Google
 
Wednesday, February 28, 2007
Star
 
posted by angin-berbisik at 8:16 AM ¤ Permalink ¤ 10 comments
Tuesday, February 27, 2007
Mommy's Poem For Baby Aisha

Anakku,...
Aku cinta sekali padamu,
Walau kutahu, tak boleh mencintaimu secara berlebih,
Tapi tetap saja kubisikkan I Love You berulang-ulang di telingamu,
Anakku,...
Andai kebahagiaanku bisa kuberikan kepadamu,
Andai aku bisa menghalangi nestapa yang akan dihadapimu,
Aku akan ikhlas melakukannya,
Anakku,...
Aku haus akan kasih sayangmu,
Setiap saat aku masih merasa rindu denganmu,
Aku telah menyandu berdekatan dengan dirimu,
Anakku,...
Engkau segalanya bagiku,
Lentera terang di tengah kegelapan malam,
Semangatku untuk keluar dari badai kehidupan,
Anakku,...
Jika kelak aku menegurmu,
Yakinlah itu bukti aku peduli denganmu,
Jika kelak aku menghukummu,
Yakinlah itu untuk pelajaran hidupmu,
Dan jika kelak aku khilaf dan mengatakan kepadamu kalimat yang buruk,
Yakinkan hatimu kalau ucapan itu adalah dustaku belaka,
Anakku,...
Kamu anak paling manis di dunia Mami,
Kamu anak paling cerdas di alam raya hati Mami,
Dan kamu anak yang paling Mami inginkan,
Paling mengerti Mami,
Ketahuilah Sayang...
Sungguh beruntung Mami mendapatkan kado indah sepertimu,
Anakku,...
Cinta Mami, sampai akhir zaman kepadamu,
Tiada yang akan menggeser kedudukanmu di hatiku...
Kamulah makrokosmos hatiku...

Semarang, Februari 2007

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 10:45 AM ¤ Permalink ¤ 14 comments
Wednesday, February 21, 2007
Libur Ngeblog
Ass.Wr.Wb.

Alow...berhubung hari Kamis Malam - Senin saya berada di Surabaya dan kemungkinan sehari juga saya ke Malang ( nostagila bersama seorang teman *halah* ), so saya libur ngeblog dulu yaa, tapi jangan khawatir, saya udah posting juga cerpen terbaru saya yang baruuu aja saya tulis semalam, tapi belum sempat saya kasih judul, sepertinya cukup deh baca cerpen saya sambil nunggu saya jalan..eh nggak dink, ke Surabaya bukan dalam rangka jalan2 tapi mencari peruntungan, hehehe, do'akan saya yaaa, wish me luck!! Piss!!

Maaf ya kalau cerpennya kepanjangan banget :) biasa deh, keasyikan ngarang sampai ngga terasa udah sampai 8 halaman ( dengan single paragraf ), ini cerpen pertama saya yang kesannya Islami banget, wah mudah2an tidak ada salah dalam perkataannya yah, kalau pun ada, maafkan saya, swear gak sengaja. :) Oke deh, selamat menikmatinya....

Btw otw busway bajay...Ini bukan cerita pribadi saya ya, kalau pun cerpri, boleh juga saya dapat suami kayak Ustadz Ali ( ada yang mau daftar? hehehe )

Wass.Wr.Wb


angin-berbisik

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 10:06 AM ¤ Permalink ¤ 23 comments
Cinta Halimah

Aku rindu mencium tangan suamiku,
Aku rindu memasak makanan kesukaannya,
Aku rindu menuangkan air minum untuknya,
Aku rindu menunggunya pulang dan menyambutnya,
Aku rindu memijat punggungnya,
Aku rindu memeluk tubuhnya,
Aku rindu…

Halimah membaca tulisan yang ditulis oleh anaknya di secarik kertas, yang dia temukan di meja makan, tak kuasa air mata menetes di pipinya, dalam hati berkecamuk sebuah pertanyaan, apa maksud anaknya menuliskan kata-kata itu. Kemudian dengan sekali usapan, disekanya pipi yang basah tersebut dengan tangannya.
“Dija, Dijaa….” Dengan lembut Halimah memanggil anak satu-satunya, buah cintanya dengan sang Suami yang telah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu.
“Iya Bunda.” Dija berjalan cepat dari arah dapur menuju ruang tengah tempat Bundanya berdiri, kemudian sejenak dia melihat Bundanya memegang secarik kertas, kertas yang dia tulis pagi tadi setelah shalat subuh.
“Bunda,….sudah baca?” Dija bertanya kepada Bundanya, merasa tidak enak.
Halimah hanya mengangguk pelan, “Tulisan yang bagus Dija…Bunda merasa terharu.”
Dija tersenyum, perasaan lega menggantikan perasaan tidak enak yang sempat menjalari tubuhnya,”Bunda tidak menanyakan, apa maksud Dija menulis kata-kata itu?”
Halimah menarik kursi di belakangnya, kemudian duduk dengan perlahan,”Dija ingin Bunda menikah lagi?”
Dija kembali tersenyum, rona merah muda menjalari wajahnya yang putih,”Agar Bunda tidak kesepian.”
“Bunda tidak pernah merasa kesepian, ada Dija, ada kegiatan yang menyita waktu Bunda, dan ada Allah yang menemani Bunda.” Halimah tersenyum lembut kepada Dija.
“Dija tahu Bunda tetap merindukan seorang suami.” Dija lalu duduk bersimpuh di dekat Halimah, meletakkan kepalanya di pangkuannya, mengharap Halimah akan mengelus lembut rambutnya seperti biasa.
Benar saja, Halimah membelai lembut rambut panjang Dija yang saat itu tidak tertutupi jilbab, karena hanya mereka berdua yang ada di dalam rumah.
“Dari mana Dija tahu…Bunda kan tidak pernah berkata seperti itu.” Halimah memindahkan elusannya pada kening Dija.
“Bunda…Dija tahu di setiap Bunda shalat malam, Bunda selalu minta agar Allah memberikan seorang Ayah untuk Dija. Dija pernah lihat Bunda sampai menangis ketika berdoa.”
“Ah…tahu dari mana Bunda sampai menangis?”
“Bibir Bunda bergetar…”
Sementara elusan tangan Halimah berhenti, “Dija ngintip Bunda yah, waktu Bunda Shalat malam?”
“Dija bisa dengar dari doa yang diucapkan Bunda dengan suara bergetar…”
Dija mengangkat kepalanya, kemudian mencium tangan Bundanya berkali-kali.
“Lalu dalam hati Dija berkata kepada Allah, kabulkanlah doa Bunda Hamba ya Allah… Bahagiakanlah Beliau yang selalu mendoakan kebahagiaan Hamba. Betapa sayangnya orang semulia Bunda Hamba apabila hidupnya tidak bahagia…” Dija mengucapkan kata-kata itu dengan lancar, mata bulatnya mengerjap polos memandang wajah Halimah, Bundanya.
Halimah tak kuasa menahan haru, matanya mulai berkaca-kaca, kemudian dia menarik Dija untuk dipeluknya,”Subhanallah Ya Allah, engkau berikan aku anak yang sholehah.”
Dibisikinya telinga Dija,”Apakah engkau jelmaan malaikat Anakku, sehingga Bunda selalu tak kehilangan arah ketika goyah, dan apakah engkau jelmaan bidadari Anakku, sehingga Bunda selalu merasa..”
“Bahagia ketika susah.” Dija melanjutkan kata-kata yang biasanya selalu dibisiki Bundanya menjelang tidurnya.
“Menikahlah Bunda….” Dija menatap Bundanya, dia sungguh-sungguh dengan perkataannya barusan.
“Bagaimana Bunda bisa melupakan almarhum Ayahmu Dija…bahkan wangi tubuhnya saja masih terngiang-ngiang di seluruh isi ruangan di rumah ini.”
“Sudah sepuluh tahun yang lalu Bunda.”
“Tetapi masih terasa seperti kemarin saja meninggalnya Dija…”
Dija hanya bisa menatap Bundanya, sedih.
Sudah berkali-kali Dija menyarankan kepada Bundanya untuk menikah lagi. Bahkan sewaktu dia masih duduk di kelas tiga SD, dia pernah merajuk tidak mau sekolah karena diejek oleh teman-temannya karena tidak ber Ayah. Delapan jam lamanya dia mengunci diri di dalam kamar, Bundanya tidak pernah lelah membujuknya keluar, namun tidak pernah terdengar bentakan kasar yang keluar dari mulut Bundanya, Bunda hanya mengetuk pintu beberapa kali, menasihati dengan lembut, menawarinya makan, dan sisanya hanya diam. Dan ketika delapan jam dia mengunci diri, akhirnya dia pun membuka pintu karena lapar, dan ternyata dia mendapati Bunda sedang duduk tertidur di samping pintu kamarnya dan di pangkuan Bundanya terletak piring dengan nasi dan lauk yang masih utuh. Kemudian dia memakan nasi dan lauk tadi dengan menangis tertahan sambil menatap wajah Bundanya yang masih tertidur pulas. Dan sejak saat itu, dia bertekad tidak akan malu lagi karena dibesarkan oleh Bundanya yang seorang janda. Bahkan dia merasa sangat malu terhadap Bundanya. Perasaan bersalah kepada Bunda karena Bunda sudah mampu membesarkan dia seorang diri, sedangkan dia tidak tahu berterima kasih.

