Google
 
Monday, April 30, 2007
Gerimis

Hai pria…saat ini hujan gerimis di sini…
Taukah kamu, kita pernah menghabiskan gerimis bersama…
Tak hanya sekali, tapi berkali-kali…
Entah kenapa, gerimis akrab sekali dengan kamu dan juga aku…
Saat lampau di Galeria, kududuk bersisian denganmu…
Hanya menatap gerimis yang seperti tangisan dari langit…
Aku tak merasakan dingin saat itu…
Karena ada kamu, yang saat itu masih menjadi sayangku yang manis…
Lampau yang lain, kita terjebak lagi oleh gerimis…
Berlari dan tertawa riang kita seperti anak kecil…
Menikmati hangatnya semangkuk wedang ronde…
Taukah kamu, aku tak pernah menyukai ronde…
Aku benci pedas dan panasnya!
Tapi saat itu aku bisa merasakan nikmat di setiap sesapan…
Yah,... karena ada kamu yang tersenyum memandangku…
Saat yang masih lampau…juga
Engkau menghabisi jiwa... lukai perasaanku…
Ketika kau katakan tak mencintaiku…
Dan itu terjadi di saat gerimis…
Taukah kamu…aku menangis dan berteriak memanggil namamu…
Sepanjang jalan yang panjang dan sepi aku terus menanyakan kepadaNya…
Mengapa engkau berubah seperti itu…
Aku seperti tak mengenal kamu…
Perihnya terpaan gerimis yang kuat di mukaku…sudah tak bisa kurasa
Aku hanya merasakan sepi dan kosong…juga sakit jauh di ulu hati
Hai Pria..
Gerimis ini bukan lagi milik kita.

Semarang, 26 April 2007

Song by Kla Project - Gerimis

Saya baru sadar, kalau liriknya Gerimis dari Kla, cukup mewakili perasaan saya sewaktu membuat ini puisi...nyanyi dulu ah...:P

Musim penghujan hadir tanpa pesan
Bawa kenangan lama tlah menghilang
Saat yang indah dikau di pelukan
Setiap nafasmu adalah milikku
Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung bintang tiba
Sekejap badai datang mengoyak kedamaian
Segala musnah lalu gerimis langitku, menangis
Kekasih andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Dan bukan menyerah untuk berpisah…
Kekasih andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian tuk cinta kita
Dan bukan alasan untuk berpisah…

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 4:44 PM ¤ Permalink ¤ 19 comments
Saturday, April 28, 2007
Semalam

Tak jelas seperti apa hubungan kita,
Sebenarnya aku sudah menjauh darimu,
Kamu pun sudah berusaha menahan kuat perasaanmu,
Tetapi semalam,
Sehabis ku bersujud dan bersimpuh kepadaNya,
Dan aku memikirkanmu,
Semuanya kembali terjalin,
Untaian perasaan kita...
Yang berusaha kita ingkari sendiri,
Namun ternyata tak akan bisa...dan tak akan sanggup,
Yah semalam, ...
Melodi kerinduan itu kembali terdengar dari hati kita,
Ah...sungguh butanya sebuah perasaan...

Semarang, 28 April 07


I never forget u Mi n still keep my feeling. I also still always imagine n say ur name b4 my sleep ( ah...I love u Bi... )

Song by Chrisye - Untukku

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:33 AM ¤ Permalink ¤ 16 comments
Friday, April 27, 2007
Photo editing
Haiii…ini postingan yang mungkin kurang penting, tapi setidak-tidaknya bisa menyalurkan hasrat kenarsisan, hehehe…yak siapin ember, sapa tau ada yang eneg :P
Saya lagi belajar edit poto nih, kebetulan saat ini saya pakai Adobe Photoshop CS2, bagaimanakah pendapat teman2 terutama yang ahli di bidang fotografi? Mari kita sharing ilmu, tepatnya…tolong saya dibagi ilmunya dunk…thx, hehehe


Sebuah warna ceria di buramnya kehidupan saat ini

Menghitung Cinta

Tersenyumlah sayangku!

*kalau yang ini foto narsis, hehehe*

Mood for today : Pengen dengerin laguna Kla Project - Kidung Mesra :P

*bisa didengerin di sini*


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:05 AM ¤ Permalink ¤ 18 comments
Thursday, April 26, 2007
Sahaja Wanita Indonesia 2


Ternyata nama panjangnya adalah Asroyah, nama yang indah menurut saya…
Yah, hari selasa siang saya mengambil honor di Suara Merdeka – Kaligawe, karena blog saya sudah termuat di halaman blogprint pada pertengahan bulan Januari lalu. Honor yang sebenarnya tidak seberapa besar, tapi sudah membuat saya merasa bersyukur, oleh sebab itu saya ingin membagi kebahagiaan yang saya rasakan dengan Bu As. Jadi , hari Rabu kemarin saya mengajaknya piknik makan siang, saya yang membeli bekal seadanya untuk kami makan bersama.
Bu As terlihat senang sekali melihat saya datang lagi, senyum ramah mengembang di bibirnya, saya pun sudah merasa akrab dengan beliau, memecahkan rasa canggung yang masih ada di diri saya yang sebenarnya pemalu, saat itu jam 11 siang, saya pun bertanya, maukah dia makan bersama dengan saya di bawah pohon beringin besar tempat dia biasa istirahat. Tapi ternyata beliau menolak secara halus, karena memang belum jamnya makan siang, takutnya kalau mandor melihatnya, dia bisa dipecat. Mandornya galak kata beliau. Saya pun mengerti, dan atas seijin dia, saya menunggu saja di tepi jalan, dan terkadang saya diajak ngobrol oleh bapak tukang becak yang mangkal di sana, namun terkadang saya juga ikut berpanas-panasan, menemani Bu As mengobrol sambil memotret beliau.
Akhirnya jam istirahat pun tiba, kami pun beristirahat di bawah pohon beringin besar yang Subhanallah, indah sekali! dengan juntaiannya dan hawa yang sangat sejuk karena desau angin yang semilir. Saya makan bersama beliau, tentu saja diselingi mengobrol dan terkadang saya mengambil foto.
Hati saya tambah teriris tatkala saya memberanikan diri menanyakan gaji beliau, ternyata seminggunya dia dibayar Rp. 90.000,- atau hanya Rp. 15.000,-/hari. Dan pernah suatu hari, gaji Bu As dipotong menjadi separuhnya, jadi dia hanya mendapatkan Rp. 7.500,- per hari, disebabkan sewaktu Mandornya lewat di bunderan, dia menegur Bu As, menuduh kalau Bu As nyapunya nggak bersih ( plus marah-marah pula ), dia complain karena masih banyak daun yang rontok di jalan.
Padahal sewaktu siang tadi ketika saya menemaninya di sana, saya membuktikan sendiri bahwa tatkala angin berhembus sedikit saja, daun-daun di pohon akan kembali rontok, jadi untuk Pak Mandor yang terhormat, bisa saja jalanan kembali bersih dari daun-daunan assaaaallll semua pohon di Puri Anjasmoro di plastikin!!! *lho, kok saya malah esmosi?*
Lagipula setiap harinya dengan mendapatkan uang sebesar Rp. 15.000,- /hari, Bu As harus mengeluarkan biaya untuk transport sebesar Rp. 5.000,- pulang pergi, jadi bisa dibayangkan kalau misalnya ada kejadian gaji beliau dipotong perharinya menjadi Rp. 7.500,-? Gila! dia hanya membawa uang sebesar Rp. 2.500,- ?! Padahal dia bekerja di bawah terik matahari dari jam 8 pagi – 4 sore. Tragis sekali!!
Siang itu saya mengobrol banyak dengan Beliau, walau tidak semuanya dapat saya tulis di blog, ah….mengobrol dengan beliau sangat menyenangkan sekali, tetapi hati ini sedih juga *bahkan sampai cerita ini ditulis, dada saya masih terasa sesak*, karena belum mampu membantu banyak, tetapi saya cukup senang bisa membuat beliau merasakan bahwa masih ada yang peduli dengan keberadaannya, dan setidaknya bisa menjadi seorang teman baru, yah setidaknya beliau merasa terhiburlah dengan kehadiran saya. Ya Allah, lindungilah Bu As selalu dan orang-orang seperti Bu As….Ampunilah dosa orang-orang yang selama ini menindas dia, sadar atau tidak sadar….Dan berikanlah sedikit rezeki lagi agar saya bisa meringankan beban mereka, Amin….


