih. Aku teringat Nisa , kira-kira dia berumur sama dengan anak kecil tersebut. Aku pun membeli setangkai lili putih,”Terimakasih Tuan, semoga mendatangkan keajaiban untuk Tuan.” Aku pun tersenyum mendengarnya, aku suruh dia menyimpan kembaliannya.
Ah sore itu, aku menyatakan isi hatiku kepadamu, aku bahagia karena kamu merasakan hal yang sama. Terimakasih atas cinta yang telah kamu berikan Hun…

Air mataku kembali meleleh….aku terisak, dan kemudian melanjutkan bacaku.

Athens, Fall 2005

Setelah dalam rangkaian pekerjaan di Perancis, aku sempatkan mampir ke Athens, sekalian ini kunjungan pertamaku ke Athens…sewaktu melihat reruntuhan kuil di Akropolis, aku mengirimmu e mail, dan ternyata kamu ada di Roma. Ah, betapa dekatnya jarak kita sebenarnya Hun. Rindunya aku kepadamu, aku pun menelpon John untuk menanyakan jadwalmu selanjutnya, aku ingin memberikan kejutan untukmu Hun. Dan ternyata 2 hari lagi kamu harus hunting ke Viena.
Langsung saja aku mengirimmu e mail dan mengajakmu janjian ke Viena, tentu saja aku tebak kamu akan makin penasaran denganku….I love u Hun…

Viena, Fall 2005
Ah, rasanya aku telah melukai hatimu…setelah aku mengungkapkan alasanku, bahwa aku harus pulang ke Jakarta. Walaupun kamu sungguh pengertian, tapi aku sadar, bahwa di Altes Rathaus tadi, aku sudah melukai hatimu…tidak dapat kumaafkan diriku ini…tidak dapat !

Jakarta, November 2005
Aku menelponmu jam 2 pagi…ah ketika mendengar suaramu, ingin rasanya memelukmu erat Hun, aku kangen….Mudah-mudahan aku memimpikanmu.

Tokyo, Spring 2006
Ah aku ingin bertemu denganmu, aku lalu menelpon John, dan aku pun berterus terang kepadanya mengenaimu, dan dia tertawa keras sekali, sialan…, dia membuat mukaku merah padam. Aku pun ingin agar dia mengatur perjumpaan kita di Prague, kata John, seharusnya jadwalmu ke Prague masih beberapa minggu lagi. Tapi tetap saja aku memaksa John untuk bisa menjadwal ulang schedulemu Hun…

Prague, Awal Summer 2006
Aku mengajakmu bertemu di Malostranské Bridge, dan hari itu pertama kali aku berani mencium bibirmu dan pertama kali pula aku mendengarmu menyanyi untukku.
Suaramu begitu halus Hun, cinta sekali aku denganmu !
Hun, aku punya kejutan untukmu di New York, kamu akan tau siapa sebenarnya aku…

New York, Summer 2006
Aku melihat matamu yang terkejut ketika menatapku di ruangan Matt, dan nada suaramu yang bergetar sewaktu mempresentasikan proyekmu yang akan datang di Asia.
Hun, kamu benar-benar berhasil mempresentasikan proyekmu dengan baik, semuanya sangat meyakinkan, aku bangga sekali denganmu.
Aku juga lega ketika mengetahui tidak ada yang berubah dalam sikapmu setelah mengetahui aku siapa.

Tokyo, Summer 2006

Hun, aku bahagia saat menemani kamu seharian di Ginza.
Kau milikku hun, dan aku milikmu…
Entah kenapa malam ini, aku menyuruh sekretarisku Nauko membawakan katalog perhiasan…ah aku ingin membelikanmu cincin Hun, sebagai pengikat, aku ingin bertunangan denganmu…dan kemudian meminta ijin Angel untuk menikahimu, ah semakin tak karuan saja rasanya hati ini….

Hongkong, 2006
Kau menolak bertunangan denganku hun…
Malam ini aku habiskan dengan berdiam diri di kamar.

Aku semakin terisak…itu catatan terakhir dari Mas Nata yang sudah ditandai Angel.
Aku menghapus air mataku, berdiri dan melangkah. Menuju ke kamar atas tempat Mas Nata koma.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:00 AM ¤ Permalink ¤ 5 comments
Thursday, November 23, 2006
Mystery Of Love ( XV )
RS. Bintaro International, Jakarta. Hatiku sudah berdegup kencang ketika turun dari taksi. Angel sudah menawarkan agar aku mau dijemput supir di airport. Tapi aku mengatakan, aku bisa langsung ke RS sendiri.
Aku bertemu Angel di lobby RS, wanita yang sangat anggun dan cantik, dari raut wajahnya kira-kira dia berumur sama denganmu.
Agh, tiba-tiba rasa tak enak menyergapku, matanya memerah, mungkin karena kebanyakan menangis atau kurang tidur aku tak tau, tapi yang jelas muka kami sama-sama pucat karena kelelahan. Angel kemudian mengajakku ke salah satu ruangan kosong, seperti ruang meeting.
“Saya meminjam ruangan ini, agar kita bisa berbicara terlebih dahulu Ara.” Dia mempersilahkan aku duduk.
“Bagaimana keadaan Mas Nata...” Aku duduk di tempat yang dia persilahkan.
Angel pun duduk di sampingku, “Masih koma, sudah 4 hari.” Dia menatapku, kemudian sambil berkaca-kaca, dia menyerahkan XDAmu kepadaku.
Aku menatapnya tak mengerti,”Apa ini Mbak?”
Dia menarik napas panjang, dan berkata,”Di sana tersimpan semua tentang kamu, e mail-e mail dia ke kamu, dan e mail kamu ke dia, catatan pribadi Nata, dan beberapa fotomu dan dia.”
“Mbak…untuk apa ? apa saya harus membacanya ?” tanyaku semakin tak mengerti.
“Ara, 5 hari yang lalu, Nata mengajakku bicara, dia…dia ada niat untuk menikahimu, dia bersimpuh di hadapanku, meminta agar dia bisa menikahimu, aku tentu saja tidak bisa menerimanya…aku marah besar waktu itu, aku sangat emosi, aku merasa harga diriku sebagai wanita sudah dinjak-injak oleh dia, aku tau, aku mungkin terlalu sibuk dengan urusan bisnisku, sehingga aku sering sekali melupakan dia, tapi Ara, aku masih sangat mencintainya..( Suara Angel tercekat, menahan tangis )…Tapi aku harus mengerti, karena kesalahanku juga, dia bisa jatuh cinta kepadamu.” Angel meremas sapu tangan yang ada di tangannya, aku tahu dia berusaha tabah, berusaha menahan air matanya, aku pun mengambil tangan kirinya dan mengenggamnya, “Saat itu pula, aku…aku mengusir dia, di depan anak-anak kami, Oh Ya Allah…apa yang telah aku lakukan…Astaghfirullaah” Angel pun menangis tersedu-sedu, “Aku menyesal Ara…aku menyesal, tidak seharusnya aku melakukan itu, kepada suamiku sendiri, padahal malam itu sedang hujan deras, dan Nata, dia sama sekali tidak berusaha melawanku dan membela dirinya, dia hanya diam, dia tidak membawa apa-apa dari rumah kami, dan hanya menciumi anak-anak, dia juga berusaha meminta maaf kepadaku, tapi aku sudah sangat histeris malam itu, dan aku tetap mengusirnya pergi, huu huu !” Aku pun memeluk Angel, dan ikut terisak di pelukannya, aku bayangkan apa yang ada di hati kamu, apa yang ada di hati Angel, dan di hati anak-anakmu saat itu. Ah..aku merasa sangat bersalah.
“Dan akhirnya di malam hujan deras itu, Nata pun pergi dengan membawa mobil sedan, padahal supir kami sorenya sudah bilang kepadaku, kalau mobil tersebut remnya sudah tidak makan, dan perlu diservis, tapi aku lupa…aku tidak kepikiran sama sekali…huu huu.” Aku mempererat pelukanku dan mengusap-usap punggung Angel.
“Benar saja, selang 2 jam kemudian, kami mendapatkan telepon kalau Nata kecelakaan, remnya blong dan dia menabrak pembatas jalan tol…untung saja mobil itu dilengkapi standar pengamanan yang cukup baik, tapi, tetap saja…..Nata koma. XDA ini yang selamat dari kecelakaan, karena tertinggal di meja ruang tamu,” Angel melepaskan pelukannya, aku mengusap air matanya,dan memandang ke meja tempat XDA itu berada.
“Jangan menyalahkan dirimu Ara, kamu tidak salah…semua sudah merupakan rencana Tuhan. Akhirnya kita dapat bertemu, aku bisa mengenalmu, semua sudah rencana dariNya. Bacalah catatan pribadi Nata… Ara, aku sudah tandai, yang menurutku kamu harus baca. Kalau sudah selesai aku menunggumu di atas yah.” Angel berdiri dan memelukku sebentar,”Terimakasih sudah mau datang Ara..”
Aku tersenyum padanya, dan duduk kembali…terdengar suara pintu ditutup dari luar.

Hatiku merasa sedih, aku merasa sendiri.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:20 AM ¤ Permalink ¤ 6 comments
Wednesday, November 22, 2006
Mystery Of Love ( XIV )
Sudah sebulan semenjak kejadian di HK. Aku kembali ke kantorku di New York, menjumpai atasan langsungku Mr. John. Dia memberi kesempatan cuti kepadaku, setelah ia melihat ada yang lain dengan laporan-laporan yang aku buat. Sebetulnya dia ingin menegurku, hanya saja setelah melihat mataku yang sembab dan mukaku yang kuyu, dia segan bertanya macam-macam kepadaku.
“Ara, I think that you need a vacation. Meet ur family or your best friend, so you can talk with them.” Dia berkata sambil mengeryit membaca laporanku.
And I hope you can back to work with a fresh brain and heart, how do you think?” dia tersenyum kepadaku.
Thanks sir…I need just a week. I am going to Singapore and maybe if I have time, I am going to Indonesia.” Kataku sambil tersenyum kepadanya, lidahku kelu sekali, ingin rasanya cepat keluar dari ruangan itu.

Malamnya setelah Mr. John menyuruhku mengambil cuti, aku menelpon Hp Laila, saat ini dia bersama suaminya Haikal, mengelola cottage milik keluarga Haikal di Sentausa Island.

Terdengar nada sambung…
Laila : Haloo…good morning
Aku : ( menangis ) hiks…
Laila : Ara ? Ada apa sayang?
Aku : ( terisak ) Bagaimana kamu bisa tahu aku yang menelponmu…
Laila : Itulah best friend Ara..so…kamu mau aku ke sana, atau kamu yang ke sini ?
Aku : ( masih terisak ) Haikal tidak apa-apa kalau aku kesana ?
Laila : Hahaha, dia akan kucerai kalau tidak memperbolehkan sahabat kesayanganku ke sini. Akan aku siapkan kamar yang paling bagus untukmu sayang.
Aku : ( tersenyum ) Terimakasih Laila….
Laila : Kabari aku ya, kapan mau datang…akan aku jemput ke airport.
Aku : Tidak perlu Laila, aku bisa sendiri ke Sentausa Island.