Di kampungnya baru datang seorang Ustadz dari kota terdekat, Ustadz Ali namanya. Ustadz tersebut menggantikan Ustadz Ahmad yang selama ini mengelola masjid di kampungnya. Ustadz Ahmad mempunyai istri keturunan Palestina, yang didapatnya saat menuntut ilmu di Mesir sana, dengan Zulaika, nama istrinya yang sudah lancar berbahasa Indonesia, bahkan bisa juga berbahasa Jawa, Ustadz Ahmad mempunyai tiga orang anak. Kabarnya Ustadz Ahmad mendapat tawaran untuk mengajar di sebuah pondok pesantren terkenal di pulau Jawa, oleh sebab itu dia mengutus Ustadz Ali, yang merupakan adik kelasnya sewaktu di Mesir untuk menggantikannya mengelola masjid sekaligus melanjutkan syiar nya di kampung sini.
Ustadz Ali adalah pria Jawa yang tutur katanya sangat halus, dia sangat menjaga pergaulan, bahkan dia tidak berani memandang wajah wanita yang bukan muhrimnya,
Jadi kalau diajak bicara oleh Ibu-ibu di kampung, Ustadz Ali hanya menjawab sekedarnya dengan suara pelan dan menundukkan kepalanya.
Setiap sore Dija belajar Alquran dengan Ustadzah Ratna, Ustadzah Ratna sudah menikah dan mempunyai dua orang putera, salah satunya yang sulung teman sekelas Dija. Ustadz Ali hanya mengajar ngaji kepada santri-santri lelaki, sedangkan Ustadzah Ratna mengajar santri-santri perempuan, hanya sewaktu Ustadz Ali memberikan ceramahnya, remaja-remaja santri itu bisa berkumpul bersama, tapi tetap saja dibatasi oleh kain.
Wa ‘I djaa sa ‘a laka ‘ibaa dii ‘annii fa’innii qoriib. ‘u jiibu da’wataddaa ‘I djaa da ‘a ni falyastajiibuu lii walyu’minuu bi la’allahum yar tsuduun” Suara Dija bergetar ketika membaca ayat ke 186 Surat Al-Baqarah, tampak kesedihan yang mendalam dalam suaranya.
“Dija, kamu tak pa-pa?” Ustadzah Ratna atau yang biasa Dija panggil Ibu Ratna menatap gadis berumur 15 tahun itu.
“Mengapa Allah tak mengabulkan do’a Bunda dan do’a saya Bu, padahal kami sudah dekat oleh Nya seperti janjiNya dalam ayat tadi?”
“Astagfirullah Dija, janganlah berpatah semangat dalam meminta kepada Allah, mungkin saja terkabulnya do’a seorang hamba kepadaNya tidak terpenuhi waktunya sesuai kehendak kita, melainkan semua itu rahasia Allah, mungkin saja ini adalah ujian supaya Hambanya semakin tebal keimanannya, dan semakin dekat kepadaNya…yang sabar Dija.”
Mendengar nasihat Ibu Ratna, Dija langsung terisak dan menangisi kekhilafannya, berulang-ulang kalimat istigfar keluar dari mulut mungilnya.
“Di..ja…hanya ingin suami untuk Bunda…” dengan terpatah-patah dia mengucapkan hal itu kepada Ibu Ratna.
“Insya Allah, mudah-mudahan Allah mendengar do’amu Dija.” Ibu Ratna berkata pelan, hatinya getir, terharu melihat pemandangan di hadapannya.

Halimah asyik menjahit baju Dija yang robek karena tersangkut paku, di kamarnya. Tiba-tiba dari bawah pintu kamarnya yang tertutup menyembul perlahan-lahan secarik kertas. Halimah tersenyum, kemudian meletakkan baju Dija di atas meja tulis almarhum suaminya. Dia menarik kertas di bawah pintu itu.
Apakah Bunda kesepian? Bidadari Dija sudah selesai buat peer, dan siap menemani Bunda.
Halimah membuka pintu kamarnya dan sudah ada Dija yang berada di baliknya.
“Sudah selesai peermu Nak?” Bunda berkata sambil berjalan menuju meja tulis, hendaknya dia ingin melanjutkan jahitannya.
“Sudah Bunda, mau tidur-tiduran saja sekarang, sambil lihat Bunda menjahit.” Dija menghempaskan tubuhnya ke ranjang di samping meja tulis.
“Bunda pernah dengar tentang Ustadz Ali?”
“Pernah, Ibu-ibu pengajian sering ngomongin tentang Ustadz Ali.”
“Oh, apa katanya?”
“Banyak yang ingin menjodohkan Ustadz Ali dengan anak gadis mereka.”
“Nggak mungkin Ustadz Ali mau dengan anak gadis mereka Bunda, lagak mereka kan sudah seperti cewek kota yang di tivi, tidak berjilbab, berpakaian ketat.”
“Dija, itu ghibah namanya. Jangan seperti itu anakku…” Halimah memandang Dija tajam sambil menggelengkan kepalanya.
Dija terdiam sebentar, kemudian melanjutkan omongannya,”Bunda mau nggak kalau bersuamikan Ustadz Ali?”

Semalaman di benak Halimah terngiang-ngiang pertanyaan dari Dija. Memang sewaktu Dija menanyakannya, Halimah hanya bisa menjawabnya dengan seuntai senyuman. Semenjak Ustadz Ahmad pindah ke kota, Halimah belum pernah ikut pengajian di mushalla, entah kenapa dia merasa sedih Ustadz Ahmad sudah tidak berada di kampung lagi, karena Halimah sudah menganggap Ustadz Ahmad sebagai ayah kandungnya sendiri. Dia pun sudah merasa dekat dengan Zulaika yang dia anggap sebagai saudara. Dia sama sekali belum pernah melihat Ustadz Ali yang menurut Ibu-ibu di kampungnya terkenal rupawan dan santun. Dia tidak terlalu peduli karena cintanya kepada almarhum suami masih kuat berada di sanubarinya. Halimah masih ingat, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, suaminya pernah berkata bahwa dia tidak akan pernah merasa keberatan kalau sepeninggalnya dia, Halimah menikah lagi, karena Halimah masih sangat muda, lagipula Dija masih membutuhkan figur Ayah. Namun Halimah merasa sangat sedih dengan kata-kata terakhir Suaminya, dia hanya terus menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menciumi tangan Suaminya sampai ajal menjemputnya.