Ketegaran seorang wanita

Meletakkan lelah untuk sesaat

Memandang jauh setitik harapan

Lokasi : Kawasan Puri Anjasmoro, Semarang

Waktu : Rabu, 25 April 2007, 12.00 WIB

Kamera : Fuji MPIX


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:40 AM ¤ Permalink ¤ 17 comments
Wednesday, April 25, 2007
Inalish
*Jude Law*


Saya sangat menyadari bahwa love life is so complicated…semuanya begitu rumit, kadang apa yang kita harapkan dapat terjadi di kehidupan percintaan kita, namun kenyataannya tidak terjadi. Apa sih yang sebetulnya membuat semuanya menjadi rumit? Entahlah, banyak sekali faktor yang berperan. Maybe the greatest factor is luck. Hey..jangan ada yang protes dulu…maybe there is anyone yang menganggap kalau his/her love life is so simple. But, swear…I don’t believe it! Mungkin dia sendiri yang mengusahakan semua terjadi sesuai dengan target percintaannya. But, it’s not working with me.
Anyone think that actually we are muppets? We just do our destiny that God plans to us. We don’t know what will happen to us, even in next 15 minutes…
And the problem is…I don’t feel that I am a lucky person. Kecuali, I have a little precious daughter. But, I am happy with my life *the fact is I always try to be happy*, it teach me a lot of things, termasuk teaching about love.
But right now, make a deep relationship with a man is not my priority, but I cant deny that it is important thing, because I cant be a single in my whole life, oh please…no way!
I still love the men…with all their complicated life *laughing*. Ugh, I wish if I could guess what’s in their brain and their mind. Apa yang mereka selalu fikirkan.
When I only with him, just wonder that benarkah only saya yang berada di fikirannya, ataukah someone else *please beware kalau yang difikirannya laki2*
Baru-baru ini, saya sering bertemu dengan laki-laki yang bisa dibilang “depressed” tapi anehnya dia tidak merasa. But its okay, anggap saja it can be added value for my experience.
By the way, ini tidak ada hubungannya dengan bahasan semelekete di atas *yang sok serious* tapi saat ini, just want to make announcement that I am still crazy about Jude Law. I wish…I wish….*fuuhh, blowing the candle*.
I saw him for the first time when we met in Hollywood *halah, ngapusi*.
Okay, I saw his movie with the tittle “Behind Enemy Lines” saat saya started mengidolakannya, and in that time, about 2-3 years a go, I was still married. But who care?! I still adore him until now, hehehehe.
I think he is a smart guy *My main criteria for being my lover, halah*, he has warm eyes *I mean pandangannya…*, has the sweetiest smile and he has a sexy english aksen. *gubrakz*
Sudahlah, lebih baik saya sudahi dulu segala ke-error-an yang terjadi when I write it. Dengan bahasa gado-gado my Inalish ( Indonesia-English ) semoga tidak ada yang bisa ngerti deh, hehehe *isin-mode-on*, and I will ready when my little cyber sister and brother laugh on me. Hiii…dah ah…

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:33 AM ¤ Permalink ¤ 14 comments
Tuesday, April 24, 2007
Sahaja Wanita Indonesia
Beberapa waktu lalu rasanya ‘butek’ juga mikirin objek foto untuk lomba photo blog Kartinian yang diadakan Loenpia. Karena saya belum juga dapat objek seorang wanita yang pas banget untuk temanya.
Tetapi Fian sebagai jurinya lomba sewaktu kopdar kemarin sempat memberikan briefing singkat mengenai tema lomba dan sedikit tips tentang fotografi, katanya sih, objek sebetulnya banyak sekali di sekitar kita, malah dia sempat kasih bocoran tentang adanya kenek angkot wanita di jurusan tertentu yang bisa dijadikan objek. Kemudian kata dia, kalau mengambil gambar juga tidak perlu dari dekat dan tidak perlu orangnya tahu, asal pas anglenya, hal tersebut yang dia kemukakan ketika saya menanyakan bagaimana caranya minta ijin kepada objek yang mau difoto, iya kalau objeknya seneng, tapi kalau akhirnya malah marah-marah gimana. Hehehe.