Di Sentausa Island, Singapura.

Laila, sahabatku yang berdarah Melayu – India membawakan aku segelas fruit punch,”Ara, baru kali ni aku mencoba buat fruit punch, please try it!” dia menyodorkan segelas dingin fruit punch kepadaku.
Aku meminumnya seteguk,”Hm…its so delicious…Thanks Laila”, “Ara, kamu nak snorkling today? Mumpung tak panas udaranya.” Dia memandangku sambil mengulas senyum.
Aku berteman dengan Laila sudah 10 tahun lamanya, semasa aku masih sekolah di Singapura, Laila adalah roommate ku. Kemudian kami berpisah sewaktu kuliah, dia tetap kuliah di Singapura, sedangkan aku mendapatkan beasiswa di UCLA. Tapi hubungan pertemanan kami tidak pernah putus, kadangkala aku yang mengunjunginya di Singapura atau dia yang aku undang ke tempatku saat aku bertugas. Dia pernah mengunjungiku sewaktu aku bertugas di Milan, Italy. “Aku bisa sambil shopping nih Ara, lagi musim saldi ( sale ) semuanya, kan mau masuk musim panas…hehehe”
Perempuan, selalu saja shopping yang jadi tujuan utamanya kalau liburan.

“Masih melamun? Jadi tak kita snorkling?” Laila mencondongkan badannya ke arahku, “Ah pucatnya mukamu Ara..macam tak pernah kena matahari saja kau ini.”
Aku memandangnya, tersenyum, terpaan angin yang sepoi-sepoi membuatku tergoda memikirkan tawaran Laila tadi.
“Sudah 4 hari kamu disini, kerjaanmu hanya membaca novel di kamar, mendengarkan IPOD, mengedit foto-fotomu, ngobrol denganku di kamar…alamaaak….Ara..Ara, buat apa kamu jauh-jauh ke sini kalau hanya di kamar.” Laila terus menyerocos.
“Ya untuk ketemu kamu dong, lumayan aku sudah tidak menangis lagi kalau malam.” Aku tersenyum kepadanya dan menyeruput fruit punch.
“Kenangan itu jangan di lupakan, tapi jadikan itu pengalaman berharga…Percayalah Sayang, jodoh tak akan lari kemana.” Laila berkata serius kepadaku, tapi malah membuatku tertawa dan menepuk pundaknya.”Ayo kita snorkling…”, tiba-tiba saja Hpku memekik pelan. Dan yang tau nomerku cuman…apakah kamu ?
“Sebentar Laila.” Aku berbalik arah menuju meja tempat Hpku berada. Laila mengikuti arahku dengan matanya.
Aku membukanya…tiba-tiba saja dadaku terasa sangat berdebar.

Maaf Ara, saya Angel, istrinya Nata. Saya sudah tau semua tentang kalian, tentang hubungan kalian. Ara, saya mohon, bisakah kamu datang ke Jakarta ? RS. Bintaro International, saat ini Nata sedang mempertaruhkan nyawanya, dia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia koma…sewaktu dia menggigau..yang kami dengar hanyalah namamu. Datanglah Ara…Saya dan anak-anak mohon kepadamu.

Tanganku bergetar ketika membaca e mail dari Angel.
Oh, kekasihku, apa yang telah terjadi pada dirimu, aku pun terjatuh lemas, untung saja Laila menangkapku dari belakang. Didudukkannya aku di sofa kamar. Aku menyodorkan Hpku kepada Laila, dia pun membacanya dan memelukku,”Tabah ya Sayang, aku akan memesankan tiket ke Jakarta, penerbangan sore ini.”, “Tunggu Laila…aku belum bisa memutuskan aku akan datang atau tidak..” aku masih terisak dalam tangisku.
“Sayang, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup kamu kalau tidak datang.” Laila berdiri di depan pintu kamarku.
Kami terdiam beberapa saat…..aku memandang Laila dan berkata,”Baiklah, pesankan satu tiket untukku Laila.”
“Kamu bisa tanpa kutemani Ara? Ijinkanlah aku menemanimu Ara, kamu masih belum stabil gitu..” Laila menatapku seakan meminta persetujuanku.
Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum,”Tidak Laila, aku akan ke sana sendiri.”

Semoga aku belum terlambat…

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:15 AM ¤ Permalink ¤ 8 comments
Tuesday, November 21, 2006
Oh my Godness 2

Mungkin aku sudah gila...
Menyatakan kalau aku kangen...
Langsung kepadamu...
Keberanian apakah ini...
Mengapa aku nekat hanya denganmu...
Tapi aku hanya ingin jujur kepada perasaanku...
Walau akhirnya aku kecewa...
Dan semuanya berakhir...
Perasaan sementarakah ini ?
Dari pertemuan sesaat yang membuatku rindu...

*aku yang pernah menjadi tsunamimu*

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:38 AM ¤ Permalink ¤ 15 comments
Monday, November 20, 2006
Oh my Godness 1

Melihatmu dengan tiga mataku,
Dua mata di wajahku dan satu mata di hatiku,
Kamu sesuai dengan imajinasiku,
Ah…saat itu, betapa dekatnya kamu denganku,
Seolah tidak berjarak dalam kenyataan,
Dalam diam dan bahagia, aku melihatmu,
Menghitung berapa kata yang terucap dari bibirmu,
Mengamati sosokmu dari samping, belakang, depan,
Ku sentuh tanganmu sembari menahan gemuruh di dada,
Taukah…gemuruh itu, kamu yang menimbulkannya,
Entahlah…entahlah…entahlah…
Apa yang terjadi denganku,
Yang telah terperangkap pesonamu,
Lalu aku berusaha mencari jawabannya di dalam matamu,
Mencoba mengartikan sejuta perasaanmu,
Tapi aku belum mampu, karena belum cukup waktu…
Sejenak kita berpandangan..sengaja atau tidak ( tapi selalu kusengaja )
Ku mulai menghitung, berapa detik, karena belum juga ke menit,
Sampai senyum terkembang di wajahmu…
Kuyakin itu untukku, karena hanya ada aku di depanmu,
Aku berusaha menahan semburan kata-kata yang akan keluar dari hatiku,
Taukah kamu ? semua hanya bisa aku curahkan lewat tatapanku…
Kamu menarik…membuat aku tertarik…
Kamu menawan…membuat aku tertawan…
Kamu mempesona…membuat aku terpesona…
Malam ini aku ingin memimpikanmu…menari-nari dalam jeratanmu…
Ketika menyusun barisan kata-kata bermakna untuk dirimu ini,
Namamu selalu bergetar dalam hatiku,
Berteriak bergantian dalam relung kalbuku,
Pertemuan sesaat yang pasti akan membuatku rindu,
Pada pria…yang memanggilku Cantik…
Tapi aku tak yakin…apa akhirnya perasaanmu sama denganku,
Jujur…aku suka kamu…aku suka kamu…
Ah…Kututup mata dan kemudian mengkhayalkan kamu,
Sampai aku tertidur…

*andai waktu berputar kembali dan berhenti sewaktu kita bertatapan*

ach, semoga kau tak membacanya :">

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:10 AM ¤ Permalink ¤ 14 comments
Mystery Of Love ( XIII )
Mau dinner di mana sih ?

Message sent.

Tak lama, Hpku memekik pelan.

Dragon Boat Restaurant…..aku dah di depan kamarmu nih.

Aku mematut diriku lagi…ah lumayan deh, senyum sekali lagi, muter-muter sekali lagi. Tiba-tiba Hpku memekik lagi.

Cantik..cantik Hun…kalau pun kamu keluar dalam bentuk nenek-nenek aku tetap cinta kamu.

Aku pun menyeringai malu dan berjalan ke arah pintu. Dan membukanya.
Kulihat kamu nyengir di depanku,”Bener kan? Tadi itu kamu lagi ngaca.”
Aku hanya menanggapimu dengan senyuman. Kamu memberikan pelukan erat kepadaku, mencium keningku dengan penuh rasa sayang dan mencium bibirku sekilas.
“Hei, lipstikku menempel tuh di bibir kamu.” Ujarku sambil membersihkan bibirmu dengan jari telunjukku. Kamu pun cuma tersenyum, aku tau kamu menikmati sentuhan jariku.
Dragon Boat Restaurant adalah restoran yang terkenal di Hongkong, tidak hanya di Asia, tapi juga seluruh dunia. Banyak turis yang bilang, kalau belum makan di Dragon Boat Restaurant, belum ke Hongkong namanya.
“Aku memesan tempat di sudut ruangan yang agak privasi, malas saja kalau nanti aku bertemu dengan klien di sana, klienku yang dari Hongkong terkenal dengan keramahan dan rasa persaudaraannya Hun, jangan-jangan nanti kita disuruh gabung makan sama mereka barengan, padahal kita kan mau melepas rindu berdua saja, hehehe.” Kamu menarik bangku tempatku akan duduk dan mempersilahkan aku duduk. Kemudian, kamu pun duduk di depanku. Setelah memesan makanan, kita pun menunggu dalam diam, hanya mata yang saling berpandangan.
“Mata berbicara banyak yah.” kataku, merasa jengah dengan pandanganmu yang seakan menusukku.
Kamu tersenyum kepadaku,”Di dalam mata, kamu akan melihat suatu kejujuran Hun,…”
Aku teringat akan sesuatu, aku ambil bungkusan yang sudah kubungkus rapi dengan plastik hias transparan dan berpita,”Ini untukmu Cinta, gajah-gajah dari Thailand.”
Kamu tersenyum, meraih bungkusan tersebut, membukanya dan berkata,” So nice hun…I love it, thanks a lot.”
Kamu memberiku kode untuk melihat ke pemandangan malam kota Hongkong dari arah restoran, aku pun mengikuti kodemu dan melihat,”Banyak permata-permata di sana Hun, jamrud…giok…safir…mirah…berlian, tapi kamu permata yang paling bercahaya di sini.” Aku melihat ke arah lampu-lampu kota Hongkong yang berwarna-warni. Sekilas aku bayangkan lampu-lampu tersebut laksana batu-batuan permata seperti yang kamu sebutkan. Aku pun kembali mengalihkan pandanganku ke arahmu, sekilas aku melihat kamu mengambil sesuatu dari saku kemejamu. Saat itu juga lagu Moon River dari Andy Williams mengudara di ruangan tempat aku dan kamu duduk. Suasana yang semula hiruk pikuk menjadi syahdu. Bergantian aku menatapmu dan kotak kecil yang berada di genggamanmu.
“Ada apa ini Cinta?” aku menatapmu tak mengerti.
“Hun...” sebelum kamu melanjutkan kata-katanya, aku langsung menukas,”Aku tak bisa Cinta, kamu masih punya istri.”
“Minimal kita tunangan, dan cincin ini sebagai tanda pengikat dariku.” Matamu menatapku. Dan dia lanjutkan lagi kata-katamu. “Aku akan berbicara kepada istriku Hun, aku akan berterus terang kalau aku jatuh cinta kepada dirimu, dan akan menikahimu.” Kamu berkata mantap.
“Kamu sudah gila apa? Kamu akan menyakiti perasaannya sekaligus anak-anak kamu.” Cetusku pelan, aku memberanikan diri menatap matamu, mata yang indah, yang selalu mejadi impianku untuk selalu dipandangmu, agh…
“Aku juga tak bisa kehilanganmu Hun,…
apalagi melepasmu, aku tak bisa…kamu bagai pemuas dahagaku di kala kehausan, kamu melengkapi hidupku Hun, memberikan warna cinta dalam hidupku yang kosong.” Ada getar dalam nada suaramu.
“Kamu bisa mendapatkan makna cinta yang sesungguhnya dari anak-anakmu, dan cintailah istrimu lagi, berilah kesempatan bagi dia untuk mencintaimu lagi, maaf, aku harus pergi Cin…maaf aku tak bisa menerima semuanya ini.” Aku berdiri dan kemudian berlari keluar restoran, oh..kutahan air mataku yang hendak tumpah, aku menolak kesungguhan dan keseriusan dari Mas Nata, laki-laki yang sangat kucintai dan kusayangi, semua ucapanku tadi sangat bertolak belakang dengan apa yang aku inginkan.
Hanya satu saja yang bisa membuatku berkata seperti itu…Nisa dan Lia, anak-anak Mas Nata. Mereka sangat mencintai papanya, dan aku tidak ingin mereka bisa berubah membenci papanya kalau Mas Nata menikah lagi denganku. Memikirkan hal itu saja aku sudah tidak sanggup.
Semalaman aku tidak menerima e mail dari kamu…agh…mungkin kamu sudah membenciku. Hancurnya hatiku , aku menangis pilu meratapi semuanya, bercampurnya rasa penyesalan, aku sendiri yang sering bilang kepadamu untuk mengikuti kata hatimu, tapi aku sendiri pula yang mematahkan keinginanmu untuk mengikuti kata hatimu dengan ingin bertunangan denganku.