Suatu hari, di tengah sepertiga malam, sehabis shalat tahajud, Halimah merasakan rindu yang teramat sangat kepada almarhum suaminya. Dilihatnya wajah Dija yang sedang tertidur lelap, anaknya tadi sudah shalat tahajud sekitar jam 12an, sedangkan Halimah sepuluh tahun terakhir ini selalu shalat tahajud di waktu yang paling utama, yakni sepertiga malam. Rindu yang dirasakan di dalam hatinya semakin menggebu-gebu, kemudian tanpa melepas mukenanya, Halimah berjalan menuju dapur dan mengambil sentir atau lampu minyak. Di lepasnya mukena bawahannya dan dia mengambil juga jaket di belakang pintu untuk dipakainya mengusir hawa dingin. Di lihatnya lagi ke dalam kamar, Dija masih tampak terlelap. Kemudian bergegas Halimah keluar rumah dengan berbekal sentir, mengunci pintu dan berjalan menuju jalan setapak. Pagi buta itu, Halimah berjalan sendiri dengan membawa sentir ke pemakaman umum di kampungnya, tempat almarhum suaminya tidur untuk selamanya. Tidak ada sama sekali perasaan takut yang menghinggapi hati Halimah, yang ada hanyalah perasaan rindu teramat sangat kepada almarhum suaminya. Sepanjang perjalanan dirinya hanya bertasbih dengan pelan. Jarak antara rumah dengan pemakaman sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja pagi itu masih sangat gelap sehingga Halimah hanya bisa berjalan perlahan. Dilewatinya masjid yang ternyata lampunya masih dinyalakan, mungkin ada yang I’tikaf di sana, batin Halimah.
Sesampai di pemakaman, Halimah langsung bersimpuh dan membacakan surat Yaasin untuk mendiang suaminya. Sesekali tangannya dengan gesit mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas makam, tentu saja bantuan cahaya yang ada hanya dari lampu sentir milik Halimah. Ketika dia memejamkan matanya untuk sesaat, Halimah merasa sosok suaminya ikut menemaninya disana, dan ikut mengiringi ayat-ayat Yaasin yang dibacakannya. Tak terasa satu jam pun berlalu, dan Halimah baru tersadar dari keasyikannya melepas rindu ketika mendengar kumandang adzan subuh dari masjid. Halimah kemudian berdiri dan berjalan pulang ke rumahnya.

Ketika melewati depan masjid, seorang lelaki berbaju putih memandangnya, Halimah tidak berani berlama-lama menatapnya, dia kemudian hanya tersenyum tipis sambil berlalu.
“Assalaamu’alaikum Ukhti…” Suara lembut dari sosok lelaki tadi menyapanya.
Halimah memberhentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya dan menjawab salam tadi,“Wa’alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh.”
“Pagi-pagi begini, ukhti dari mana? Maaf kalau saya lancang bertanya, hanya merasa tidak lazim melihat ukhti seorang diri berjalan pagi-pagi buta begini, apakah ada yang bisa saya bantu?”
Halimah menebak dalam hati bahwa sosok di depannya ini adalah Ustadz Ali yang sering menjadi bahan perbincangan Ibu-ibu,”Saya tadi hanya menengok suami saya yang dimakamkan di pemakaman di ujung jalan sana Ust.”
Ustadz Ali terpana sesaat, “Oh Maaf, tapi kenapa tidak menunggu sewaktu terang di pagi hari?”
“Apakah rindu seorang Istri terhadap Suaminya dan keinginan Istri untuk mendo’akan almarhum Suaminya bisa ditunda Ust…dan ketika rasa rindu itu datang, obatnya apalagi kalau tidak menemui yang dirindukannya?” Halimah berkata pelan sambil terus merendahkan pandangannya.
Mendengar ucapan polos Halimah, Ustadz Ali hanya tersenyum, kemudian dia berkata,”Sebentar lagi ada shalat subuh berjamaah, Ukhti ikut saja sekalian…”
Belum selesai Ustadz Ali berkata, Halimah memotong,”Maaf Ust, sebenarnya saya ingin, tapi sudah merupakan kebiasaan saya, berjamaah berdua dengan putri saya di rumah, dan kalau Ust tidak keberatan, saya mau pulang dulu.”
“Oh, silahkan…silahkan.”
Halimah tersenyum sekilas,”Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam Warohmatullaahi Wabarokaatuh.”
Ustadz Ali berjalan menuju pintu masuk mushalla, kemudian dia berhenti dan menatap kembali jejak Halimah yang berjalan sendirian dengan lampu sentirnya, perlahan-lahan nyala lampu itu memudar lalu hilang ditelan kegelapan. Ada secercah rasa kekaguman di dalam diri Ustadz Ali terhadap sosok wanita tadi, yang ah…dia bahkan lupa menanyakan namanya.
Ah Ya Allah, pesona apa yang Engkau coba hadirkan di dalam perasaanku ini.

Ali teringat akan ucapan Ustadz Ahmad yang sudah dianggap sebagai kakak angkatnya sendiri. Beliau banyak membantu Ali sewaktu sedang menuntut ilmu di Cairo. Perkataan Beliau ini diucapkan sewaktu Ustadz Ali berpamitan hendak ke kampung untuk menggantikan Ustadz Ahmad.
“Kamu tak ingin menikah?” Suara berat Ustadz Ahmad mengagetkan Ali.
“Kakak ini bagaimana, ya jelaslah saya ingin menikah, bukankah itu juga sudah merupakan sunah Rasul?”
“Sudah ada calonnya?”
Ali menggeleng, sebenarnya calon istri sudah banyak yang ditawarkan kepadanya, bahkan Ibunya juga sudah pernah menjodohkannya dengan seorang dokter muda yang cantik jelita, anak orang terpandang pula, sayangnya dia belum berjilbab. Berat bagi Ali untuk menolak calon dari Ibunya, namun dengan bahasa dan tutur kata yang halus dia berusaha meyakinkan Ibunya, bahwa keyakinan dan keinginannya untuk memperoleh istri yang berjilbab dan sholehah sudah sangat mantap.
“Di kampung yang nanti kamu tinggali ini, ada seorang Janda beranak satu, namanya Halimah, dia sudah aku anggap seperti Putriku sendiri, dia masih muda, tetapi lebih tua empat tahun darimu. Insya Allah dia sangat sholehah, suaminya meninggal dunia karena sakit sepuluh tahun yang lalu, putrinya bernama Dija, umurnya sekitar 15 tahun.”
Ali hanya terdiam mendengar ucapan kakak angkatnya, dalam hati dia bertanya, mengapa dia akan dijodohkan dengan seorang janda dan sudah mempunyai anak satu pula. Tetapi Ali hanya menyimpan tanyanya di dalam hati. Dia tidak ingin mengecewakan Ustadz Ahmad dengan reaksinya.
Seakan bisa membaca fikiran Ali, Ustadz Ahmad tersenyum dan melanjutkan kata-katanya,”Jangan berpandangan miring tentang janda, alhamdulillah Halimah sholehah, selama ini dia terbukti bisa menjaga kehormatannya, aku hanya ingin memperkenalkanmu dengan Halimah, masalah jodoh, tentu saja Allah yang lebih berkuasa, lagipula Halimah adalah wanita yang sangat setia kepada almarhum suaminya, sudah berkali-kali lamaran yang datang kepadanya, ditampik dengan halus olehnya, dengan alasan dia masih sangat mencintai almarhum suaminya.”
Ali hanya tersenyum, dia malu ketika pikirannya bisa terbaca oleh Ustadz Ahmad.

Lamunan Ali tentang percakapannya dengan Ustadz Ahmad membawa keinginannya untuk mengenal sosok Halimah dan anaknya Dija. Sore itu sebelum pengajian untuk santri remaja dimulai, Ali mendekati Ustadzah Ratna, yang dipanggilnya dengan sebutan Mbak Ratna.
“Mbak Ratna, santri yang bernama Dija itu yang mana ya?”
“Oh, itu yang pakai jilbab lebar berwarna hijau itu Ust, hmm…ada apa ya Ust? Dija rutin belajar mengaji sama saya, dia sudah khatam lima kali-an… itu yang di masjid, sedangkan kalau di rumah, setiap hari mengaji setengah juz bersama Ibunya, bahkan sekarang dia sudah hapal lima juz.”
Berdesir dada Ali ketika mendengar cerita Ustadzah Ratna, semakin penasaran hatinya dengan sosok Ibu yang mempunyai anak sholehah seperti Dija.
“Orangtuanya beruntung sekali mempunyai anak serajin Dija dalam mengkaji kebesaran Alquran.”
“Sayangnya, Dija sudah tidak mempunyai Ayah Ust, sudah meninggal, dia tinggal hanya berdua dengan Ibunya, namanya Halimah.”
“Ooh, semoga Allah selalu melimpahi Ibu Dija dengan rahmatNya.”