Akhirnya siang ini, sepulang saya dari warnet, tak sengaja saya melihat seorang penyapu jalan di kompleks rumah, sempat juga lho, saya muterin bunderan 3x *untung ga pusing* untuk memastikan apakah sosok penyapu jalan itu adalah wanita. Dan ternyata benar, setelah saya pedekate *halah* akhirnya saya meminta ijin beliau untuk diambil fotonya. Dengan rayuan saya yang amatir *karena tidak biasa merayu wanita apalagi Ibu-ibu* saya pun membujuknya, karena ternyata beliau termasuk orang yang gak pede difoto.
Akhirnya usaha saya sukses, sambil mencari2 angle yang tepat *gayaku dah kayak prewedding fotografer aja deh* saya pun sempat juga menjadi reporter dadakan *persis seperti wartawan tabloid Yunior*, ternyata Ibu itu bernama As, lho As sapa??? Hehehe, maaf saya lupa *gagal deh jadi reporternya* tapi yang jelas namanya bagus lhoo…As Roya apa siapa, tapi yah cukup kita panggil beliau bu As saja *ngeles*

Bu As yang memiliki 2 anak ini sudah bekerja di kawasan Puri Anjasmoro semenjak 3 tahun yang lalu, ada 2 orang wanita selain Bu As ini yang menjalani profesi seperti ini di kompleks. Bu As ini kebagian di jalan besar sekitar blok L, jadi di jalan antara bunderan 1 dan 2. Buat temen2 Loenpia yang ikutan kopdar kemarin di rumah saya pasti paham bunderan mana yang saya maksud. Jam kerja beliau ini dari jam 8 Pagi – 4 Sore, duh…kebayang nggak, bagaimana capeknya beliau, karena medannya yang sangat panas dan berdebu, jadi tidak heran dalam menjalani pekerjaannya, beliau selalu memakai pakaian yang sangat tertutup, hanya sayang, beliau tidak memakai masker dalam bekerja.
Kemudian rumah Beliau ini ternyata sangat jauh, yakni di daerah Gunung Pati *wah berat di ongkos yah*. Dan sebenarnya banyak yang mau saya tanyakan kepada beliau, seperti mengapa beliau mau bekerja sebagai tukang sapu jalanan, tapi saya rasa kurang etis kalau saya menanyakannya di pertemuan pertama kami.

Semoga engkau bahagia Bu As…karena saya tahu, bekerja sebagai tukang sapu jalanan sebenarnya bukanlah menjadi pilihanmu, tetapi setiap hari engkau jalani dengan keikhlasan dan senyuman, dan untuk siapa lagi engkau bekerja kalau bukan demi anak-anak yang menunggumu di rumah dan juga untuk meringankan beban Suamimu.

Inilah sebagian foto-foto Bu As.



Padahal foto di bawah ini kurang fokus, tapi entahlah, melihat senyum yang terkembang di bibirnya, saya bisa ikut merasa bahagia….Yah, ini foto favorit saya!

Lokasi Foto : Kompleks Puri Anjasmoro, Semarang

Waktu Pemotretan : 23 April 2007 - Siang gitu deh

Camera : Fuji MPIX


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:37 AM ¤ Permalink ¤ 22 comments
Monday, April 23, 2007
Kopdar loenpia at my home

Kumpul ama anak-anak dari Loenpia emang seru banget! Pokoknya menyenangkan...komunitas dunia maya yang paling heboh yang pernah aku ikutin *tapi ora ngapusi* yo Loenpia ini....horayyyy
Btw,
thanks banget untuk Fany selaku sponsor makanan utama *ayam goreng lombok idjo* karena ultah yg ke 24 dan juga untuk fotonya ini
thanks untuk Mas Fiq yang memberikan souvenir dari Jepang, katanya untuk tuan rumah dapet langsung tanpa diundi, hiaaa
dan thanks untuk smua teman2 loenpia yang sudah hadir untuk memeriahkan suasana....

Agenda kemarin, selain makan2 dan ngemil, juga membahas tentang rencana Loenpia goes to campus *good luck pren!* , tentang lomba photo blog kartinian *yang ternyata, sudah hampir mau waktu penjurian, tapi ternyata yang udah upload ke blog baru 3 blogger, halah... yang lainnya pada macet (termasuk akyu, hihihi)*, trus ada acara pembagian doorprize yang memperebutkan 4 merchandise dari Mas Fiq *doorprize yang pake hom pim pah ama suit cuman ada di loenpia lho*, ada juga perkenalan anggota baru seperti Achmadi *sponsor dari star one, hihihi*, Hendy *kok mukanya mirip Elijah Woods yah? apa aku yang lupa pake kaca mata? huahauahaua*, dan Dhini *anak imut dari SMU Semesta*, dan perkenalan lagi oleh mas Wiwien Wintarto dari Suara Merdeka *yang luthu bangetz*,kemudian membahas juga rencana kopdar bareng sambil hunting foto bersama CahAndong *Jogja Blogger Community* di Semarang.

Omong-omong, di foto itu ada anggota Loenpia terkecil lho...sapa hayooo?

Akhirul Postingan, maaf ya kalau kemarin pas kopdar, servisnya kurang memuaskan, banyak yang sumuk alias kepanasan dan terancam ga dapet tempat duduk, hehehe...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:18 AM ¤ Permalink ¤ 27 comments
Saturday, April 21, 2007
Feeling Inside

Abi…
Dirimu pernah singgah di hatiku, *dan percayalah, sekarang pun masih*
Bersandar dengan nyaman di dalamnya,
Bayangmu di kala itu setia menemaniku,
Kamu begitu baik…tak pernah sekali pun kamu merasa kesal kepadaku…
Tak pernah lelah menghadapi sikap kerasku…
Abi…
Sepanjang perjalanan hidup baruku ini…
Yah, aku mengakui kalau aku masih menginginkanmu…
Ketulusan dan kepolosan yang selalu kurindukan…
Wajah bersih dengan senyum manis yang selalu kubayangkan menjelang tidurku…
Bahkan terkadang aneka keakraban kita yang tak terbatas terbias di dalam mimpiku…
Abi…
Takkan pernah kuingkari…
Dahulu aku begitu termanjakan oleh kebersamaan yang kita rajut…
Angan-angan yang kita rangkai bersama…
Impian indah kita…dimana yang selalu kita inginkan, "andai kita ditakdirkan untuk selalu bersama…"
Tapi kita sadari, hidup tidak hanya berisi khayalan dan impian semata kan?
Kita tahu semuanya tidak akan mungkin terjadi,
Kecuali Tuhan lah yang menghendaki…
Abi…
Andai engkau adalah seorang kekasih, percayalah betapa aku kan setia hanya kepadamu...
Andai engkau adalah seorang suami, yakinlah engkau yang paling kuinginkan…
Sering kupejamkan mata dan memimpikanmu mencium keningku…
Abi…
Sekarang baru kurasakan…
Indahnya cinta yang tak bisa saling memiliki…
Begitu murni dan suci karena kita hanya bisa saling berdoa…
Saling merasakan apa yang saat ini sedang terjadi padamu…dan juga padaku…
Ah Bi, tersenyumlah untukku, katakan kau bahagia…bahagia…dan bahagia…
Aku rela itu yang terjadi kepadamu, walau tanpa aku di sampingmu,
Abiku, inspirasi tentangmu selalu di hati…