Malam itu kuhabiskan dengan membiarkan hatiku merintih sendu…

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:02 AM ¤ Permalink ¤ 4 comments
Saturday, November 18, 2006
Mystery of Love ( XII )
Dari Sukhumvit, Bangkok, aku menikmati jalan-jalanku di daerah pusat kota Bangkok itu. Dengan ditemani alunan suara merdunya Celine Dion dari IPODku. Padatnya daerah itu membuatku memilih busana casual hari ini. Celana camel selutut berkantong banyak, kaos oblong putih bertuliskan Hard Rock Café Milano, kaos kaki pendek dan sepatu kanvas berwarna crème, tak lupa aku membawa tas cangklong kesayanganku, sudah rada buluk emang, sampai-sampai sewaktu aku dan kamu berjalan-jalan di Ginza beberapa waktu yang lalu, kamu memaksaku untuk membelikanku tas yang baru. Sempat terjadi perlawanan besar-besaran dariku ketika kamu hendak menarik tanganku masuk ke dalam butik Moschino. Dan dalam urusan tas cangklong kesayanganku, sudah saatnya bagimu untuk menyerah. “Ya sudahlah terserah kamu Hun, biar disangka abege terus ya, pake tas anak SMA kayak gitu.” Katamu tersenyum pahit.
Di Sukhumvit banyak terdapat penjual makanan, pakaian dan handicrafts. Aku melihat-lihat dan sekaligus mengambil beberapa gambar yang aku anggap bisa untuk menambah koleksi portofolioku. Dan kemudian mataku terarah ke toko Handicrafts sejenak mataku tertumpu pada patung dua gajah berwarna hitam bersepuh warna keemasan dan ditaburi berlian imitasi berukuran kecil, dua gajah yang aku tebak itu adalah sepasang gajah jantan dan betina, setelah aku tanya kegunaannya kepada penjual di sana, dia menjawab biasanya digunakan utuk menahan kertas-kertas dokumen di meja kantor.
Aku langsung saja teringat kepada kamu, mudah-mudahan gajah ini bisa mempercantik meja kerjamu. Setelah menawar dan menyepakati harga yang diputuskan, aku segera memasukkan patung gajah tersebut di tas cangklongku. Wah, lumayan berat juga nih.
Sambil menikmati iced lemon tea, di sebuah warung kecil. Aku membuka Hpku, oh ternyata ada e mail dari kamu.

Hun, aku dengar kamu akan ke Hongkong akhir Minggu ini, kita bertemu di sana ya, menikmati malam romantis di HK bersamamu menjadi agenda utamaku minggu ini. Pagi sampai sore memang aku sibuk sekali, banyak meeting dengan beberapa calon klien, ah padahal hari Minggu yah, tapi gak ada libur2nya. Tapi memang hanya Minggu waktuku bisa ke HK. Oke aku kabari lagi nanti yah. Ohya, aku dengar Bangkok lagi panas-panasnya nih...jangan lupa bawa air mineral dingin ke dalam tas cangklong bulukmu, hehehe, muach..Luv n Miz U

Aku pun tersenyum lebar dan membalasnya, sehabis menyeruput iced lemon tea.

Insya Allah aku sampai HK Sabtu. Sukses deh meetingnya. Ohya, tas bulukku tidak cukup nih menerima botol mineral lagi, karena di dalamnya udah terisi 2 gajah untukmu, semoga kamu suka gajah2 itu yah, kan sama lucunya ama kamu Cinta. Luv n Miz U 2

Aku pun tertawa pelan sampai message tadi benar-benar sent.

Tak lama kemudian, e mail mu masuk.

Thanks ya Hun, aku tambah cinta kamu nih….

Aku juga Cinta…aku juga….

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:23 PM ¤ Permalink ¤ 3 comments
Mystery Of Love ( XI )
Ginza, Tokyo di hari Minggu. Aku berjalan kaki bersamamu. Kamu bercerita banyak mengenai gaya hidup orang Jepang yang sangat kecanduan bekerja. Sesekali aku tidak mengindahkan omonganmu, kalau sudah melihat objek yang menarik untuk di foto.
“Ah, istirahat dulu yuk, disana.” Kamu menunjuk ke arah restoran sushi.
Aku pun mengikuti langkahmu.
Sambil menyantap sushi dan ditemani minum bancha ( japanese green tea ), kita memulai obrolan kita.
“Nisa, anakku yang sulung sudah bisa menulis e mail untukku, dia bercerita banyak mengenai sekolahnya, nilai raportnya kemarin bagus loh Hun, aku bangga banget dengan dia.” Tatapan matamu berbinar-binar ketika menceritakan anakmu.
“Papanya saja smart banget.” Ujarku sambil tersenyum.
“Dia tanya kapan aku pulang lagi ke Jakarta, bisa anterin dia dan Lia sekolah, nemenin mereka jalan-jalan sewaktu weekend.” Kamu menyeruput banchamu.
“Trus, kamu bilang apa Cin?” tanyaku sambil menyumpitkan sushi ke mulutku.
“Aku janji kepada dia, liburan sekolah nanti ajak mereka berdua jalan-jalan ke Tokyo, sekalian mereka bisa juga menemani aku bekerja disini.” Kamu membuka mulutmu lebar-lebar menerima suapan sushi dariku.
“Istrimu tidak kamu ajak?” tanyaku sambil meminum bancha seteguk.
Kamu menatapku dan berkata,”Dia tidak punya waktu kalau ke sini, dia sibuklah ama urusan bisnis garmentnya di Jakarta.”
Dalam hati, aku sungguh heran kepada istri Mas Nata, sesungguhnya dia wanita yang bagaimana sehingga tega membiarkan suaminya bekerja sendirian di luar negeri, bukankah kodrat wanita itu melayani suami dan anak-anaknya, apalagi Mas Nata sudah berlebihan dalam urusan finansial. Kelihatan banget Mas Nata sangat membutuhkan perhatian dari seorang wanita. Aku tatap kembali Mas Nata, dan kamu kemudian membalas tatapanku,”Ada apa Hun?”, aku tersenyum kepadamu dan menggelengkan kepalaku,”Tidak ada apa-apa, sushinya enak?”

Kelak aku akan membahagiakanmu Cinta…

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:20 AM ¤ Permalink ¤ 3 comments
Friday, November 17, 2006
Mystery Of Love ( X )
Di hotel, New York aku mempersiapkan semuanya sebelum berangkat, bahan untuk presentasiku sudah siap, kali ini aku membawa tas dokumen bersamaku, dan tentu saja, tas cangklongku yang sudah sangat setia menemaniku. Ah, semoga hari ini presentasiku berjalan dengan lancar.
E mail masuk ke XDA ku, dari Mr. John, atasanku langsung.