Sesudah mengetahui tentang Dija dan Halimah dari cerita Mbak Ratna, Ali terus saja melakukan I’tikaf di masjid, tak henti-hentinya dia bermunajat kepada Allah, Tuhan semesta alam ini, berkali-kali beristikharah karena saat ini dia juga tidak bisa melupakan sosok wanita yang dijumpainya pagi-pagi buta tempo lalu dengan membawa lampu sentir, aneh memang, baru sekali berjumpa, tapi sosoknya susah dilenyapkan dalam pikirannya. Kalimat santun yang diucapkan wanita itu, mata wanita itu yang tidak berani berlama-lama memandangnya. Tapi dia juga tidak bisa melupakan karisma yang terdapat dalam diri Halimah, janda yang sholehah. Apalagi Ustadz Ahmad lah yang memberikan rekomendasi langsung kepadanya.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang lagi, hati Ali sudah sangat bulat.

“Kak, tolong lamarkan Halimah untukku, hmm maksudku, karena aku tak lagi mempunyai Ayah, tolong kakak temani Ibuku melamar Halimah.” Ali meminta kepada Ustadz Ahmad lewat telepon.
“Alhamdulillah Dik, ini benar murni dari hatimu?” Suara Ustadz Ahmad terdengar suka cita.
“Insya Allah Kak.” Suara Ali terdengar mantap.
“Tentu saja Kakak akan bantu melamarnya, tapi hendaknya biar Zulaika istri Kakak bicara dulu dengan Halimah, bertanya apakah dia mau melepas masa jandanya.”
Ali terdiam, tiba-tiba saja dalam hatinya ada rasa kekhawatiran kalau saja Halimah menolak pinangannya.
“Tenang saja Dik, terus berdo’a dan bermunajat kepadaNya, kalau dia jodohmu, kalian tetap akan dipersatukan.”
Nasihat Kakaknya barusan seperti siraman air dingin di kepalanya, mengapa dia sudah seperti orang yang sangat jatuh cinta begini, padahal melihat sosok Halimah saja dia belum pernah.
“Baiklah Kak, terimakasih ya…”

Halimah tak percaya ketika kedatangan Zulaika di sore itu guna menawarkan calon suami untuknya. Berkali-kali Halimah berdehem dengan agak keras, supaya Dija yang mengintip dari balik pintu tidak mencuri dengar percakapan antara dirinya dengan Zulaika.
Zulaika tersenyum ke arah pintu, kemudian dia berkata,“Kamu jangan egois Limah, kasihan Dija, sudah lama dia merindukan figur seorang Ayah.”
“Bukan begitu maksud saya Kak, saya juga kasihan terhadap Dija, tetapi masalahnya, saat ini saya masih mencintai almarhum suami saya, saya khawatir kalaupun saya menikah nantinya, saya tidak bisa mencintai suami saya seperti saya mencintai almarhum, dan jika suami saya cemburu dengan sikap saya, apakah ini namanya saya hanya menambah dosa baru?”
“Limah tentu saja, kalau calon suami kamu yang ini adalah calon suami yang sholeh, dia tentunya bisa memahami kamu, dan Limah, tolong jangan kamu tutupi hatimu dengan tetap mencintai almarhum saja, hidup masih terus berjalan, kamu masih muda, dan kamu masih tetap bisa mencintai almarhum dan juga mencintai orang lain, suami kamu nantinya.”
Halimah hanya bisa menatap Zulaika, hatinya gundah.
Terdengar suara pintu terbuka, dan kepala Dija menyembul keluar,”Iya Bunda…fikirkan lagi kata-kata budhe Zul, Dija juga ingin Bunda lebih bahagia, ada yang nemenin kalau misalnya Dija sudah menikah nanti.”
Halimah hanya bisa menatap Dija, dia heran mengapa anaknya bisa mengucapkan kalimat sejauh itu. Lalu Halimah memandang Zulaika yang tersenyum mendengar penuturan polos Dija. Mau tak mau, Halimah pun ikut tersenyum.
“Sebenarnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, almarhum juga sempat berujar, mempersilahkan saya untuk menikah lagi.” Halimah mengatakan juga rahasia yang selalu dipendamnya itu.
“Almarhum suamimu orang yang sangat baik, tunggu apa lagi Limah, sudah sepuluh tahun engkau menjaga setiamu, padahal dia pun sudah mengizinkanmu menikah lagi.”
Halimah terdiam sebentar, kemudian dia memandang wajah Dija yang tersenyum memandangnya, lalu dia bertanya kepada Zulaika,”Baiklah, siapa yang akan dijodohkan Ustadz Ahmad kepadaku.”
“Minggu depan Suamiku beserta Ibunya dan tentu saja dia, akan datang melamarmu.”
“Dia? Dia siapa Kak?”
“Dia sepertinya tahu tentang kamu Limah, hanya saja katanya dia belum pernah melihat wajahmu, tetapi dia sering melihat Dija.” Zulaika tersenyum simpul kepada Halimah.
Halimah kemudian menatap Dija seolah bertanya, dan Dija hanya memberikan jawaban berupa gelengan kepala.

Hari Minggu itu sudah tiba. Pagi-pagi sekali Halimah bangun dan menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut tamu yang akan datang. Dija ikut bersemangat membantu Bundanya. Orangtua Halimah sudah lama meninggal, dan dia tidak punya saudara sekandung, jadilah dalam menghadapi lamaran itu, dia mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Hanya nanti Mbak Ratna dan suaminya sebagai pengganti keluarga Halimah yang akan menyambut kedatangan rombongan dari calon Suami.
“Bunda, matahari sudah agak tinggi, sudahlah biar Dija saja yang menyelesaikan semuanya, Bunda berdandan saja di kamar.”
“Kamu tak pa-pa Bunda tinggal berdandan? Biarlah Bunda saja yang menyelesaikannya, tanggung.”
“Jangan Bunda, nanti kalau mereka datang…Bunda masih berantakan, belum berdandan, bisa pulang lagi dong mereka.”
Halimah menyentil ujung hidung Dija,”Iih sayang, do’anya kok jelek.”
“Makanya, Bunda dandan dulu ya di kamar.”
“Iyaa iyaa…Itu jangan lupa pandan ama batang serehnya dimasukkan ke ceret, biar wangi jahenya.”
“Beres Bun…”

Hati Ali bergetar sangat hebatnya ketika melihat sosok yang ada di depannya, walau dia hanya sesekali melihat dengan sekilas, tapi dia sudah sangat yakin bahwa Halimah yang didepannya ini, sama dengan wanita yang berjalan pagi-pagi buta dan memegang sentir. Ternyata mereka adalah sosok yang sama. Tangannya menjadi sangat basah berkeringat, berkali-kali keringat juga menetes dari dahinya. Sementara itu jantungnya berdebar semakin kencang, bahkan ia sempat khawatir juga kalau Ustadz Ahmad yang duduk di sebelahnya bisa mendengar debaran jantungnya. Rasanya Ali sudah jatuh cinta kepada Halimah.
Halimah yang duduk diseberangnya, diapit oleh Mbak Ratna dan Dija juga sesekali mencuri pandang ke Ustadz Ali, hatinya tak henti-hentinya memanjatkan syukur kepada Allah, karena ternyata yang melamarnya adalah Ustadz Ali, pria yang pernah menyapanya seusai dia menengok makam Almarhum Suaminya pagi-pagi buta, ah teringat kembali akan almarhum, membuat hatinya berbisik, Suamiku, restuilah pernikahanku ini, kedudukanmu masih sama di hatiku…
Ya, Halimah kemudian menerima lamaran Ustadz Ali.
Tampak Dija tersenyum senang, sewaktu rombongan Ustadz Ali berpamitan, Dija menghampiri Ustadz Ali, dan mencium tangannya. Semua menjadi terharu, terutama Halimah. Dia tidak menyangka Dija bakalan segembira itu. Andai dia memberikan kebahagiaan itu sedari dulu.
Saat Ustadz Ali melihatnya sebelum pergi, Halimah memberikan senyuman termanis kepada calon Suaminya. Tampak rona merah dari wajah bersih Ustadz Ali. Bahkan dia menjadi agak tersandung dalam melangkah. Halimah pun tersenyum simpul, malu ketika kejadian itu dilihat juga oleh Ustadz Ahmad.