3 Oktober 2006 – 20 April 2007

Salahkah aku akan perasaan ini yang tak mampu menutupi, aku masih cinta kamu, biarkan aku pilih jalan tuk sendiri, tanpa harus ada lagi cinta selain dirimu…kasih ( Tia Afi – Adilkah Ini )

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:25 AM ¤ Permalink ¤ 16 comments
Thursday, April 19, 2007
Dandelion

Lima Puluh tahun yang lalu


Dandelionku….
Jangan panggil aku dandelion Kak, namaku Gianyar
Bagiku, namamu adalah Dandelion
Aku tidak suka bunga itu! Mawar lebih indah
Kamu ringan seperti bunga itu, buktinya aku kuat menggendongmu
Tapi kakak tak bisa meniupku
Aku tak ingin melakukannya, karena nanti kau akan pergi menjauh
Kakak…
Aku mencintaimu Dandelionku
Kita tak bisa…
Aku tahu, cinta ini hanya kita berdua yang tau
Semesta alam ini juga tau….
Dandelionku,…
Hmmm
Ssst…sudahlah, suatu hari nanti kamu akan jadi Dandelion paling cantik
Tapi Kak…
Berjanjilah, jadilah pengantinku…dan Ibu bagi anak-anakku



Sebulan yang Lalu


Dandelionku…
Masihkah aku menjadi bunga di hatimu, Kak?
Tentu saja!
Ah, aku malu…
Kenapa?
Ketika cucu dan cicit kita mendengar kau memanggilku dandelion di depan mereka
Haha, ya pipimu kalah merah dengan pipi mereka
Kamu membuat mereka tersipu Kak…
Diam sebentar…ya begitu! Biarkan aku melihat wajahmu
Ada apa?
Kamu cantik sekali Dandelionku!
Apanya? Kakak…wajahku sudah penuh keriput…
Aku tak melihatnya…
Apa yang Kakak lihat?
Wajahmu sama persis dengan wajahmu lima puluh tahun yang lalu
Kakak…sekarang aku kan sedang sakit…
Kalau begitu cepatlah sembuh Dandelionku, hiasi hariku lagi dengan tawamu
Entahlah Kak… rasanya tubuhku bertambah dingin saja
Apakah kau sudah tidak mencintaiku?
Kenapa Kakak bicara begitu
Karena perkataanmu seperti ucapan perpisahan saja.
Aku mencintaimu selalu Kak
Yah, setiap detiknya aku juga semakin bertambah cinta kepadamu, Dandelionku…dandelionku
Kakak selalu membawa kegembiraan untukku
Peluklah aku Dandelionku…


Seminggu Yang lalu


Dandelionku…
Di senja yang indah ini, aku melepaskanmu
Semburat jingga yang hangat di langit gelap
Aku teringat senyum dan tawamu Dandelionku
Berikan kehangatan selalu di hatiku
Menemani dalam kurun waktu hidup seorang lelaki tua
Karena cintaku kepadamulah
Aku tak ingin menangisi kepergianmu Dandelionku
Selamat jalan cintaku
Tunggulah aku di rumah surgamu
Dan tanamlah banyak mawar kesukaanmu disana
Karena bagiku, hanya kamu bunga Dandelionku yang terindah


Sekarang


Kakek pasti telah memeluk Dandelionnya di sana…
Yah..seakan Tuhan tidak rela memisahkan mereka terlalu lama


Semarang, 16 April 2007

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 4:05 PM ¤ Permalink ¤ 17 comments
Tuesday, April 17, 2007
Cinta itu Pahit
Terima kasih ya Paz, kamu memang sahabatku yang paling baik…
Umm…
Topaz? Kok cuman nggumam sih
Aku senang kamu bisa jadian dengan Didi, dia…dia baik kok orangnya
Ohya? Seperti apa sih orangnya?
Lho, kamu sekarang kan sudah jadi pacarnya, harusnya kamu yang lebih tahu dong.
Kan aku baru jadian kemarin sore…
Tapi naksirnya sudah lama kan?
Hihihi, yaaa semenjak kamu ajak dia ke rumahku beberapa bulan yang lalu.
Hm…
Aku langsung saja jatuh cinta sama dia Paz…
Karena tampang cakepnya ya?
Hihihi, nggak juga, kamu juga cakep kan Paz…
Terus, kenapa nggak jatuh cinta dengan aku Rat?
Hihihi, ya nggaklah Paz, kita udah sahabatan lama, mana bisa
Mana bisa apa?!
Ya, lucu ah kalau pacaran sama sahabat sendiri…
Lucu ya?
Iihh Topaz aneh deh, ohya, gimana nih ama Dena?
Aku nggak cinta ama Dena.
Lho…kenapa? Dia naksir banget lagi ama kamu
Terserah!
Kok terserah? Kan asyik kalau sekali-kali kita bisa double date gitu.
Percuma Rat, kamu jangan berharap aku bisa jadian ama Dena, walau kamu yang jodohin juga…
Kok ngomongnya gitu sih Paz…aku kan hanya pengen kamu bahagia juga
Hmm….





Aku jadian dengan Ratya.
Baguslah!
Kok bagus? Aku tidak enak dengan kamu Paz.
Kenapa? Aku nggak ada apa-apa sama dia
Jangan menipu diri sendiri Paz.
Beneran bro! Aku nggak ada apa-apa sama Rat, kita cuma sahabat
Matamu penuh cinta ketika memandangnya dan ucapanmu selalu lembut dengan dia
Aku hanya sayang kepada dia, itu bukan cinta
Aku mencintainya Paz, tapi….
Kalau begitu bahagiakan dia, dan kalau buat dia nangis, kamu akan berhadapan denganku
Kamu nggak pa-pa Paz? Gila, aku sampai stress mikir hal ini
Hey, ingat. Aku yang memperkenalkanmu dengan Ratya, kalau aku ada hati sama dia, tidak mungkin kan aku biarkan hal itu?
Perkataan kadang tidak sama dengan perasaan Paz
Halah, sudahlah….bahagiakan dia saja bro!