Good Luck Ara, but be carefull with Matthew, he is really perfectionist, maybe he will trap you with his questions about ur projects

Ruangan direksi terletak di lantai 55, ah jantungku terus berdegup kencang, dan aku tenangkan dengan membaca takbir, tahmid dan tahlil. Lift terasa begitu lambat saja. Satu persatu bule amrik yang tidak kukenal sudah mulai turun dari lift, di lantai 40, aku bertemu dengan Evelyn, dia sekretaris Mr. Matthew, dia tersenyum ramah kepadaku, “Good luck with your presentation today Miss. Samudra, there are Mr . Matthew and his friend, I heard that he is candidate of the vice president for our branch company in Asia.”
Oh really…” kataku pelan.
Ting…lantai 55, pintu lift pun terbuka. Dan Evelyn mempersilahkan aku keluar terlebih dahulu.
Aku menunggu dulu di sofa kulit berwarna hitam yang sangat empuk, di samping meja kerja Evelyn, sambil mengecek sekali lagi berkas-berkas yang aku bawa.
Lima menit kemudian Evelyn menyilahkan aku masuk, Mr. Matthew menyambutku sangat hangat dan ramah, dia pria kaukasian berumur sekitar 45 tahun, berwajah tampan ala Harrison Ford, dan bertubuh atletis, setelah beramah tamah dengan dia, pandanganku aku alihkan kepada sosok di belakangnya dan aku terpana.
Miss Samudra, may I introduce to you…he is candidate of the vice president for our branch company in Asia, I can say that he is our best candidate...Miss Samudra, his name is Mr. Nata Pradhita, his from Indonesia too, same like you”
Kamu menjabat tanganku erat, “How do you do…” kamu menatapku sambil tersenyum.
How do you do Sir.” Aku pun membalas senyumanmu dengan senyum canggung.
Presentasi yang berjalan kurang lebih 1,5 jam serasa berjalan lebih dari setahun, aku menjaga intonasi suaraku agar terdengar mantap dan meyakinkan, hanya saja ketika mataku tanpa sengaja bertatapan dengan matamu, aku tiba-tiba saja menjadi grogi. Tetapi kemudian kamu memberikan senyuman untukku dan berkata tanpa suara..melalui gerak bibirmu, ”Kamu bisa Hun”
Ah, akhirnya presentasi berjalan dengan sukses, Mr. John benar, Mr. Matthew bukan orang yang mudah untuk diyakinkan, sempat beberapa kali dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit mengenai proyekku. Tetapi akhirnya dia berkata juga kepadaku sambil menjabat tanganku,”Congratulation Miss Samudra, Asia is for you”, Alhamdulillah akhirnya proyek yang akan kugarap mengenai Asia di setujui juga oleh Mr. Matthew. Artinya bulan depan, aku sudah merambah ke Asia untuk mulai mengerjakannya.
Setelah keluar dari ruang direksi, aku terduduk lemas di sofa kulit yang nyaman tadi, aku lihat Evelyn memberikan kode kepadaku dengan jari tengah dan telunjuknya, membentuk kode Victory. Aku tersenyum lebar kepadanya,”Thanks..”
Hpku bergetar, rupanya masih aku silent.

Hun…aku tau kamu hebat, temui aku di Central Park 1 jam lagi yah, ada beberapa hal yang harus aku diskusikan dulu dengan Matt, Luv U

Matt? Kamu memanggil big boss hanya dengan sebutan Matt? Aku pun membalasnya,

Thanks buat pujiannya, aku traktir hotdog deh ntar, hehehe, c u 1 jam lagi, Luv U 2

Message Sent

Central Park terlihat begitu ramai siang itu, ada kunjungan anak-anak elementary school. Aku memilih bangku kosong di bawah pohon rindang. 30 menitan aku duduk dan menikmati suasana yang ada, Hpku memekik pelan.

Hun, dimana? Aku sudah membawa hotdog nih…

Aku tersenyum, membaca dan membalas

Pake dong intuisinya, biasanya kamu bisa menemukanku.

Semenit kemudian kamu membalas.

Kalau ketemu, kamu mau kasih apa ? hotdog sudah aku belikan.

Aku pun langsung membalas.

Apapun yang kamu mau

2 menit tidak ada balasan dan tiba-tiba kamu sudah berdiri di samping kananku,
“Apapun yang aku mau ya?”
Aku memandangmu dan tersenyum,”Yang aku bisa memenuhinya.”
Kamu tersenyum, duduk di sampingku, dan memberikan hotdogmu satu kepadaku.
“Hm…makan hotdog ama calon wakil direktur untuk Asia enak juga ya…” kataku menggodamu.
Please deh, jangan ada yang berubah, aku tetap Cintamu yang sama.” Kamu menyipitkan matamu yang memandangku, salah satu cirimu kalau sudah kesal.
“Hahaha, kenapa sih tidak mau terus terang kepadaku, kalau kita bekerja di bendera perusahaan yang sama.” Kataku sambil mengunyah pelan hotdogku.
“Gak papa, lagian kalau aku bilang aku punya jabatan di atasmu, nanti kamu segan lagi” ujarmu sambil menatapku.
“Pantas aja, kita sering bertemu yah Cin…kamu disuruh mematai-mataiku oleh Matthew ya?” tanyaku penuh selidik.
Menghabiskan gigitan terakhirnya kamu berkata,”Semua itu kebetulan aja kali, kebetulan yang menyenangkan.”
Aku membersihkan remah hotdog yang tertinggal di sudut mulutmu,”Aku percaya kamu deh Cin”.
Siang itu kita banyak membahas tentang proyekku di Asia, kamu memberikan banyak masukan kepadaku…sembari kamu menjelaskan kepadaku, aku terus menatap lekat-lekat wajahmu.

Semoga Tuhan memaafkan aku karena aku sangat mencintaimu

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:28 AM ¤ Permalink ¤ 6 comments
Thursday, November 16, 2006
Pagi berduka
Pagiku yang semula indah,
Menjadi berduka...
Karena aku kehilangan sahabat tercinta,
Sahabat yang kukenal selama 6 tahun terakhir,
Taukah perasaanku, wahai sahabat sayang...
Ketika kau memutuskan tali persahabatan lewat e mail,
Sontak langit terang di hatiku menjadi mendung tak berawan,
Sontak keceriaan di hatiku menjadi sirna...
Pedih dan perih hatiku...
Ingin kubertanya...apa salahku...benarkah keputusan itu...
Kalau pun aku bersalah, apakah sudah tak termaafkan ?
Wahai sahabat sayang,
Akan kuingat kenangan tentang kamu...
Tawamu, nasihatmu, pintarmu, dewasamu,
Sedihmu, gembiramu, ceritamu, kesalmu...
Wahai sahabat sayang,
Aku menghormati keputusanmu,
Aku pun tidak akan marah kepadamu, mana bisa aku marah kepadamu...
Kamu adalah wanita yang paling kukagumi ( andai kamu mau tau )
Kesabaranmu...baik hatimu...pemaafmu...sholehahmu,
Wahai sahabat sayang,
Janganlah minta maaf kepadaku,
Aku sudah memaafkan jauh sebelum kamu minta,
Sahabat...
Semoga hidupmu selalu bahagia...
Kamu bilang aku berhak untuk tersenyum bahagia
Kata-katamu itulah yang membuat aku gagal menahan tangisku,
Sahabat..sahabat...sahabatku sayang...
Kamu pun berhak untuk tersenyum bahagia,
Bahagialah kamu di atas sabarmu...
Wahai sahabat sayang,
Maafkan aku yang belum bisa memutus tali persahabatan kita,
Tapi aku tak akan mendekatimu lagi,
Sesuai keinginannya...demi impian seorang istri yang sholehah,
Wahai sahabat sayang,
Pintu hatiku masih terbuka untuk silaturahmi kita,
Semoga suatu saat kamu datang lagi, menawarkan rasa sayang kepadaku...
Aku bahagia kalau kamu bahagia...Ingatlah itu...

Semarang, 16 November 2006
*Maaf aku posting disini...karena kamu tak ingin aku membalas e mailmu*

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 6:21 PM ¤ Permalink ¤ 8 comments
Mystery Of Love ( IX )
Dari kamar hotel di Prague, aku mengedit gambar-gambarku. Ah, untung saja ada yang menciptakan gadget-gadget canggih seperti Laptop, HP, XDA, dan IPOD. Kalau tidak, bagaimana aku bisa bekerja. Tuntutan pekerjaan yang selalu mobile seperti aku sangat membutuhkan piranti canggih tersebut.Terdengar lagu Nothings Gonna Change My Love for You yang dinyanyikan oleh Peppi Kamadhatu dari portable speaker nya IPOD. Sesekali sambil mengedit gambar aku ikut menyanyikan lagu tersebut. Aku sangat asyik dengan pekerjaanku, tidak sadar kalau ada e mail masuk ke Hpku.
E mail dari HP sudah kupastikan dari kamu. Semenjak kita jadian, semua e mail dari kantor aku pindahkan ke XDA. Aku tidak mau nanti ada kejadian salah kirim e mail.
Kemudian aku buka inbox nya :

Hun, saat ini aku lagi di jalan dekat Malostranské Bridge, kalau intuisiku tak salah, aku pasti bertemu dengan orang yang kurindukan sesaat lagi.

Aku memekik pelan…bagaimana kamu bisa tahu aku di Prague…
Aku membalasnya langsung,

Sepertinya aku tidak perlu menanyakan kenapa kamu bisa tau, saat ini yang akan aku lakukan adalah siap-siap menemui kekasihku…muach muach

Kubaca sekali lagi sebelum kukirim, ah norak…tapi biarlah.
Message Sent.

Turun dari taksi, aku sudah disambut dengan Mas Nata…hmmm, kamu tambah gemuk saja, pipimu yang tembem jadi kelihatan seperti roti ketika kita tertawa.
“Hm..betah nih di Jakarta…jadi tambah subur aja Cinta.” Kataku tersenyum padamu.
“Hahaha, kangen ama masakan Indonesia, jadi rada kalap aja, aku juga sempat lumayan lama di Tokyo.” Kamu tertawa sambil mengelus rambutku.
“Sehat kan Hun ?” Kamu menatapku lekat dan kedua tanganmu memegang bahuku.
“Seperti yang kamu lihat.” Aku berkacak pinggang dan memiringkan kepalaku.
Tiba-tiba saja kamu memelukku,”Aku kangen banget Hun…kangen…!”
“Hmmm, sama…” Aku pun mempererat pelukanku dan mengelus punggungmu.
Kita menikmati siang itu dengan berjalan di Malostranské Bridge, sesekali kamu menyarankan aku untuk mengambil gambar di sudut-sudut yang indah dari jembatan tersebut. Selanjutnya kita selalu berjalan dengan bergandengan tangan, kamu menggandengku erat, seakan aku ini milikmu yang sangat berharga.
“Aku cinta kamu Hun…” tatapmu ketika kita berdiri bersebelahan.
Aku menyenderkan kepalaku di atas bahumu,”Aku juga.”
Aku tau kamu pasti tersenyum tanpa aku melihatmu, karena aku pun juga tersenyum.
“Aku belum pernah merasakan perasaan ini…debaran ini…” katamu pelan.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapmu tajam,”Bagaimana kamu bisa menikah dengan istrimu.”
“Awalnya pernikahan kami bahagia, sehingga kami dikaruniai Nisa dan Lia, dulu aku dikenalkan oleh Mamaku, dia anak sahabat Mama. Namun semenjak pekerjaanku menuntut aku mobile, aku semakin jarang ketemu dengan dia, kemarin adalah waktu terlamaku di Jakarta setelah 10 tahun aku bekerja melanglang buana seperti ini dan…” kamu berhenti sejenak, menarik napas…
“Dan apa Cin? “ tanyaku tanpa melepaskan tatapanku ke kamu.
“Dan aku merasa hambar dengan pernikahanku, yang aku pikirkan hanya kamu...kamu…dan kamu.” Kamu balas menatapku.
“Karena kamu sedang kasmaran denganku…bisa saja perasaanmu hanya sesaat.” ujarku sambil melemparkan pandanganku ke burung-burung dara yang mencari makanan.
Kamu menghela napas lagi,”Sekarang kamu mulai tidak percaya lagi kepadaku Hun, kamu ingat gak dengan kata-katamu dulu, Ikuti saja kata hatimu…sekarang aku bercerita berdasarkan itu, kamu malah menyangsikan omonganku.” Nada suaramu terdengar agak kesal.
Aku menatapmu lagi, tersenyum,”Kamu marah ?”
Kamu tidak menatapku,”Gak, aku gak bisa marah denganmu.”
Aku mencium pipimu sekilas…kamu menatapku dan berkata,”Percayalah dengan kata-kataku Hun, hanya kamu sekarang yang ada di hatiku, setelah anak-anakku.”
Aku memberikan senyuman yang termanis untukmu,”I’ll try deh, hehehe.”
Kamu pun tertawa,”Ye…kok akan mencoba…harus percaya dong.”
Aku berjalan cepat meninggalkanmu, menengok ke arahmu dan berkata,”Kamu tau tujuan aku selanjutnya ?”
“New York…” kamu memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantelmu, “Ya kan Hun?”
Aku menghentikan langkahku dan berbalik arah sehingga berhadapan denganmu.
Who are you Cinta ?”
“Belum saatnya kau tanya siapa aku Hun….yang penting kau tau perasaanku…” kamu berjalan mendekat ke arahku, membelai pipiku, dan mencium bibirku.
Hatiku mau meledak saja rasanya….
Kemudian aku bernyanyi pelan untukmu,…
Nothings gonna changes my love for you, you oughta know by now how much I love you…One thing you can be sure of, I ll never asking more than your love. Nothings gonna changes my love for you, you oughta know by now how much I love you, the world will change my whole life thru but nothings gonna changes my love for you…