Akad nikah diadakan di dalam masjid, sebagai mas kawinnya, Ustadz Ali memberikan Al Quran yang sangat indah, yang dia beli sewaktu di Cairo dan hapalan surat Al-Insaan yang dibaca sendiri oleh Ustadz Ali. Air mata Halimah menetes haru ketika Ustadz Ali membaca ayat yang berbunyi, "Wa minallaili fausjud lahu wa sab bihhu thowiilaa…" ( Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari ) Halimah merasa, ayat itu mengingatkan pertemuan dia yang pertama kali dengan Ustadz Ali, karena saat itu, sebenarnya dalam hati Halimah juga sudah mulai ada rasa simpati, hanya saja karena dia merasa rendah diri karena dirinya adalah seorang janda, dan juga karena cintanya kepada almarhum suaminya lah yang bisa menyingkirkan perasaan itu dari hatinya.
Selesai akad, ternyata Ustadz Ahmad telah mempersiapkan pesta walimahan yang cukup meriah di depan masjid, seluruh penduduk kampung diundang tanpa kecuali, bahkan teman-teman Ali selama menempuh studi di Cairo banyak juga yang hadir memberikan restu. Berbagai hidangan sederhana bahkan banyak sumbangan masakan dari penduduk kampung ikut menambah perjamuan pesta. Iringan musik rebana dari SMP tempat Dija bersekolah juga menambah seru acara.
Saat Ali dan Halimah berdiri bersanding di pelaminan, tiba-tiba rekan Ali selama studi di Cairo, Burhan namanya, mendatangi Ali dan menyerahkan amplop coklat,
“Al, ini dari dosen pembimbingmu dulu, dikirim langsung dari Cairo ke alamat rumahku di Jakarta, tampaknya penting, aku tak berani buka, karena ditujukan langsung untukmu.”
Ali mengucapkan terimakasih untuk Burhan, amplop tadi dilipatnya dan dimasukkan dalam saku jasnya.

Malamnya, di saat Ali dan Halimah hanya tinggal berdua saja di dalam kamar, mereka hanya saling berpandangan dan melempar senyum. Kemudian Ali memberanikan diri, duduk mendekati Istrinya. Sambil matanya tak berkedip memandang kecantikan alami Halimah. Yang dipandang merasa jengah, malu bukan main, maklumlah sudah 10 tahun tidak ada yang memandangnya seberani ini.
“Rasanya, aku mau membersihkan sisa make up di wajahku ini Mas.”
“Jangan,…biarkan saja, aku hendak memandangnya lebih lama lagi, nanti aku bantu Dinda membersihkannya, ya…?” Suara Ali terdengar sangat manja sekali, membuat Halimah tersenyum, dia bertambah malu, tetapi senang dipanggil Dinda oleh Suaminya.
“Aku mencintaimu Dinda, apakah Dinda mencintaiku juga?” Ali memandang lekat wajah Istrinya.
“Iya Mas.” Halimah mengangguk.
Kemudian Ali mendekatkan wajahnya ke wajah Halimah, kemudian dikecupnya pelan kening Halimah, bibirnya lalu pindah ke pipi kanan dan kiri Halimah, kemudian tiba-tiba Ali teringat sesuatu, dia merogoh ke dalam saku jasnya, amplop coklat yang diberikan Burhan kepadanya tadi siang.
Ali menatap Halimah,”Sebentar ya Sayang, aku penasaran dengan isi amplop coklat ini, yang mengirimkan Syeikh Hasan Syakir, dia pembimbingku skripsiku dulu sewaktu di Cairo.”
Halimah hanya bisa mangangguk sambil tersenyum, padahal dalam hatinya kecewa juga, karena dia sudah sangat berdebar-debar menantikan ciuman lanjutan dari Suaminya.
Ali merobek pinggiran amplop tersebut dengan cepat, membuka lipatan kertas dan kemudian dengan lambat dia membaca tulisan yang ada di kertas surat dalam amplop coklat tersebut.
Lama Halimah menatap Suaminya sambil mengira-ngira apa isi surat tersebut, karena dilihat wajah Suaminya tampak serius membaca.
Tiba-tiba saja, Ali mengucapkan Hamdalah, dan melakukan sujud syukur di tepi ranjang. Halimah masih terheran-heran dengan perubahan sikap Suaminya, kemudian selesai Ali sujud syukur, dia pun bertanya kepadanya.
“Aku mendapatkan beasiswa untuk S2 di Al Azhar, Dinda, di Cairo, tentu saja aku senang, tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan emas seperti ini.”
Namun, tiba-tiba saja Halimah tak mampu untuk tersenyum, dia sedih karena belum siap ditinggal pergi lagi oleh Suami yang baru saja menikahinya.
Seakan tahu tentang perubahan raut muka Halimah, Ali berbisik pelan di telinga Istrinya,”Tentu saja kamu dan Dija akan aku ajak serta, aku tak bisa hidup berjauhan dengan kalian. Nanti disana aku juga akan menyambi mencari pekerjaan, Dinda tenang saja.”
Dan Halimah pun tersenyum, bahagia.
Sebelum mereka melakukan kegiatan ala pengantin baru, Ali mengajak Istrinya terlebih dahulu untuk shalat sunnah untuk mensyukuri kejadian hari ini, untuk pernikahan mereka dan beasiswa S2 Ali. Dan juga mengirimkan do’a kepada Almarhum Suami Halimah.

Malam dengan sejuta bintang berpendar di atasnya, seakan membentuk seuntai senyuman bahagia mengiringi kebahagiaan sepasang Suami Istri baru, Ali dan Halimah.

****

Puri Anjasmoro, 20 - 21 Februari 2007 ( 21.00 - 03.00 )
Image from corbis.com

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:51 AM ¤ Permalink ¤ 6 comments
Monday, February 19, 2007
Kopdar di Gama dan Malming di E Plaza
Hari Sabtu kemarin, saya diajak pergi lunch bareng oleh Tim Pemburu Hantu atau istilah kerennya Tim Humas dari IAIN Walisongo Semarang, yang menurut saya Tim tersebut nggak ada jaim-jaimnya karena di dalamnya ada sahabat setia saya si Achie.
Tujuan mereka mengajak saya sebenarnya adalah minta diajari mengetahui lebih jauh tentang template blog. So, setelah menjemput saya di rumah, pergilah kami ke Gama Seafood, Baby nggak diajak, karena memang pada nggak ada yang ajak anak mereka masing-masing, dan lagipula sudah jadwal Baby bobok siang dan saat itu juga Baby sedang nyalon ama Eyangnya di rumah ( Rambutnya sedang di ublek ublek ama ramuan lidah buaya dan seledri bikinan sendiri ).
Ternyata jumpa fans *hahaha* dengan Mas Ojin, Achie, Cemil, Pak Sholeh, dan Bapak satunya yang saya lupa namanya *Adduh Pak, I am sorry!* berlangsung sangat berisik, karena isinya bercandaan terus…keadaan tenang hanya pas makanan datang, hehehe.
Walaupun saya udah bawa laptop untuk menerangkan segala sesuatu yang berhubungan mengenai template blog kepada Mas Ojin, tapi tetap saja kurang, jadilah saya dibooking *wah, kayak apa aja* untuk menerangkan lebih lanjut langsung ke kantor mereka di IAIN Walisongo *asal sambutannya meriah ya Mas, hehehe*.
Asyik deh pergi dengan mereka, selain servisnya memuaskan *hahaha* juga suasana santai yang mereka ciptakan, bahkan ada juga obrolan-obrolan off the record dari mereka yang tidak boleh di lansir di blog saya *hehehe*.
Dan satu lagi, ternyata mereka juga narsis2….banci kamera gitu loh…untung saja saya bawa digicam.