Ratya…aku cinta kamu!
Topaz?!
Iya Ratya, aku cinta kamu! Dan sudah lama aku pendam perasaan ini
Tapi…aku…
Maafkan aku,….aku hanya ingin kamu tahu perasaanku Rat
Aku merasa tersanjung Paz…dan…kaget tentu saja
Bolehkah aku tahu perasaanmu juga Rat?
Aku sayang kamu Topaz…tapi sebagai sahabatku…
Hanya sahabat?! Tak pernahkah kamu mencintaiku?
Maafkan aku Paz…
Apakah kamu takut mengakuinya karena saat ini kamu sedang pacaran dengan Didi?
Tidak…Tapi itulah perasaanku yang sesungguhnya kepadamu
Ratya…jadi kamu tak pernah mencintaiku?
Topaz, persahabatan kita jauh lebih berharga dan tak ternilai…
Harusnya dulu aku berani bicara tentang perasaanku kepadamu
Dulu atau sekarang, perasaanku masih sama Paz, kamu hanya sahabatku
Ratya…
Masih ada cewek lain yang lebih berhak kamu cintai daripada aku
Sudahlah…
Paz…marah ya?
Tidak…oke, kita bersahabat saja. Lupakan omongan tadi…lupakan perasaanku…
Paz…mudah-mudahan semua itu hanya April Mop dari kamu yah.
Hehehe, semoga…




Semarang, 16 April 2007

Song by Ribas - Sebelah Hati

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:49 AM ¤ Permalink ¤ 19 comments
Monday, April 16, 2007
Tombo Ati
Tombo Ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo iso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Obat Hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perbanyaklah

Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi

Song by Opick
Lirik by Emha Ainun Nadjib

Lagu ini memiliki banyak kenangan bagi saya, beberapa bulan belakangan, lagu dengan lirik yang penuh nasihat ini terus menyemangati hidup saya, membuat saya bangkit, dan menjadi manusia dengan pribadi baru yang lebih baik. Dan saat ini sudah waktunya, saya membaginya dengan anda....

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:37 AM ¤ Permalink ¤ 10 comments
Saturday, April 14, 2007
Pejuang

Seorang pria berbadan kecil dan tampak rapuh
Tetapi memiliki keberanian seperti hercules
Berhati mulia seperti almarhum Munir
Berteriak lantang di tengah media
Berdiri di garda depan mengungkapkan luka yang terselubung
Menegakkan hak azasi para korban kekerasan yang telah pergi
Dia tidak mencari sensasi seperti selebritis amatir
Karena nyawa dia dan keluarganya sebagai taruhan
Teror makanan dia sehari-hari
Tapi dia terus dan terus meneriakkan kebenaran
Kalau ingin berjuang tak usahlah berdiri di balik organisasi atau front
Berjuang sendiri asal tidak saling memfitnah
Ungkapkan kenyataan yang benar jauhi kebohongan penuh kemunafikan
Toh hidup di dunia yang busuk ini hanyalah sementara
Masih ada perhitungan hisab di hari depan
Salut aku berikan kepada pria pemberani itu
Yang bernama Inu Kencana Syafe'i
Terus berjuang, tegakkan kebenaran dan keadilan


Semarang, 14 April 2007

Song by Okta-Eros ost Gie

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:09 AM ¤ Permalink ¤ 9 comments
Friday, April 13, 2007
Man and his daughter
Terkadang aku bertemu dengan dia sewaktu menjemput putri-putri kami,
Seorang Pria yang memiliki putri yang manis,
Kebetulan putrinya bersahabat dengan putriku,
Pernah suatu siang aku telat menjemput putriku,
Ternyata dia dan putrinya menemani putriku bermain,
Tak pernah ada kata yang terucap di antara kami,
Hanya saling bertukar segaris senyum tipis,
Suatu saat yang lalu aku bertemu dia dan putrinya di sebuah tempat rekreasi,
Hanya ada mereka berdua dan tak tampak istrinya,
Kemudian aku pun teringat,
Tak pernah sekali pun ibu putri tersebut terlihat di sekolah,
Rambut sang putri juga tak pernah terkuncir dan terhias jepit warna-warni,
Tak pernah terlihat sentuhan tangan seorang ibu pada penampilan sang putri,
Sontak aku merasa kasihan pada putri tersebut,
Apalagi ketika sepasang bola mata beningnya yang melihatku,
Ketika aku melihat dia belum dijemput, dan kubisikkan kata-kata lembut kepadanya,
"Tunggu bapak di dalam ya, jangan ke luar pagar."
Ah, dia pasti merindukan sosok seorang ibu,
Tapi seharusnya tak boleh ada rasa kasihan di dalam hatiku,
Karena aku sendiri benci apabila dikasihani,
Dia harus tegar...
Terus berjuang...Walau dalam kekurangan,
Seperti putriku, selalu tertawa dan ceria,
Dalam dunia anak-anaknya,
Teringat selalu ucapan riangnya ketika melepas kami,
"Dah Baby......besok sekolah lagi yah..."
Dan melambaikan tangan mungilnya kepada kami.

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:55 AM ¤ Permalink ¤ 13 comments
Wednesday, April 11, 2007
Ketika tangan dan kaki berkata
Akan datang hari

Mulut dikunci

Kata tak ada lagi


Akan tiba masa

Tak ada suara

Dari mulut kita


Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya


Tidak tahu kita

Bila harinya

Tanggung jawab tiba


Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Dijalan cahaya

Sempurna


Mohon karunia

Kepada kami

Hamba-Mu yang hina


by : CHRISYE

Lagu inilah yang paling membawa pengaruh positif dalam hubunganku dengan sang Khalik....
Setiap mendengarkannya, hati ini selalu bergetar, bahwa saya hanyalah seorang hambaNya, sekecil debu yang mudah tertiup angin...semua harta di dunia tiada artinya...yang dihisab di padang maksyar hanyalah amalannya....dan kelak di sana, hanyalah tangan dan kaki saya yang bicara, sejujur-jujurnya....
Oh Ya Allah....Ampunilah dosa hambaMu yang hina ini...