Kamu menciumku bibirku lagi dan lama…

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 6:56 AM ¤ Permalink ¤ 3 comments
Wednesday, November 15, 2006
Mystery Of Love ( VIII )
Pandanganku menyapu bangunan-bangunan tua yang berada sepanjang sungai di Amsterdam. Setelah dari pagi tadi aku mengambil gambar bangunan-bangunan tua tersebut dengan menggunakan kamera digitalku, rasanya asyik sekali sampai-sampai tidak terasa beberapa kilometer terlewati dengan berjalan kaki ( bisa saja sih aku menyewa sepeda, tapi aku ingin sekali-sekali napak tilas dengan kakiku ), dan akibat berjalan kaki rasanya kedua kakiku mulai terasa pegal. Di atas water bus yang aku naiki dari central station Amsterdam, rasanya impas sudah rasa capek akibat berjalan kaki tadi, tergantikan oleh pemandangan yang kudapat dari atas water bus ini. Mendengar pemandu yang berbicara dua bahasa, dutch dan english membuatku teringat akan kamu. Kamu yang serba tahu akan sejarah berdirinya suatu bangunan kuno. Ah, aku rindu sekali kepada Cintaku itu. Saat ini sudah larut malam atau pagi di Jakarta, aku kurang tahu dan ketika water bus ini melewati Stadhuis semacam town hall, aku pun menulis e mail kepadamu.

Malam Cinta, sudah lama kamu tidak mengirimkan kabar untukku…sibuk sekali ya? Dapat salam cinta dari atas water bus. Luv n Miz U

Message Sent

Ketika water bus melewati Rijks Museum, Hpku pun memekik pelan.
Balasan e mail darimu.

Ah…Amsterdam - Belanda yah, salah satu negara yang paling bagus tata kotanya. Hun, aku memang sibuk sekali akhir-akhir ini, maaf tidak sempat menghubungimu. Tapi percayalah dalam setiap tarikan nafasku dan debaran di dadaku yang ada hanyalah namamu…Aku rindu sekali Hun.

Aku tersenyum membaca balasanmu, andai kamu tau Cinta, sebelum tidur malam pun, aku selalu menyebut namamu, berharap akan mimpi indah denganmu.
Ketika water bus di depan Beurs yang merupakan Stock Exchangenya Belanda. Hpku memekik lagi, namun kali ini ada telepon masuk. Aku lihat layarnya…hm…siapa ini yah.

Aku : Hello….
Suara di seberang : Hello Hun…
Aku : ( Sumringah ) Mas Nata?
Suara di seberang : Kok Mas Nata sih…tumben…biasanya Cinta.
Aku : ( Tertawa ) Hehehe, iya Cinta, aku kaget aja kamu telpon…belum tidur ?
Mas Nata : Ingin mendengar suaramu sebelum tidurku.
Aku : ( Tersenyum ) Ini di rumah ? Bagaimana keluargamu Cinta ?
Mas Nata : Aku di balkon hehehe, anak-anakku sehat, mereka sudah tidur dari tadi.
Aku : Istrimu sehat ?
Mas Nata : Iya Hun, dia juga sudah tidur. Bagaimana kamu Hun, kabarmu.
Aku : Sehat Cinta, hatiku saja yang rada lelah.
Mas Nata : Tau kok hun…tau
Aku : ( tersenyum ) Kok tau….
Mas Nata : Lelah karena menunggu kabarku kan ? hehehe…maaf Hun
Aku : ( menghela nafas ) Nevermind…I understand kok.
Mas Nata : Good Gal
Aku : ( terdiam )
Mas Nata : Kok diam ? Ohya, aku taruhan, kita pasti akan ketemu lagi secepatnya.
Aku : Kok kamu bisa yakin gitu Cin ?
Mas Nata : ( tertawa ) Lihat saja nanti Hun, okay…aku dah puas dengar suara kamu.
Aku : Bobok gih…mimpiin aku yah, hehehe
Mas Nata : Gak usah disuruh…I love you
Aku :
Love you too
Mas Nata :
I Miss you
Aku : Miss you too
Mas Nata :
I need you
Aku :
Need you too
Mas Nata : Oke..see you soon Hun...Muacchhhh
( terdengar suara kecupan di seberang sana )
Aku : ( mengecup pelan ) muach….
Klik..sambungan terputus...

Hatiku tenang sekaligus hampa, kekasih yang kupuja jauh di negeri seberang.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 6:30 AM ¤ Permalink ¤ 4 comments
Tuesday, November 14, 2006
Mystery Of Love ( VII )
Pagi Hun…masih capek karena perjalanan semalam? Sayang sekali, padahal aku sudah menyiapkan tour ke Altes Rathaus atau semacam old town hall untuk kamu, cepat mandi gih, aku tunggu di sana jam 10, please jangan telat, Miz U so much!

Aku baca e mail dari Cintaku dengan mata setengah terpejam, aku tatap langit-langit kamar sambil mengumpulkan nyawa yang masih belum menyatu dengan tubuhku.
Sepuluh menit sudah cukup waktuku untuk bengong di atas kasur, dan kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Selesai Subuh, Hpku yang masih aku silent, bergetar lagi.

Masih bobok? Gak subuhan ya? Gimana dengan tawaran tour privatnya? Reply ASAP please

Aku pun menggelengkan kepalaku dan membalas,

Sabar, aku lagi melipat mukena nih, iya jadi Insya Allah…Oke, ga usah dibalas deh, aku mau tidur dulu 1-2 jam, ngantuk banget Cinta…c u

Jam 10.15 menit, aku baru sampai ke Altes Rathaus, Vienna, aku lihat Cintaku bergegas menuju arahku dan merentangkan tangannya.
“Maaf Cinta, aku te….” Belum selesai kalimat itu aku ucapkan, kamu sudah memelukku erat dan menciumi rambutku.
“Aku rindu kamu Hun…Rindu sekali” Kamu mengelus-ngelus rambutku dan mempererat pelukanmu.
“Iya sama Cinta, aku pun rindu….hmm, kamu bau Zeus.” Kataku sambil melonggarkan pelukanmu.
Kamu tertawa memandangku, ah semakin tampan saja kamu apalagi dengan penampilan barumu, kumis tipis di atas bibirmu. “Rambutmu juga bau es krim mint.” Katamu sambil mengambil beberapa helai rambut sampingku dan menciumnya.
“Kukira dengan kumismu, daya penciumanmu berkurang Cinta…” kataku memandangnya usil.
Kamu tersipu malu,”Kalau tak suka, akan aku cukur…”
Aku berbisik di telingamu,”Aku suka kamu Cinta, apa adanya…” dan memberikan kecupan di pipimu.
Selesai mengitari Altes Rathaus, kita pun duduk di café yang berada di dekat situ.
“Ada apa?” kataku, merasa jengah kamu memandangku lama.
“Tidak...hm…” kamu mempermainkan gelas mungil black coffee mu.
“Ada apa Cinta ? aku mengulangi lagi pertanyaanku.
“Hun, selama sebulan aku harus kembali ke Jakarta, aku harus memeriksa pertanggungjawaban cabang di Jakarta dan sekaligus aku ingin bertemu dengan anak-anakku.” Kamu berkata pelan agar aku benar-benar memahami setiap ucapanmu.
Aku terdiam beberapa saat, meneguk cappucino caramelku dan berkata, “Okay Cinta, aku mengerti. Kamu tentunya juga akan melepas kangen dengan istrimu kan…” suaraku rada tercekat pada kata ‘istrimu’.
“Hun, maaf, tapi yah, mungkin aku juga akan melepas kangen dengan dia, tapi kan bukan itu tujuan utamaku ke Jakarta kan?” kemudian kamu meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Aku mengerti Mas…ngerti banget, posisiku…statusmu...itu semua sudah risikoku ketika aku memutuskan untuk berhubungan denganmu.” Kuusap tanganmu lembut.
“Terimakasih Hun…Kamu tahu perasaanku kepadamu” kamu pun tersenyum kepadaku.
Dan aku memaksakan senyumku kepadamu.
Menjelang tidur malamku, air mataku terus bercucuran, aku tak tahu perasaan sebenarnya yang ada dalam hatiku, membayangkan kamu dengan perempuan lain yang merupakan istri sahmu. Terus teringat kata-kata yang pernah diucapkanmu sewaku pertama kalinya kita mengobrol ”Aku kangen dengan anak-anakku”.
Berbagai perasaan campur aduk dalam hatiku, perasaan bersalah, cemburu, rindu, ah..tidurku tak tenang malam itu.
Hpku yang telah kusilent bergetar, e mail dari Mas Nata.

Maafkan aku Hun…kamu tidak marah kepadaku kan ?