Foto-foto Kopdar


Tim Humas IAIN Walisongo

Mas Ojin yang gak sabaran mau makan :)

Tim Pemburu Hantu


Perjalanan saya di hari Sabtu ternyata belum berakhir, sesampainya di rumah, Budhe dan adek sepupu saya main ke rumah. Iseng saja saya ajak adek sepupu saya untuk jalan-jalan malam mingguan berdua. Karena dia malas ke mall, taulah malam minggu, mall ramenya seperti apa, pasti susah banget cari parkiran. Akhirnya kita memutuskan pergi ke E Plaza di kawasan Simpanglima, sekalian mau nyobain fasilitas hifi nya.
Karena di E Plaza juga ada yang ngerayain Imlek, jadilah menu yang kita bisa pesan sangat terbatas. Hanya menu ringan yang bisa dipesan. Jadilah saya memesan Fish n Chips ( Rp. 25.000,- ) dan Guava Juice ( Rp. 10.000,- ). Sedangkan dia pesan Calamary ( Rp. 20.000,- ) dan air mineral ( Rp. 6.500,- ). Kesimpulannya, menu yang kita pesan, enyak enyak enyak… *ala to ra’sudi ro*. Tempatnya asyik buat nongkrong dan internetan, hanya saja, malam itu saya connect ke YM dan blog saya nggak bisa, capeee deee. Kata adek sepupu saya yang sering pake wifi disitu, biasanya sih cepet, mungkin karena malming dan yang pake wifi disitu banyak. Bener aja sih, banyak juga yang bawa laptop disitu. Tapi untung aja akses ke G Mail lancar2 aja, jadinya saya malah cuap2 di milist Loenpia.
Back to E Plaza, banyak menu yang ditawarkan di sana, harganya beragam, tapi cukup menguras kantong, hehehe. Ya kalau mau ngirit internetan di sana karena tempatnya yang cozy banget, bisa pesen makanan ringan, cake, atau minuman aja. Tapi harga yang ada di buku menu, ternyata belum sama tax 10% dan service 6% lho, so jangan kaget kalau lihat nota yang disodorin waiter, harganya sudah membengkak.
Oke, demikian saja liputan kopdar dan kuliner saya di hari Sabtu kemarin.

Foto-foto Malming di E Plaza



Suasana di E Plaza *ngambil fotonya sembunyi2*


Suasana Simpang lima dr jendela


Fish n Chips


Calamary


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:11 AM ¤ Permalink ¤ 12 comments
Saturday, February 17, 2007
Puisi waktu 'Empty'

Aku sangat merindukanmu,
Hampir setiap malam aku menangisimu,
Picisan memang!
Tapi itulah kenyataannya,
Cintaku padamu begitu agung,
Begitu indah dan suci,
Aku yang tak lagi kau indahkan,
Dengan setia menantikanmu,
Uluran hatimu tuk menerimaku,
Walau kutahu itu harapan yang sia-sia!
Tahukah kamu....
Tak ada yang mampu mencintaimu seperti aku,
Aku sudah katakan kepadamu dulu,
Hanya aku yang bisa mencintaimu,
Walau hanya kusimpan dalam lubuk hati terdalamku,
Hanya aku yang sabar bersamamu,
Hanya aku yang setia kepadamu,
Dan hanya aku yang mampu menghadapimu,
Carilah cinta sejati yang takkan kautemukan,
Walau sampai ke ujung dunia, bahkan mautmu sekali pun,
Sampai saatnya nuranimu berpaling kepadaku....
Carilah yang bisa mencintai kekuranganmu,
Walau kau pun tahu yang bisa hanyalah aku....

Semarang, midnight in Februari 2007

Image from corbis.com

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:38 AM ¤ Permalink ¤ 8 comments
Friday, February 16, 2007
Benang Merah by Angin Berbisik

Benang merah dari kisah di suatu sudut café yang sepi.....


Minggu kedua di Bulan Pertama

Di dalam mobil, Malam Minggu

Raina : Mas, ada sms tuh…

Adi : Tumben malam minggu gini nggak macet yah Ma.

Raina: Ada sms tuh…

Adi : Iyaaa, nanti saja aku lihat, paling sms nggak penting.

Raina: Akhir-akhir ini kamu sering sms-an Mas.

Adi : Wajar kan? Biasa Ma, orang kantor.

Raina: Emang nggak cukup? Delapan jam kerja di kantor, bahkan akhir-akhir ini kamu juga sering lembur kan Mas.

Adi : ….

Raina: Buka dulu smsnya, siapa tahu ada berita yang urgent.

Adi : Aku kan lagi nyetir Ma.

Raina: Biasanya juga Mas sering balas sms sambil nyetir.

Adi : Sms aja diributin sih?

Raina: Atau mau aku aja yang bacakan?

Adi : Oke, oke…aku buka. Is it enough for you?

Raina: Hmm…

Adi : ….

Raina: Siapa?

Adi : ….

Raina: Siapa sih? malam minggu begini sms….

Adi : Pak Budi, udah aku balas juga.

Raina: Dari Pak Budi… tapi Mas baca dan balasnya sambil senyum-senyum?

Adi : ….

Raina: Hmm?

Adi : Don’t start Ma,…Stop your negative thinking.

Raina: Nggak…just feeling so weird.

Adi : Apanya sih?!

Raina: ….

Adi : ( Sigh )

Raina: Bunyi lagi tuh HP nya Mas, ada sms.

Adi : Biarin, daripada ribut.

Raina: Aku nggak ajak Mas ribut kok.

Adi : Daripada kamu bertanya lebih jauh, mending aku non aktifin HPnya!

Raina: Terserah Mas aja.

Minggu Ke-empat di Bulan Pertama

Ruang Keluarga, Sabtu Sore

Raina: Maas, HP nya bunyi tuh….

Adi : Sebentar, tanggung,…aku lagi pasang lampu.

Raina: Aku angkat ya, kayaknya telepon masuk kok Mas, bukan sms.

Adi : Eh Ma, tunggu, biar aku aja, eit…

Raina: Halo…Assalamu’alaikum.

Adi : Ma…kok dah diangkat?!

Raina: Halo,…siapa ini ya? Halo?

Adi : ….

Raina: Halo? ….Ah, kok dimatiin sih. Hm…Mas…Pak Aniv siapa? Dia yang telepon barusan, tapi dimatikan.

Adi : Sini HPnya.

Raina: Siapa Pak Aniv? Kok aneh…

Adi : Oh, kenalan biasa aja kok, dikenalin Bos.

Raina: ….

Adi : Kok menatapku seperti itu?

Raina: Nggak tahu, feelingku nggak enak aja.

Adi : Halah, kamu ini Ma...

Raina: Feeling seorang istri Mas, biasanya nggak salah.

Adi : Maksudmu?

Raina: …..

Adi : Oh God! Please deh Ma, kamu selalu begitu, sudah jelas nama yang muncul Pak Aniv. Bukan Bu Aniv, Jeng Aniv, Mbak Aniv atau Dek Aniv, tapi kamu selalu curiga, ah…payah!

Raina: Kok Mas langsung emosi gitu sih?

Minggu ketiga di Bulan kedua

Ruang Keluarga, Kamis Pagi

Adi : Halo Ma…Ada apa?

Raina : Buat siapa sms tadi Mas!

Adi : Sms? Sms apa?!

Raina : Mas barusan kirim sms ke cewek lain kan?! Tapi keliru masuk ke HPku. Buat siapa Mas!

Adi : Apaan sih, kamu marah-marah gitu, sebentar Ma, aku lihat Outbox Hpku dulu.

Raina : Hiks….Hiks….Tega kamu Mas….

Adi : Lho, kamu nangis Ma? Apaan sih…

Raina : Kamu selingkuh ama siapa sih? Hiks…

Adi : Oh, aku ingat sekarang, Wayan barusan pinjam Hpku untuk sms, karena pulsa dia pas habis…Ya…ya! Bener si Wayan Ma…

Raina : Nggak usah menimpakan kesalahan kepada Wayan, barusan Mas sendiri yang bilang kalau mau lihat outbox, dan Mas juga sudah lupa ada kejadian kalau Wayan pinjam Hpnya Mas?! Katanya barusan aja?!

Adi : ……Beneran Raina Sayang… Aku juga lagi ribet banget nih, mana sebentar lagi ada meeting, jadi fikiranku nggak konsen waktu kamu tanya tadi, apalagi kamu ngamuk-ngamuk gitu.

Raina : Siapa Vin itu!

Adi : Vin?

Raina : Iya, siapa dia!

Adi : Mana aku tahuuu….pacar si Wayan kali. I really don’t care Ma. Itu urusan Wayan.

Raina : …

Adi : Gini aja deh Ma, kalau kamu nggak percaya, aku suruh si Wayan biar ngomong langsung sama kamu, capek ah, njelasin ama orang yang lagi cemburu buta gini.

Raina : Nggak mau.

Adi : Lho, kenapa nggak mau? Kan biar jelas, nggak enak lagi jadi tertuduh begini.