Terimakasih untuk temanku Ippen buat kiriman lagunya...May Allah SWT blesses U always, and pours you with happiness....amin...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:13 AM ¤ Permalink ¤ 12 comments
Tuesday, April 10, 2007
Tombo Stress Buatku
 
posted by angin-berbisik at 8:38 AM ¤ Permalink ¤ 13 comments
Saturday, April 07, 2007
For Temans,
Temans, sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada kalian semua, karena setelah melihat komen-komen dari kalian yang terlihat sangat care kepada saya… sampai ada yang sampai terharu sampai menangis ( ?? ) setelah membaca cerpen saya yang berjudul “Pertemuan”.
Subhanallah, begitu baiknya kalian semua…semoga Allah SWT membalas semua keikhlasan dan ketulusan perhatian kalian kepada saya. Terimakasih juga buat do’a tulusnya untuk saya.
Okay, sedikit cerita tentang cerpen “Pertemuan”, walaupun sedikit mirip latar nya, tapi cerpen itu murni merupakan hasil dari imajinasi saya, jadi bukan merupakan kisah pribadi.
Dan mungkin juga ada yang mengira kalau kehidupan saya sangatlah melankolis atau selalu mellow, memang sih pada awalnya saya masih terbawa oleh perasaan saya, bahkan di awal perpisahan saya dengan pak mantan, saya sempat mengurung diri di rumah, tidak mau bertemu siapa-siapa, karena saya merasa sangat malu sekali….saya merasa sudah gagal mempertahankan rumah tangga, bahkan saya merasa sudah sangat bersalah kepada anak tercinta saya. Dan saya tidak memungkiri juga kalau pernah merasa sangat sedih, hancur, down, dsb.
Tetapi alhamdulillah, selain saya masih punya Allah SWT yang sangat menyayangi hambanya yang sedang terpuruk, saya juga mempunyai banyak sahabat dan saudara sepupu untuk diajak berbagi suka dan duka, dengan mereka saya bisa tertawa lepas dan melupakan segala kesedihan saya, kehadiran mereka tidak pernah membuat saya merasa rendah diri, kasih sayang mereka sangat tulus kepada saya.
Jadi, please temans, janganlah bersedih karena saya, toh ini adalah sebagian dari fase kehidupan saya menuju akhirat, kalau pun pedih, masih banyak juga yang ada di bawah saya. Masih banyak para istri yang mengalami siksaan batin, namun tidak mampu berbuat apa-apa. Saya merasa sangat bersyukur, saya sudah lepas dari semuanya itu, memulai hidup dengan tenang, bersama dengan anak dan orang tua saya tercinta.
Dan terimakasih juga untuk adek-adek dan kakak-kakak, juga pak guru saya di dunia maya, yang terus memberikan semangat bagi saya untuk selalu berjuang di jalanNya dan tidak lupa mengingatkan dan menasihati untuk selalu mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan untuk saya.
Dan ternyata saya telah sadar, bahwasanya setelah langit mendung dan gelap, pasti akan ada langit yang terang dan sangat indah.
Seperti nasihat Pak Guru kepada saya :
“Hidup ini seperti halnya perjalanan matahari, kadang di atas, kadang di bawah, kadang susah kadang senang, biar tetap istiqomah, kuncinya adalah saling berwasiat”

Dan inilah salah satu bukti dimana saya masih dapat menikmati hidup saya, berhias senyuman…bersama salah seorang sahabat saya yang dengan tangan tak terlihatnya dan hatinya yang penuh dengan rasa sayang, telah membantu saya keluar dari kehampaan dan kesepian.


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 5:06 PM ¤ Permalink ¤ 15 comments
Friday, April 06, 2007
Pertemuan

“Diana!”
Aku menoleh ke belakang ketika mengetahui ada yang memanggilku dan ah, ternyata panggilan itu berasal dari orang yang paling tidak ingin aku temui dua tahun belakangan ini, mantan suamiku, Trias.
Aku tetap mematung dengan mengusahakan segaris senyuman yang tulus (tulus nggak ya? because I'm not sure) di wajahku.
“Diana, Yasa apa kabar?” Trias berjalan cepat mendekatiku, sambil mengulurkan tangannya.

Mau apa kamu bertanya tentang anakku, anakmu, ah…dia anakku! Karena kamu hanya sekedar ayah biologisnya yang tega meninggalkan Yasa dua tahun terakhir.

“Baik.” Kataku pelan sambil menyambut uluran tangannya.
‘Wah, bagaimana dia sekarang yah…terakhir ketemu kan dia masih sebesar ini.” Trias berkata sambil tangannya menggarisi setengah dari pahanya yang terbalut celana jeans biru muda.
“Sekarang sudah tinggi, karena di sekolahnya dia ikut ekskul renang.” Aku menjawabnya dingin.
Trias tersenyum ramah kepadaku,”Kalau kamu, pasti baik-baik saja kan Di?”
“Ya…baik-baik.” Kataku tanpa memandangnya, tapi malah mengedarkan pandanganku ke etalase toko di sampingku.

Sebelumnya aku merasa baik, bahkan aku ke mall ini dalam rangka membeli kue tart untuk perayaan kecil-kecilan dengan Yasa karena beberapa jam yang lalu aku mendapatkan promosi naik jabatan, tapi moodku yang baik tadi langsung menguap begitu aku ketemu kamu Tri.

“Kamu ke kota ini, dalam rangka apa?” Aku memandangnya sekilas.
“Liburan saja, tapi aku tidak sendirian kok.” Trias menjawab santai pertanyaanku.
“Sama siapa?” Tanyaku spontan ingin tahu.

Buat apa juga aku menanyakan hal itu kepadanya, pasti sangat terlihat kalau aku masih penasaran dengan Trias. Bodoh…Goblok…

“Vina…..ingat?” Trias berkata dengan sangat hati-hati.
Sudah kuduga, pasti dengan perempuan licik itu, yang menghancurkan kebahagiaan aku dan Yasa dalam sekejap mata.

“Aku tidak mencintaimu lagi Di…Vina yang lebih pengertian kepadaku, dan aku mencintainya.” Rasanya langit runtuh di atas kepalaku ketika dua tahun lalu Trias mengucapkan kata-kata itu kepadaku. Begitu dingin dan kejamnya.