Aku tidak membalas e mailmu.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:25 AM ¤ Permalink ¤ 13 comments
Monday, November 13, 2006
My Adored Man
Kau priaku...
Yang mencintai, menyayangi, mengasihiku,
Yang melindungi, mengayomi, merindukanku,
Yang memimpikan, membutuhkan, mendo'akanku,
Kau priaku...
Yang menjadikan panas siang hari menjadi sesejuk hujan,
Yang menjadikan sepinya malam menjadi kehangatan cinta,
Yang menjadikan pahitnya kecapan lidah menjadi semanis madu,
Yang menjadikan heningnya suara menjadi suatu musikal kata sayang,
Kau priaku...
Dimana kau selalu menyamakan hembusan nafasku, debaran jantungku,
untaian dzikirku sampai kata-kata rinduku,
Kau priaku...
Hanya kau yang boleh mengecup kelopak mata, ujung hidung, dan bibir merekahku,
Kau priaku...
Yang paling mengerti dan memahami jiwaku,
Yang tak tenang ketika aku bersedih,
Yang selalu ingin merasakan tawa bersamaku,
Kau priaku...
Yang selalu memanggil namaku sebelum tidurmu,
Yang sudah merasa bahagia hanya dengan melihatku,
Yang sudah merasa puas hanya dengan mendengar suaraku,
Kau priaku...priaku...dan priaku...
Hanya kepadamulah, kutitipkan hatiku,
Dan...kan kujaga hatimu yang telah diberikan padaku...


Semarang, 12 November 2006

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:23 PM ¤ Permalink ¤ 3 comments
Mystery Of Love ( VI )
Hpku bergetar ketika aku hendak melempar koin ke dalam kolam Fontana Di Trevi, Roma. Kuurungkan niatku melempar koin, aku pun lalu duduk di pinggiran kolam, tumben sore itu Fontana Di Trevi agak lenggang, jadi aku bisa dengan leluasa duduk di pinggiran kolam. E mail dari kamu.

Hun, masih di Rome? Asyik yah bisa terus main mata dengan cowok Italy. Aku saat ini sedang di Akropolis, Athens, dua hari lagi kita ketemu ya…Luv n Miz U

Aku pun tersenyum membaca e mailmu, dan membalas,

Lagi mau lempar koin nih, tiba-tiba aja e mail kamu masuk, cowok Italy ? aku kan bukan abege lagi, ahh, seneng deh kalo Cinta jealous ama aku :-p Di Akropolis ngapain? Ngumpulin reruntuhan kuil ya? Hehehe. Emang 2 hari lagi kamu tahu aku akan kemana ? Luv n Miz U 2

Message sent.

Aku pun kembali berdiri dan membelakangi kolam, kulihat dua turis dari Jepang tersenyum ramah kepadaku. Aku pun tersenyum kepada mereka, dan dengan bahasa isyarat, aku suruh mereka berdua mengikuti gerakanku.
Kubisikkan permohonanku, tapi aku juga tidak percaya kebiasaan ini, hanya sekedar iseng saja. Kemudian aku melempar koin 1 lira ke dalam kolam, dan kedua turis Jepang itu juga mengikutiku.
Arigato Gozaimasu !” dua turis itu mengucapkan kalimat terimakasih sambil membungkukkan badannya.
Arigato Gozaimashita…” kataku dan membungkukkan badanku lebih dalam dari mereka.
Hpku bergetar lagi. Aku membaca e mail dari kamu, Cintaku.

Oh, Fontana Di Trevi ? Hati-hati Hun, banyak copet berkeliaran. Aku sih tidak khawatir dengan uangmu, tapi dengan paspor dan kameramu. Banyak hasil karyamu yang tak ternilai harganya. Andai aku bisa disana menemanimu. Ohya, di dekat situ ada toko es krim yang enak, cukup rame kok, kamu bisa tahu hanya dengan sekali lihat, coba deh yg rasa mint, warnanya hijau. Oke, 2 Hari lagi di Vienna.

Aku pun terperanjat mendengar kata-kata terakhirnya, 2 Hari lagi di Vienna, kok kamu bisa tahu aku akan ke Vienna…


To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:30 AM ¤ Permalink ¤ 3 comments
Sunday, November 12, 2006
Mystery Of Love ( V )
Di Basilique Notre Dame de La Garde, Marseilles. Kutatap lamat bangunan megah yang berdiri di depanku, dan kurasakan debaran kencang di dadaku. Aku menikmati setiap debar yang mempermainkan jantungku.
Ah, dua jam yang lalu, aku sedang sibuk membongkar busanaku di dalam koper. Semua terasa kurang pantas aku pakai, padahal biasanya aku termasuk orang yang cuek dengan penampilan. Akhirnya setelah empat kali mematut penampilanku di depan cermin dengan busana yang berbeda-beda, pilihanku jatuh kepada sweater turtle neck berwarna ungu cerah, rok panjang beludru hitam, jaket kulit berbulu lembut berwarna hitam, dan juga sepatu tanpa hak berwarna coklat tua. Ah tidak terlalu ribet dan yang penting aku nyaman, batinku sewaktu melihat bayanganku di cermin. Tidak dibutuhkan waktu lama untuk berias, dan untuk sore ini, aku akan memakai lipstik berwarna cranberry, agar wajahku tidak kelihatan pucat. Tidak lupa aku membungkus syal biru muda punyamu, dan kumasukkan ke dalam tas cangklongku.
Hmm, untunglah aku tepat waktu datangnya. Aku belum tahu kamu menungguku di mana. Nanti sajalah, aku belum minat untuk mengirimmu e mail, aku hendak mengambil beberapa gambar bangunan kuno yang megah ini.
Tidak terasa setengah jam berlalu setelah aku melirik arloji Timexku. Hatiku pun mulai dirundung gelisah, dan…tiba-tiba Hpku berbunyi. E mail dari kamu.

Kelihatannya kamu sedang menikmati kesendirianmu ya Ra, aku tidak mau ganggu kamu. Jadi aku melihatmu saja dari kejauhan. Kamu cantik sekali sore ini.

Mukaku pun kembali menghangat. Kulihat dengan mataku di segala arah mencarimu, tapi tidak ketemu, aku pun hendak membalas e mailmu, namun ada e mail masuk lagi.

Tidak usah mencariku, aku yang akan mendatangimu.

Aku pun tersenyum.
“Sore Ara.” Tiba-tiba saja kamu muncul di belakangku, dan membawa setangkai lili putih. Kamu mengulurkan setangkai lili putih di tanganku,”Buat kamu Ra.”
“Di musim seperti ini ada bunga lili?” tanyaku, dan entah kenapa, aku langsung saja mencium bunga lili putih itu.
“Untuk kamu, aku akan usahakan ada.” Kamu berkata lembut sambil tersenyum.
Aku pun ikut tersenyum mendengarnya. Kemudian, kita pun mengitari basilika, kamu bercerita banyak mengenai bangunan tersebut. Ah, aku semakin kagum pada dirimu.
“Ara…” Kamu memanggilku pelan, aku menatapmu dan tersenyum. “Ara merasa nyaman denganku?” kemudian kamu bertanya canggung kepadaku.
“Mengapa Mas bertanya seperti itu ?” aku memiringkan kepalaku sedikit sambil menatapmu.
“Jawab saja dengan jujur Ara.” Kamu menatap mataku.
Aku pun ganti menatap matamu,”Ya, aku sangat nyaman dekat Mas, apa Mas merasakan hal yang sama ?” Ah, jantungku semakin cepat berdetak.
Kamu tersenyum lembut dan berkata,”Iya Ara, aku merasakan hal yang sama denganmu.”
Kita pun terdiam beberapa menit lamanya, berjalan beriringan tanpa kata-kata, kemudian kamu menggandeng tanganku erat. Ah, rasanya semakin tak karuan saja hatiku.
“Maaf Ara, aku tidak ingin dianggap kurang ajar olehmu, kamu tahu aku sudah berkeluarga, tapi….ah perasaanku ini Ara….” Ada getar dalam suaramu.
“Aku tahu Mas…aku tahu, tapi please…mungkin sebaiknya kita ikutin saja kata hati kita.” aku berkata sambil menatap lurus ke depan.
“Aku jatuh cinta kepadamu Ara.” Kemudian langkahmu berhenti. Aku pun menghentikan langkahku dan menatapmu. Sejenak mata kita saling bertatapan, ada sebuah kejujuran di matamu yang mengatakan dia mencintaiku.
“Aku pun jatuh cinta padamu Mas.”

Sampai hotel, aku baru sadar kalau bungkusan syalmu masih ada dalam tas cangklongku. Aku pun mengirimmu e mail.

Mas, Syalnya lupa :-(

Dan langsung dibalas olehmu.

Kapan-kapan aja…atau buat kamu saja deh, It’s urs, like u Hun…U’re mine, good night.

Dan malam itu pun aku bermimpi tentang kamu, mimpi yang indah.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:00 AM ¤ Permalink ¤ 9 comments
Friday, November 10, 2006
Mystery of Love ( IV )
Siang yang panas ketika tidak sengaja aku mendengar ada tanda e mail masuk di Hpku. Ternyata itu dari kamu, dan barisan kata-kata singkat di e mail membuatku terpana.

Mengapa yah gadis se cute kamu tidak boleh mengambil gambar Monalisa? Padahal Monalisa saja kalah cute dengan kamu Ara, aku lihat kamu tadi sempat ngotot dengan penjaga di sana, untuk mengambil gambar Monalisa, aku punya banyak foto asli Monalisa kalau kamu mau

Aku pun me-reply e mail mu langsung.

Mas di Louvre yah ?

Tiba-tiba, suara yang sangat familiar di telingaku pun muncul di belakangku.
“Siang Ara, boleh aku duduk di sebelahmu?” tanpa menunggu ijinku, kamu langsung menghempaskan badanmu ke sisa bangku taman di sampingku.
“Ah…sungai Seine yang indah yah” katamu sambil melihat ke arah sungai Seine yang berkilauan.
Aku pun ikut memandang ke arah yang kamu pandang. Dalam hatiku berkecamuk pertanyaan, mengapa Allah selalu membuat kejutan-kejutan indah untukku.
“Aku tidak membawa syalmu Mas, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini.” Kataku sambil memandangmu.
“Ara, bagaimana untuk pertemuan selanjutnya kita adakan di …….( kamu pun menyebutkan nama suatu tempat di Marseilles ), aku sangat ingin berjumpa lagi denganmu Ara.” kamu menatapku dalam-dalam ketika mengatakan itu.
“Mengapa kamu ingin berjumpa denganku Mas?”
“Sama seperti halnya mengapa kamu juga ingin berjumpa denganku Ara.”
Dan kita pun tertawa berdua di tengah hembusan angin di Taman Musium Louvre – Paris.