Raina : Hm,….tapi bener kan…kalo itu bukan sms yang Mas tulis sendiri.

Adi : Ini ada Wayannya, mau bicara?

Raina : Nggak….nggak….

Adi : Heran, kamu yang biasanya kalem jadi galak banget seperti singa mau beranak.

Raina: Jantungku seperti mau copot tadi…

Adi : Hahaha, asyik deh ada yang cemburu…

Raina: Nggak lucu ah!

Adi : Sungguh bukan aku yang kirim sms itu.

Raina: Ya udah deh…aku mau lanjutin masakku.

Adi : Beneran nih? Kamu udah lega belum Ma?

Raina: Lega nggak lega…

Adi : Pulang kerja nanti aku nggak mau bahas lagi lho, so kalau Mama belum puas, bisa tanya langsung ke Wayan, aku hubungin sekarang teleponnya, mumpung dia ada di dekatku.

Raina: Nggak usah, ohya….Mas pulang cepat yah, aku masak lodeh jipang favoritmu.

Adi : Hm…sepertinya nggak bisa Ma. Malam ini aku diajak bos ketemu calon klien.

Raina: ….

Adi : Tapi nanti waktu pulang aku tetap makan lodeh jipangmu kok, jangan khawatir.

Raina: Ya deh Mas.

Adi : Oke, udah dulu ya, mau meeting nih, anak-anak dah pada kumpul. Bye.

Raina: Mas, tunggu!

Adi : Klik

Raina: Riana sayang Mas.

Adi : Tut….tut….tut….tut….

Raina: ( Sigh )

Minggu Pertama di Bulan Ketiga

Kamar Tidur, Senin Pagi

Raina: Apa ini ya? Slip gaji kok pada ditumpuk di sini, nggak rapi banget sih Mas Adi.

Raina: ….

Raina: Ini bukan slip gaji….Tapi ini…

Raina: Hotel Lembayung…..check in, Sabtu…24…Juli…hm…check out, Senin…pagi.

Raina: ….

Raina: Anyer?...

Kamar tidur, Senin Malam

Adi : Ah ini dia Ma, nota hotel yang aku cari-cari, belum minta ganti ke kantor nih.

Raina: Bukannya Mas dulu trainingnya di Puncak?

Adi : Puncak? Anyer kok.

Raina: Ian masih ingat banget, waktu itu Mas pamitnya ke Puncak.

Adi : Hm…masak sih? Yaaa mungkin aja dipindah dari perusahaan trainernya…dari Puncak ke Anyer.

Raina: Nggak masuk akal.

Adi : Halah, terserah deh, aku mau tidur ya, capek.

Raina: Kok gitu sih?!

Adi : Beneran, aku capek…

Raina: Aku pijitin ya?

Adi : Nggak usah, mau langsung tidur aja.

Raina: Hm…Mas? Tadi sore aku telepon kok masuk ke mailbox, apa kamu matikan?

Adi : …

Raina: Mas?

Adi : Pas nggak ada signal kali.

Raina: Kantormu kan satu gedung dengan provider HPmu, masak tidak ada signal?

Adi : ( Sigh ) Aku tidur di kamar tamu saja.

Raina: Maasss, tidur sini ajaa….iyaa, maafin Ian.

Adi : Aku capek Ma! Sudah! Aku mau tidur!

Raina: ….

Minggu Kedua di Bulan Keempat

Ruang Keluarga, Jumat Siang

Raina: Halo…Assalamu’alaikum

Hans : Wa’alaikumsalam Ian…

Raina: Hai Hans…apa kabar?

Hans : Ian…

Raina: Ada apa Hans? Tumben lo telepon….ini di kantor?

Hans: Iya…

Raina: Ada apa?

Hans : …..( sigh )

Raina: Hans?

Hans : Gimana gue mau cerita ke elo…Hati gue hancur.

Raina: Hmm, yang namanya sahabat, harus saling membantu Hans. Ada masalah apa sih? Kerjaan atau rumah?

Hans : Gue bingung ngomongnya.

Raina: Apaan sih….

Hans : Lo musti siap dengernya…Apapun yang nantinya gue ceritain ke elo…

Raina: Gue jadi deg-degan.

Hans : Lo emang pantes buat deg-degan Ian…

Raina: ….

Kamar tidur, Jumat Siang-Sore

Raina: Ummi, Ian nggak kuat….Ian pulang ke Padang sekarang saja Mi…hiks

Ummi : Tunggu Uda mu dulu Ian, jangan gegabah! Bagaimanapun dia masih suamimu.

Raina: hiks…

Ummi : Tenanglah anakku, belum tentu semua cerita Hans benar. Ummi tak percaya, Uda mu bisa melakukan hal tercela seperti itu.

Raina: Mi, Ian pun tak menyangka, kalo Mas Adi tega ke Ian, tetapi setelah mendengar rincian yang Hans ceritakan, dan setelah Ian kaitkan juga dengan kecurigaan-kecurigaan Ian selama ini ke Mas Adi, semuanya jadi masuk akal Mi….

Ummi : Astagfirullah….Ummi masih belum percaya Ian…dan Ummi juga tidak menyangka kamu selama ini sudah menyimpan kecurigaan yang besar terhadap Uda, tetapi tak pernah sedikitpun kamu cerita kepada Ummi!

Raina: Ian nggak mau menambah beban fikiran Ummi, hiks…

Ummi : Ummi ini ibu kandung kamu Ian, kenapa kamu nggak percaya dengan Ummi!

Raina: Ian nggak kuat Ummi, rasanya mau mati saja!

Ummi : Istighfar anakku…..istighfar….Allah masih sayang kepadamu Nak…

Kamar Tidur, Jumat Malam

Adi : Ma, maafkan aku….

Raina: Besok pagi aku pulang ke Padang.

Adi : Ma…

Raina: Ian kurang apa dengan Mas Adi! Kenapa Mas Adi tega!!! Hiks…

Adi : ….

Raina: Apalagi Mas Adi berselingkuh dengan isteri Hans!! Sahabat Ian!

Adi : Aku nggak tahu Ma, kalau Vina istri Hans….Sumpah!!

Raina: Gila!!!

Adi : Maafkan aku….

Raina: Apa yang ada di benaknya Mas sekarang?!!! Kepuasan?!! Karena sudah berhasil menyakiti dan menipu Ian selama ini?!!!

Adi : Hanya rasa bersalah dan penyesalan

Raina: Omong kosong!!!

Adi : Ma, bahkan sebelum Hans telepon kamu, aku sudah berencana untuk berkata sejujur-jujurnya dengan kamu,…bahwa aku pernah berselingkuh…

Raina: Diam!!!! Ian sudah nggak mau dengar!!!

Adi : Aku memang tidak punya otak….aku tidak punya hati nurani…aku khilaf Ma..

Raina: Iya, dan kamu bejattt Mas!! Oh……hiks……Astaghfirullah….

Adi : Iya, aku memang laki-laki paling bejat…

Raina: Kenapa kamu tega mengkhianatiku?!!

Adi : Itu hanya nafsu sesaat saja Ma…

Raina: ….

Adi : Jangan hanya menatap aku seperti itu Ma….lebih baik kamu maki dan umpat aku…Aku terima.

Raina: Maafkan aku karena memakimu tadi Mas…

Adi : Jangan minta maaf!!! Silahkan…..maki saja aku Ma..

Raina: Tidak….

Adi : …………………………………………….ohhh…………..( terisak )

Raina: Aku tahu, aku belum menjadi isteri yang sempurna untuk Mas Adi,….tiga tahun kita menikah,dan aku belum mampu memberikan Mas Adi keturunan…tapi, apakah harus begini caranya Mas? Andai Mas Adi mengajak Ian bicara baik-baik, Ian ikhlas dimadu…semata-mata agar Mas Adi bisa memiliki keturunan dan tenang berbahagia…Tapi, yang buat Ian nggak bisa terima, Mas Adi telah berselingkuh dan berzina di belakang Ian…dan…dan dengan istri orang….istrinya Hans, sahabat Ian.

Adi : ……………..( terisak)………….a..ku…sudah…menyesal Ma…

Raina: Hati Hans sama hancurnya dengan hati Ian sekarang.

Adi : Aku…sudah berte..mu…Hans.