“Hai….kamu nggak pa-pa?” Trias menghentikan lamunanku.
“Oh…kalian sudah menikah?” Aku bertanya kepada Trias setelah menetralisir fikiranku.
Trias menggeleng,”Belum.”
Aku melirik jam tanganku sekilas,”Hmm, aku masih ada keperluan, sudah dulu ya.”
“Di, aku mau ketemu Yasa, bisa?”
Terus terang aku belum siap jawaban atas pertanyaan Trias itu karena aku nggak yakin Yasa mau ketemu dengan ayah biologisnya itu. Aku sangat tahu Yasa membenci Trias. Padahal sumpah, aku tidak meracuni fikirannya sama sekali, hanya saja karena Yasa sering melihat aku menangis setiap hari dua tahun yang lalu. Usianya masih tiga tahun saat itu, tapi dia sudah bisa merasakan penderitaanku. Dan itu yang terekam dalam memori masa kecilnya yang seharusnya indah.
“Di…” Trias menyadarkan lamunanku lagi.
“Aku tidak tahu Tri….nanti aku tanyakan ke Yasa, begini saja, aku minta nomor Hpmu, dan aku akan menghubungimu lagi.”
Ada kekecewaan di wajah Trias,”Aku disini tinggal dua hari, kuharap besok aku bisa bertemu dengannya, aku…aku kangen.”

Kamu? Kangen? Kemana saja kamu dua tahun ini, menghilang bagai ditelan bumi, pergi dengan kekasih gelapmu, si licik itu. Bahkan aku sendiri yang mengurus perceraianku denganmu dan pontang-panting bekerja mencari nafkah untuk membeli susu Yasa.

Aku menahan rasa gemuruh di dadaku, kemudian merogoh isi tas untuk mencari Hpku. Setelah ketemu, lantas aku menanyakan nomor Hpnya dan kumasukkan dalam buku telepon Hp.
“Nomormu berapa Di?” Trias merogoh saku celananya untuk mengambil Hpnya, tapi aku mencegahnya.
“Jadi atau tidaknya, aku yang akan menghubungimu Tri.” Aku tatap wajah Trias, dia masih sangat tampan seperti dulu, sekilas kurasakan desiran jauh di dalam hatiku, desiran indah dan hangat namun dengan cepat berubah menjadi desiran rasa sakit dan terluka,”Oke, sampai besok ya…” Kataku tanpa menunggu kata-katanya lagi dan berlalu.

*

Mobil baru saja aku masukkan dalam garasi, kemudian tampak sosok kecil dengan rambut keritingnya melonjak-lonjak riang,”Bunda datang…bunda datang!”
Ijah pembantu yang sudah ikut aku lima tahun terakhir ini dengan cepat menghampiriku,”Yasa nggak mau makan tuh Bun.”
Aku melirik Yasa sebentar, yang dilirik malah senyum-senyum usil,”Yasa maunya makan bareng Bunda, wek!” Sambil menjulurkan lidahnya ke Ijah.
Aku menggoyang-goyangkan telunjukku ke Yasa,”Jangan gitu ah Ya, kalau Bunda belum pulang kantor, Yasa harusnya mau makan sama Mbak Ijah.” Kemudian aku menoleh ke Ijah,”Jah, tutup dulu pagarnya, jangan lupa di gembok ya.”
“Nggih Bun.”
“Wah, Bunda bawa apa tuh!” Yasa berusaha mengambil kotak kue tart dari tanganku.
“Sebentar Ya, bawakan dulu aja tas kerja Bunda, biar Bunda bawa kotaknya ke meja makan.” Aku menyerahkan tas kerjaku ke tangan Yasa.
“Asyik…asyik…Yasa hari ini ulang tahun ya Bun?”Yasa melihat kue tart di meja makan dengan pandangan sangat antusias,”Mana lilinnya Bun? Ayoo pasang…dinyalakan.”
Aku keluar dari pintu kamar setelah berganti pakaian piyama dan kemudian menuju ruang makan.
“Itu bukan kue tart untuk ulang tahun Ya, Bunda hari ini di promosikan naik jabatan, itu buat syukuran Sayang.”
Yasa menatapku tak mengerti,”Promosi? Apa itu Bun? jadi ini bukan kue ulang tahun untuk Yasa yah?” Yasa kemudian melirik kue tart itu, kecewa.
“Artinya, mulai minggu depan Bunda jadi manajer di kantor, bukan staf biasa lagi, terus gaji Bunda naik, yang berarti Bunda bisa nabung lebih banyak untuk Yasa….kue itu Bunda belikan untuk Yasa juga kok.” Aku meraih Yasa dan mendudukkan dalam pangkuanku, kemudian menyuruh Ijah mengambil pisau dan piring kecil.
Kulihat Yasa makan kue tart bagiannya dengan sangat lahap, berkali-kali dia bahkan mencolek gula-gula di lapisan luar kue tart, aku hanya melihatnya dengan tersenyum, tidak ingin menganggu keasyikan anakku.
Setelah mandi, aku jumpai Yasa sudah tergolek di atas tempat tidur di kamarku sambil menonton dvd kartun Madagascar. Aku kemudian menjatuhkan diriku di sampingnya, memeluk tubuh kecilnya yang liat dan berisi dari belakang, menciumi rambut keritingnya yang lembut dengan wangi melon, juga menciumi daerah belakang telinganya, Yasa tampak kegelian tapi dia sangat menikmati ciuman sayangku,”Udah ngerjain peer Ya?” bisikku lembut di telinganya.
“Udah Bun.” Ujarnya pelan sambil tetap melihat TV.
“Ya…TV nya dikecilin dulu volume suaranya, Bunda mau ajak Yasa ngobrol nih.” Aku meraih remote TV sembari melirik Yasa minta persetujuannya.
Yasa mengangguk, kemudian menelentangkan badannya melihat ke arahku.
Aku pun mengecilkan volume suara TV, kemudian berbaring menghadap ke arahnya dan menyangga kepala dengan tanganku,”Yasa, mau ketemu Daddy?” Aku bertanya hati-hati kepada Yasa.
Yasa berfikir sebentar, kemudian dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Lho, kenapa…Yasa nggak ingin ketemu Dad?”
“Daddy kan jahat sama Bunda dan Yasa, dulu sering buat Bunda nangis…Yasa sampai takut, terus Bunda sama Yasa ditinggalin, nggak pernah ditengokin lagi.” Yasa berkata polos kepadaku, matanya menatap ke arahku.
Aku tercekat, diam…Aku mengerti betapa beratnya bagi Yasa harus menghadapi itu semua. Aku membayangkan masa kecilku sewaktu seumuran dengan Yasa dua tahun yang lalu, sangat bahagia melihat kemesraan orang tuaku sehari-harinya.
Aku mencium kening Yasa lembut,”Tapi Daddy sekarang sudah berubah Ya, dia kangen dengan Yasa, mau ketemu….mungkin Daddy besok bawa mainan untuk Yasa, mau kan ketemu Daddy?”
Yasa masih menggelengkan kepalanya,”Yasa sudah lupa muka Daddy.”
Aku terkesiap lagi mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Yasa, memang semenjak aku pindah ke kota ini, semua foto-foto Trias sudah aku lenyapkan, dibakar dan digunting. Hal itu karena aku sangat tergoncang dalam menghadapi perpisahanku dengan Trias. Perpisahan yang dipaksakan terjadi olehnya.
Aku bangkit dari tempat tidur, mengambil cermin kecil di atas meja riasku, kemudian berbaring lagi di sebelah Yasa sambil mengarahkan cermin di atas mukanya,”Muka Daddy persis seperti Yasa, alisnya tebal, matanya juga bulat, hidungnya mancung, hanya bibir dan rambut Yasa yang seperti Bunda.” Aku menyentuh bibir Yasa sekilas.
“Tapi Yasa kan sayang banget sama Bunda…Daddy kan nggak.” Yasa menatapku lewat pantulan dalam cermin.
Aku mengecup pipi Yasa, kutahan agar air mataku tidak menetes di depannya, padahal sungguh, mataku sudah terasa hangat.
“Bunda masih sayang dengan Daddy?” Yasa menatapku.
“Bunda sayangnya dengan Yasa.” Kemudian aku membisikkan di telinga mungilnya,”I…Love…You.” Yasa tertawa pelan.
“Mau yah ketemu Daddy, mungkin besok dia juga bawa temannya Ya.”
“Sama Bunda tapi ketemunya dan Yasa nggak ingin lama-lama juga.” Yasa meraih remote TV dan membesarkan volume suaranya.
Sebagai jawabannya aku mengecup pipinya lagi dan mengangguk.
Malam sebelum tidur, aku mengirimkan sms ke Trias.