Semua hariku terasa indah denganmu Mas Nata.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:50 PM ¤ Permalink ¤ 4 comments
Mystery of Love ( III )
Aku mengarahkan fokus kamera digitalku ke arah salah satu rumah di Pueblo Español, Barcelona. Aku ingin menambah portofolio hasil jepretanku. Daerah pedesaan ala Spanyol ini memang sangat indah, bentuk rumahnya yang unik, jalan yang sempit namun bersih.
“Hai….butuh model gak buat fotonya?” Tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang.
Ah, aku pun terpana ketika menoleh ke siapa yang menepuk bahuku tadi. Sungguh suatu kebetulan yang menyenangkan.
“Ah, jangan-jangan kamu ada yang nyewa yah Mas, untuk menguntitku?” tak habis fikir kenapa aku selalu bertemu denganmu ( padahal dalam hati aku sangat bersyukur ).
Memakai sweater wol putih dan jeans biru laut serta syal biru muda yang mengalungi leher membuatmu terlihat sangat tampan di depanku.
“Sepertinya sih iya…Ayahmu baru saja menelponku menanyakan putrinya yang menghilang di Barcelona, hahaha.” Senyum terkembang di wajahmu yang bersih, membuat pipimu semakin tembem dan nyaris saja kucubit saking gemesnya, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk itu.
“Hei, kamu tidak kedinginan ? Nih, pakai saja syalku, kasihan lehermu kedinginan.” Tiba-tiba saja kamu melepaskan syal di lehermu dan langsung tanpa menunggu ijinku kamu mengalungkan ke leherku. Oh, mukaku memanas saking malunya karena jarak mukamu hanya satu jengkal dengan mukaku. Kurasakan nafas kita yang seirama…dan saling meniupkan kabut tipis.
“Kamu cute Ara.” ucapmu pelan, ketika kita sejenak bertatapan.
“Rayuan pulau kelapa yah.” Aku tersenyum simpul mendengar ucapanmu, tapi mataku terus saja menatapmu, aku tak ingin kehilangan beberapa detik pun saat menatap matamu.
“Aku suka matamu…hidungmu…bibirmu...dagumu…” kamu berkata pelan sambil menelusuri dengan matamu bagian yang disebutkanmu tadi di wajahku.
Aku suka dengan suasana yang tercipta selama beberapa menit itu, tapi membuatku segan karena mengingat kamu sudah berkeluarga. Aku pun tersenyum dan mundur sedikit ke belakang.
“Ara, maaf…aku…” kamu kelihatan sedikit panik, “Apakah aku membuat kamu tersinggung dengan pernyataanku tadi?”
Aku tidak menjawabnya, aku hanya tersenyum kepadamu, dan aku yakin senyumku terlihat manis di depanmu.
Sore itu kita berjalan di sepanjang gang-gang di Pueblo Español, sesekali aku membiarkanmu menggandeng tanganku. Dan diam-diam aku mengambil beberapa sosokmu tanpa kamu sadari dengan kamera digitalku. Yakni, pada saat kamu menggendong anak kecil yang menangis, pada saat kamu tertawa sambil membelai kucing yang kamu sebut kucing badut karena hidungnya yang bersemu merah di sudut jalan, dan pada saat kamu terdiam sambil memandang ke arah sudut village.

Saat itu aku bahagia…aku bahagia….dan aku sadar aku telah jatuh cinta.

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:30 AM ¤ Permalink ¤ 5 comments
Thursday, November 09, 2006
Mysteri of Love ( II )
Sewaktu menikmati malam bermandikan cahaya lampu di Tivoli, Copenhagen. Kembali aku melihat sosokmu. Dirimu sedang menikmati alunan musik biola dari pengamen jalanan. Kali ini kamu memakai jaket kulit biasa, karena udara di malam hari yang tidak begitu dingin. Aku sangat ingin menyapamu, tapi aku ragu kamu masih mengingatku. Aku pun berjalan cepat melewati belakang tubuhmu. Dan kudengar suara yang paling aku idam-idamkan di dunia ini memanggilku.
“Ara.”
Aku pun menengok ke belakang, dan mendapatkan senyummu.
Akhirnya malam itu di Tivoli kita bercakap banyak untuk pertama kalinya, di sebuah café. Kamu bercerita banyak tentang pekerjaanmu, anak-anakmu dan Indonesia yang kamu rindukan. Ternyata tebakanku tentang umurmu sangat tepat, yah baru Juli kemarin kamu berumur 35 tahun.
“Aku musafir Ara…pengembara yang sangat ingin pulang ke rumah, tetapi karena tuntutan pekerjaan, rasa kangen itu harus kutiup jauh-jauh dari hatiku.” Suaramu terdengar sedih ketika mengatakan itu.
Sesekali aku pancing kamu untuk cerita tentang istrimu ( padahal andai kamu tahu, aku sudah merasakan cemburu saat itu, tapi rasa itu kalah oleh rasa ingin tahuku yang sangat besar tentangmu ). Istrimu wanita yang sibuk, tapi dari ceritamu ia adalah istri yang baik untuk anak-anakmu. Kamu tidak bercerita banyak tentang istrimu. Dan aku pun tidak menanyakannya lagi.
Malam itu aku baru tahu kalau ternyata kamu humoris dan pintar. Wawasan kamu sangat luas, kamu bercerita tentang tempat-tempat di negara lain yang pernah kamu kunjungi.
“Suatu saat nanti kita berdua harus mengunjungi Malostranské Bridge di Prague”. katamu sambil menatapku.
“Loh kita? Kok kita sih mas?” hampir saja aku tersedak dengan hot tea yang aku pesan.
“Hehehe, entahlah Ara…tiba-tiba saja aku ingin bersamamu ke sana.” Aku melihat semburat merah di pipimu ketika kamu menyatakan itu.


Aku pun tersenyum mendengarnya, ah andai kamu tau perasaanku.


To Be Continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:10 AM ¤ Permalink ¤ 7 comments
Cerita yang Menggugah Jiwa ( Lomba Blog 2006 )
Saya ingat sewaktu saya ikut pertemuan orang tua murid baru di TK Restu Malang ( anak saya, Baby sempat sekolah di Malang selama seminggu ), yang saat itu menghadirkan seorang konsultan pendidikan anak. Sewaktu dia berbicara di depan audiens, selain menyelipkan humor dan permainan untuk melatih kepekaan mata, dia juga menceritakan pengalaman dia selama menjadi seorang konsultan pendidikan anak.

Dia bercerita, suatu saat, di pernah didatangi seorang Bapak yang memiliki seorang anak yang saat itu duduk di TK ( saya lupa di TK A atau TK B ), Bapak tersebut berasal dari Malang. Bapak itu bercerita kepadanya….Sewaktu dia sudah merasa sukses di kariernya, dia membeli sebuah mobil baru untuk keluarganya. Lalu suatu sore, ketika dia pulang dengan mobil barunya itu, mobil tersebut langsung dimasukkan ke dalam garasi, dan dia pun bergegas mandi.

Saat itu, dia ingin mobil baru itu sebagai hadiah kejutan untuk anak tunggal kesayangannya. Dari kamar mandi, Aldo ( sebut saja nama anaknya seperti itu ) menggedor-gedor pintu kamar mandi,”Pa, Aldo mau menggambar dulu ya..”, dari dalam dia pun menjawab,”Iya nak…” , kemudian tak lama kemudian, Aldo kembali lagi menggedor pintu kamar mandi,”Pa….dah selesai nih pa…liatin dong, bagus deh.” Berbarengan dengan itu, dia keluar dari kamar mandi, Aldo pun menggandeng tangan papanya ke arah garasi. Aldo memperlihatkan gambar yang ia buat dengan peniti, dan kanvasnya tak lain adalah body mobil baru papanya. “Ini pa, Aldo gambar mobil juga….bagus kan pa?” dengan mimik polosnya Aldo mengadu kepada papanya dengan mengharapkan sebuah pujian.

Sontak, dia tidak dapat menahan amarahnya, ada rasa gemuruh di dalam dada, dimana dia teringat bahwa mobil itu benar-benar dibeli dari tetesan keringat kerja kerasnya, dan mobil itu baru saja diambil dari showroom setelah indent beberapa bulan lamanya. Tanpa berkata banyak, dia mengambil besi tipis yang panjang, yang kebetulan berada di dekat situ dan menarik tangan kanan anaknya, memukulnya keras-keras, dia ingat saat itu Aldo hanya bisa terdiam dan terkesima melihat reaksi papanya. Aldo tidak menangis dan berteriak sedikit pun. Mata beningnya hanya tertegun melihat wajah papanya. Dia sangat ingat akan hal itu, tapi entah kenapa dia tidak segera menghentikan pukulannya itu.

Malamnya, badan Aldo panas. Istrinya sudah memberitahukan kepada dia, tetapi karena dia masih marah kepada anaknya, dia hanya menyuruh istrinya memberikan obat turun panas biasa yang dibeli dari warung, tanpa dibawa ke dokter. Badan Aldo tetap panas selama 2 hari, dan kemudian di malam ke tiga, dia akhirnya membawa Aldo ke rumah sakit. Hasil diagnosa dokter ternyata sangat mengagetkannya. Karena syaraf tangan Aldo sudah rusak, maka dokter pun memutuskan cara satu-satunya adalah amputasi. Lemaslah dia setelah mendengar diagnosa dokter, dia hanya bisa menangis sejadi-jadinya, sejuta penyesalan berkecamuk di dadanya. Tanpa ada pilihan lain, akhirnya amputasi itu dilakukan. Setelah operasi selesai, dia menemani Aldo yang belum siuman di dalam kamar. Dilihatnya wajah anaknya yang sedang tertidur, begitu tampan dan cerianya wajah itu dulu, namun sekarang wajah itu pucat dan tak bersinar. Terisaklah dia dalam kamar itu. Sampai suatu ketika mata Aldo terbuka, dia mendapati Aldo tersenyum padanya, dan Aldo pun berkata kepada dia,”Pa..maafin Aldo yah…..” Jatuhlah air mata dia tak tertahan, dan ketika Aldo ingin memeluk papanya, Aldo mendapati tangan kanannya sudah tidak ada, terpotong sampai siku. “Papa, maafin Aldo…tangan Aldo kemana pa…..? Papa, Aldo pinjami tangan papa, Aldo mau cium tangan papa, Aldo mau minta maaf sama papa…” baru disana Aldo menangis, dan dia hanya bisa memeluk anaknya erat-erat dan menangis sejadi-jadinya.

Ketika dia menceritakan kisahnya itu kepada konsultan anak tadi, dia sangat menyesal, andai saja waktu itu dia bisa lebih bersabar dan bisa berfikir jernih, kejadian tersebut bisa saja terhindarkan. Mobil barunya bisa dibawa ke bengkel untuk diamplas dan dicat lagi, paling hanya mengeluarkan dana sebesar ratusan ribu rupiah dan paling banyak hanya sebesar jutaan rupiah. Tapi karena dia mengikuti hawa nafsunya, selain habis puluhan juta rupiah, dan yang membuat dia sangat menyesal adalah dia sudah merenggut kebahagiaan dan masa depan anak kesayangannya. Andai saja dia lebih bisa bersabar sebagai orang tua, dalam menghadapi kenakalan wajar seorang anak berumur 4 – 5 tahun. Lebih bisa memaafkan anak semata wayangnya, tentu kejadiannya tidak akan seperti itu.
Semoga cerita ini bisa memberi hikmah bagi kita semua sebagai orang tua dan calon orang tua…..Amin…..