Raina: Dia tidak marah kepadamu kan Mas?

Adi : …………………………tidak….dan itu membuat perasaanku semakin bersalah….

Raina: Ian kenal Hans dari dulu, Ian tahu….Hans sangat menyayangi istrinya. Tetapi tadi dia bilang di telepon, lebih besar rasa hormat daripada rasa sayang dia kepada istrinya. Dan rasa hormat itulah yang membuat dia bisa sabar, dan mampu memaafkan istrinya.…..Ian belum bisa seperti itu, Mas…

Adi : Iya….wajar…karena Mas Adi sudah meruntuhkan tembok kepercayaan Ian.

Raina: Mas Adi….cinta kepada Vina?

Adi : …

Raina: Apakah cinta Ian nggak cukup?

Adi : Bukan begitu..

Raina: Terus?

Adi : Bagi Mas Adi, kalian berdua saling melengkapi dalam kehidupanku. Pernah-melengkapi.

Raina: ……

Adi : Aku nggak ingin menyakitimu lebih dalam lagi Ma, lebih baik tidak usah kuceritakan, dan sekarang terserah Mama….aku pasrah dan berusaha ikhlas dalam menghadapi kenyataan yang akan terjadi, keputusanmu.

Raina: Aku ingin mendengarnya Mas, ….

Adi : …

Raina: Dan Mas juga harus ikhlas dalam mendengar apapun keputusanku.

Adi : Ya….

Raina: Teruskan Mas, silahkan…

Adi : ( menarik nafas panjang ) Aku bertemu Vina sekitar lima bulan yang lalu, awalnya hanya hubungan pekerjaan, kita jadi sering komunikasi, tapi juga jarang bertemu,………..

Raina: Lalu?

Adi : Sering komunikasi lewat internet.

Raina: Tiap hari? Mirc atau YM?

Adi : Hampir setiap hari…..aku rasa ini nggak penting kan Ma?

Raina: Jawab saja Mas, aku ingin tahu semuanya.

Adi : Okay, lewat YM, dan semua terbongkar setelah Hans melihat data obrolan kami di YM yang Vina nggak sengaja tersimpan.

Raina: Terus?

Adi : Sampai akhirnya kami berdua menyadari ada benih cinta yang tumbuh….

Raina: Hanya karena sering ngobrol?

Adi : Dan nyambung juga….Hmm….entahlah, aku merasa nyaman aja dengan dia. Maaf Ma, kamu ingin aku jujur kan?

Raina: Denganku, kamu nggak nyaman Mas?

Adi : Ya,….hmm mungkin karena kita terlalu ‘biasa’ dalam menjalani rumah tangga kita…..

Raina: Biasa?

Adi : Ma, kamu terlalu penurut…diam…dan….

Raina: Apakah aku membosankan?

Adi : ………Aku tidak bilang kamu seperti itu, hanya saja….semua berjalan terlalu wajar untukku, hubungan kita ini…..hambar.

Raina: Dan Mas nggak pernah mencoba memberitahukan aku, kalau itu yang Mas rasakan terhadap diri Ian selama kita bersama?

Adi : Aku hanya nggak ingin menyakitimu Ma…

Raina : Tetapi kalau begini, sama saja Mas sudah menghancurkan hatiku.

Adi : Aku sangat menyesal Ma…Aku sudah memutuskan hubungan dengan Vina, sebelum bertemu Hans sore tadi pun, kami sudah sepakat mengakhiri hubungan ini. Kami tahu ini semua salah, dan kami juga nggak bisa meninggalkan pasangan masing-masing, karena kami masih sangat mencintai pasangan kami….Mama boleh percaya boleh tidak…..tetapi Aku berusaha untuk menceritakan sejujur-jujurnya.

Raina : Mas mau menyuruhku bertanya lagi kepada Hans?

Adi : Aku rasa tidak perlu kan? Aku tahu kamu Ma…

Raina : Apa yang Mas ketahui tentang aku? Wanita yang membosankan?!

Adi : Wanita yang penuh kasih sayang…sholehah…wanita yang sepatutnya aku hargai dan hormati sebagai istri setia dan wanita yang sempat aku sia-siakan…

Raina : Cukup rayuanmu Mas…

Adi : Tidak Ma, itu bukan rayuan….Aku berkata pada Vina, kalau aku sangat mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu.

Raina : …

Adi : Itu benar….

Raina : Tapi kamu sudah tidur dengannya!! Dan kamu menikmatinya kan Mas?? Bahkan, mungkin saat melakukannya, kamu sudah lupa bahwa ada aku di rumah yang setia kepadamu!!

Adi : Hanya satu yang bisa aku bilang kepadamu Ma, aku akui semua itu memang benar, dan sudah pernah terjadi, tetapi demi Allah, aku telah menyesalinya, dan aku bertobat untuk tidak mengulanginya kembali, Vina adalah masa laluku, dan aku sudah menutup lembaran kisah cintaku bersamanya. It’s over Ma…

Raina : Terus bagaimana dengan aku Mas?! Apakah bisa aku melupakannya?!

Adi : Itu tergantung kepada dirimu sendiri Ma…yang jelas, aku tidak akan mengulangi semua perbuatan bodohku….Kamu terlalu berharga.

Raina : ….

Adi : Maafkan aku….tapi aku juga nggak bisa melarangmu untuk membenciku, bahkan mungkin terselip dendam di hatimu, aku akan mengerti.

Raina : Tidak….aku bukan pendendam,….aku pun tidak bisa benci….tapi memang butuh waktu untuk melupakan kisah ini dan memaafkan Mas seutuhnya. Butuh waktu juga untuk membangun kepercayaan lagi.

Adi : Iya, aku tahu Sayang….

Raina : Goshh….I really love you………

Adi : ……………………………..Yes, I know, so do I..my sweety………… dan aku merasa saat ini aku telah menjelma jadi manusia paling bodoh sedunia karena menyia-nyiakanmu.

Raina : Aku harus introspeksi juga…..

Adi : Dan aku harus bertobat…

Raina : …..

Adi : …..

Raina : Aku mau telepon Ummi…

Adi : Beneran mau pulang ke Padang besok pagi?

Raina : Hm,…mau bilang Ummi, masalah sudah selesai, hanya kesalah pahaman saja…

Adi : Maksudmu….mau bilang kalau ternyata aku tidak berselingkuh?

Raina : Ya…biar Ummi tidak khawatir, dan aku ingin menjaga kehormatanmu, karena Mas masih suamiku…

Adi : Ma, sekarang sudah jam satu malam, apa tidak besok pagi saja teleponnya?

Raina : Ummi belum tidur, pasti sedang memikirkan Ian Mas, ….. lagipula kalau beliau tertidur, sekalian Ian bangunin untuk shalat malam, kan aku dapat pahala…

Adi : jadi besok nggak jadi ke Padang kan?

Raina : Tunggu Lebaran saja, bareng Mas Adi…

Adi : Ah, kita belum shalat Isya’, habis itu Mas juga mau shalat Taubat, dan shalat Malam…Kita berjamaah ya Ma?

Raina : Ya….sebentar yah Ian mau telepon Ummi, Mas ambil air wudlu dulu aja.

Adi : Ma……

Raina : Ya?

Adi : Apakah benar Ma sudah maafin Mas? Apakah beneran sudah ikhlas?

Raina : Insya Allah Mas, sesuai kehendak Allah saja…Ian dan Mas hanya manusia biasa, pasti pernah berbuat kesalahan, saat ini, Mas Adi tengah tergelincir ke jalan yang sesat, tapi alhamdulillah Mas Adi sudah sadar, semua berkat hidayahNya ….jadi kalau suatu saat Ian yang tergelincir, Mas Adi juga harus mau maafin Ian, dan bantu Ian kembali ke jalan yang benar….

Adi : Insya Allah Sayangku….

Raina : Okay, sebentar ya Mas…

Adi : Fa bi ayyi aalai Rabbikuma tukadzdzibaan….. Fa bi ayyi aalai Rabbikuma tukadzdzibaan….. Fa bi ayyi aalai Rabbikuma tukadzdzibaan…….*....Ah....ampuni aku Ya Rob....

*Artinya : Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?*

******

Semarang, 16 Februari 2007 *early morning*


Image from corbis.com


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:23 AM ¤ Permalink ¤ 10 comments