Ps :
Sewaktu Ibu Konsultan Anak menceritakan kisah ini, hampir semua undangan menangis terharu….
Kisah ini pernah di poste di blog FS saya.

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 6:42 AM ¤ Permalink ¤ 3 comments
Seuntai atau Seabreg Maaf Buatmu ( Lomba Blog 2006 )

Maaf…sorry…maaf
Selalu kata itu yang kamu ucapkan,
Ketika kamu dulu berbuat salah,
Entah apa maksudmu,
Tapi kamu selalu saja seperti itu,
Tak mau menutup lukaku,
Malah mencoreng isi hatimu,
Dengan kata,
Maaf…sorry…maaf

Ketika pertama kali kamu mengucapkan,
Maafkan aku Sayang…
Aku menangis, aku peluk kamu,
Berharap kamu akan sadar,
Tapi kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya,
Kamu enteng mengatakan,
Maaf…sorry…maaf,
Sempat aku berfikir,
Mengapa kata maaf tidak dalam artinya buat kamu,
Bahkan mungkin tidak ada artinya buat kamu,
Sampai air mata ini mengering, kamu takkan pernah tau,

Lalu…dikala aku telah bosan mendengar maafmu,
Selamanya kamu tidak pernah mengatakan maaf lagi,
Kamu hanya diam…, diam…, dan pergi,
Kutagih maafmu, dan kamu meringis,
Memangnya kamu tidak salah juga?
Itu kata-kata yang kamu ucapkan,

Namun…Ketika aku sekali berbuat salah kepadamu,
Dan aku sangat menyesal,
Kamu tak menghiraukan ucapan maafku,
Maafku yang pertama sampai maafku yang ke seratus,
Kamu tetap diam, angkuh, kemudian pergi…

Sembilan tahun aku selalu memaafkanmu,
Sampai akhirnya di tahun ke sepuluh, kamu menjabat tanganku,
Untuk kembali lagi meminta maaf,
Saat itu pula aku tulus memberi maaf,
Tapi kemudian kamu meninggalkanku…
Sudah kuberikan seabreg maafku buat kamu,
Sampai sudah habis…habis….habis sudah ! maafku padamu,
Semoga kamu mau belajar hakikat yang sebenarnya dari kata maaf.


Semarang, 8 November 2006
*terinspirasi setelah mendapatkan telepon seorang sahabat*

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 6:33 AM ¤ Permalink ¤ 0 comments
Wednesday, November 08, 2006
Mystery of Love ( I )
Aku bertemu pertama kali denganmu di Trafalgar Square, London.
Saat itu musim dingin,…
Kau memakai mantel abu-abu gelapmu, berdiri terdiam menikmati rintik salju.
Jarakku hanya 10 meter di samping kirimu dan pandanganku hanya terpaku ke kamu.
Tiba-tiba matamu melihat ke arahku, dan kurasakan pipiku menghangat seketika.
Kamu memberikan senyummu, senyum termanis yang pernah kulihat dari seorang pria.
Aku ragu apakah senyummu untukku…aku pun melihat ke arah samping dan belakangku, tapi yang ada hanya aku.
Kamu tertawa kemudian, membuat pipimu yang kemerahan semakin tembem, tapi aku suka…suka sekali.
Aku pun memberikan senyumku untukmu, aku usahakan senyum itu indah di matamu.
Hi…It’s really cold yeah?” Suaramu terdengar merdu saat itu…berat dan sangat tenang.
Yes…I am lucky that my nose isnt bleeding”. Ugh..sepertinya suaraku terdengar grogi dan gemetar…
“Dari Indonesia ya Mbak?” Kamu mendekatiku, “Kok bisa tau aku dari Indonesia?” Aku bertanya heran.
“Dari logat dan penampilan fisikmu.” Sekarang kamu berdiri tepat di depanku…Ah, semakin dekat semakin tampan mukamu, sedikit chubby sesuai tipeku. Umurmu sekitar 35 tahun, matamu teduh, bibirmu tipis, dan baru kusadari ada tahi lalat di ujung hidungmu. Aku pun tersenyum.
“Ada apa? Ada yang aneh dengan muka saya?”
Waks, malunya aku, ah kemana akal sehatku sehingga bisa bertingkah bodoh di depanmu.
“Saya dari Solo tapi lama di Singapura, kalau Mas?” suaraku sudah mulai kedengaran normal, tepatnya aku usahakan senormal mungkin
“Dari Jakarta, panggil saja saya Nata.” Kamu mengulurkan tanganmu untuk berjabat tangan.
“Ara.” Ah, walau kulit tangan kita berdua dibatasi oleh kaus tangan tebal, tapi genggaman tanganmu sangat erat.
Itulah sekelumit perkenalan kita, aku masih mengingatnya sampai sekarang, dan terus tersenyum di kala mengingatnya.
Namun, aku sedikit kecewa waktu itu, ketika mendengar bahwa kamu sudah menikah dan memiliki 2 orang putri, karena sewaktu aku mencuri pandang ke arah jari manismu, tidak ada suatu simbol pun yang menyatakan engkau telah menikah. Namun, aku terkesan dengan kejujuranmu.


Tapi mungkin saja kamu jujur karena memang tidak ada minat denganku yah…

To be continued...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 10:20 AM ¤ Permalink ¤ 11 comments
Tuesday, November 07, 2006
Memories
Taukah kamu...
Sejak semalam aku teringat padamu,
Teringat kenangan indah tentang kita,
Kebersamaan yang pernah kita jalani,
Terakhir kebersamaan kita di Taman Safari Prigen,
Paling berkesan buatku,
Karena aku sama sekali tak tau...
Saat itu kamu telah menyimpan api dalam hatimu,
Tapi kamu pintar menyembunyikannya...
Dalam senyummu, tawamu, perhatianmu,
Kamu hangat sekali saat itu,
Memanjakanku dalam sandiwaramu,
Taukah kamu...
Senyummu masih terkenang dalam hatiku,
Alis tebalmu yang sering kugarisi dengan jari telunjukku,
Bulu mata sayumu, yang sering aku sentuh dengan jariku sewaktu kamu tertidur,
Tahi lalat di bibir atasmu yang masih kuingat,
Ujung hidungmu yang dulu sering kuremas...
Sampai kamu terengah-engah menahan napas,
Badanmu yang dulu sering aku peluk dari belakang...
Sewaktu kamu sedang bercukur di depan cermin,
Ciumanmu yang terasa basah di bibirku...
Saat kamu berpamitan untuk kerja,
Bulu tipis di dadamu yang dulu sering aku ciumi di kala kita...
Ah sudahlah...
Pagi ini aku akan singkirkan lagi kenangan indah tentangmu,
Tapi aku akan membiarkannya...
Ketika kenangan itu hadir lagi sesaat dalam pikiranku,
Hanya untukku...Ya..hanya untukku

Semarang, 31 Oktober 2006

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:40 AM ¤ Permalink ¤ 5 comments
Monday, November 06, 2006
Cerpen Pertamaku
Ah, akhirnya cerpen pertamaku selesai juga, selama 2 hari aku membuatnya...*capeee deeeh*
Sebetulnya sebelum ini, aku juga udah pernah buat cerpen-cerpen, hanya saja tidak pernah sampai selesai, keburu blank pas sampai di tengah-tengah cerita, so baru ini yang bener-bener sampai the end.
Setelah jadi, kok bingung mau dikasih judul apa ya...setelah mikir2, sambil mandi kembang *halah* , akhirnya daku pilih judul Mystery of Love.
Tapi itu lom final kok, sapa tau setelah dibaca2 lagi,...akan ada judul yang lebih pas.
Insya Allah pertengahan November, aku coba posting di sini. Tapi aku bagi-bagi sesuai chapternya.
Tapi rada ga pede sih, huhuhu, maklum ini yang pertama bow...
Siapa ya yang ngomporin aku untuk buat cerpen kemarin-kemarin itu, ayooo tanggung jawab deh. pokoknya harus baca !!
Tunggu aja deh tanggal mainnya....

Regards,

-Tia-


Ini sedikit cuplikannya dari Chapter I :

Aku bertemu pertama kali denganmu di Trafalgar Square, London.
Saat itu musim dingin,…
Kau memakai mantel abu-abu gelapmu, berdiri terdiam menikmati rintik salju.
Jarakku hanya 10 meter di samping kirimu dan pandanganku hanya terpaku ke kamu.
Tiba-tiba matamu melihat ke arahku, dan kurasakan pipiku menghangat seketika.
Kamu memberikan senyummu, senyum termanis yang pernah kulihat dari seorang pria.
Aku ragu apakah senyummu untukku…aku pun melihat ke arah samping dan belakangku, tapi yang ada hanya aku.

Dan ini dari Chapter II :

Sewaktu menikmati malam bermandikan cahaya lampu di Tivoli, Copenhagen. Kembali aku melihat sosokmu. Dirimu sedang menikmati alunan musik biola dari pengamen jalanan. Kali ini kamu memakai jaket kulit biasa, karena udara di malam hari yang tidak begitu dingin. Aku sangat ingin menyapamu, tapi aku ragu kamu masih mengingatku. Aku pun berjalan cepat melewati belakang tubuhmu. Dan kudengar suara yang paling aku idam-idamkan di dunia ini memanggilku.


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:15 AM ¤ Permalink ¤ 10 comments
Thursday, November 02, 2006
The Sadness ( Lomba Blog 2006 )

Tak tau lagi bagaimana isi hatimu tentang aku,
Dasarnya hati manusia tak ada yang bisa menduga,
Aku yang melukaimu,
Aku yang mengecewakanmu,
Aku yang terlalu naif untuk menyadari akibatnya...
Tiada yang membuatku gundah selain luka di hatimu yang sudah aku torehkan,
Tiada yang membuatku resah selain kepercayaanmu padaku yang terkikis,
Tiada yang membuatku gelisah membuatmu bersedih karena aku,
Sungguh aku tak berdaya meyakinkanmu...
Bahwa aku sama sekali tak ada maksud untuk melukaimu,
Orang yang kusayang dan kucinta,
Dengan amat sangat, bahkan lebih besar dari rasa cinta pada diriku sendiri,
Jangan hempaskan aku...
Dalam lubang sempit dan kotor,
Atas nama pengkhianatan harga dirimu,
Berikanlah aku kesempatan,
Untuk membuat kamu bangga miliki aku,
Membuat kamu bahagia denganku, adalah impianku,
Maafkan aku sayang...dari lubuk hatiku...maafkan aku

Semarang, 19 Oktober 2006


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:20 PM ¤ Permalink ¤ 2 comments