Besok jam 7 malam di café Solitaire di Mall kemarin, kalau bisa kamu bawa mainan untuk Yasa, kamu ngajak Vina?

Bawa mainan untuk anaknya sendiri kenapa juga harus aku ingatin, tapi hanya untuk jaga-jaga saja, belum tentu Trias membawanya dan aku tidak mau Yasa bertambah kecewa. Dan tentu saja tanpa dia menjawabnya, sudah pasti Trias akan membawa serta si licik bertubuh seksi itu.
Lima menit kemudian Hpku berbunyi lirih.

Mainan apa ya Di? Yasa sukanya apa? Vina maksa pingin ikut. Balas ya

Tentu saja aku tidak membalas smsnya.

*

Kami duduk berempat di meja café Solitaire. Aku duduk bersisian dengan Yasa dan di depan kami Trias dengan Vina. Sekarang di atas meja Yasa bersebelahan dengan seporsi nasi ayam teriyakinya, tergeletak mobil hot wheels model terbaru, tapi Yasa menatapnya tidak antusias. Dia lebih sering diam, menatap Daddynya kemudian bergantian dengan menatap Vina.
“Yasa suka nggak mobil-mobilannya? Itu tante Vina yang memilih.” Trias berkata sumringah kepada Yasa.

Kenapa Vina harus dilibatkan juga sih, lagipula Yasa tidak suka mobil-mobilan, dia sukanya robot!

Aku menengok ke arah Yasa, dan dia melihatku,”Yasa sukanya robot Tri.” Aku melirik ke Trias dan Vina.
“Oh, maaf Sayang, Tante kan tidak tahu, apa nanti mau dibelikan robot setelah pulang dari sini?” Vina dengan centilnya memegang dagu Yasa.
Saat itu juga rasanya aku ingin mencopot sepatu hakku dan melemparkannya ke arah Vina, tapi teringat perlakuan seorang artis muda yang sempat menginap di bui selama beberapa hari akibat memukulkan sepatu haknya ke seorang laki-laki pacar musuhnya, membuatku mengurungkan niatku. Sebagai gantinya aku langsung menyuapkan steak potongan besar ke mulutku. Dasar licik…gatel…najis!
“Dimakan Yasa nasinya.” Aku berkata pelan sambil tersenyum ke Yasa.
Yasa memakannya pelan dan tidak berselera.
“Apa mau Daddy suapin seperti dulu? Yasa dulu makannya banyak waktu masih kecil.” Trias melihat ke arah Yasa tersenyum sumringah.
Yasa menggelengkan kepalanya cepat,”Kata Bunda, Yasa harus sudah bisa makan sendiri, sudah besar.”
Aku melihat Trias, dia tersenyum kepadaku dan Yasa, sempat kulihat ada tatapan cemburu dari Vina, tapi aku membiarkannya.
“Hmm…Mas, tuh ada sisa saus di pinggir mulutnya, Vina bersihin ya..” Kemudian dengan gayanya yang genit menggoda dia mengambil selembar tisu dan membersihkan mulut Trias. Kentara sekali sikapnya hanya untuk membuatku cemburu.
Trias menatap aku dan Yasa dengan pandangan sangat tidak enak, kemudian dengan body languagenya kepada Vina, Trias seolah mengatakan seharusnya Vina tidak perlu over acting seperti tadi.

Tidak pengaruh kok….Tapi kalau hal itu terjadi di depanku dua tahun yang lalu, mungkin aku sudah mengambil pisau dapur, dan dengan senang hati membuat tato tulisan “Jauhi Suamiku” di perutnya yang rata.

Aku melirik Yasa, yang dilirik hanya menatapku dengan pandangan tidak suka.
“Yasa, gimana di sekolah…kata Bunda ikut renang yah di sekolah? Dah bisa gaya apa saja?” Trias bertanya kepada Yasa.
“Gaya katak…Dad.” Yasa berkata canggung kepada Trias.
“Wah, gaya katak yang begini yah?” Trias memeragakan renang gaya katak di depan kami. Yasa tertawa pelan, aku pun tersenyum kepada Trias.
“Kapan-kapan mau yah berenang dengan Daddy, nanti Daddy ajarin gaya kupu-kupu.”
Yasa menatapku seolah minta persetujuanku, aku mengangguk kecil kepadanya, dan kemudian Yasa mengangguk ke arah Trias.
Setengah jam terakhir itu, Vina hanya diam dan sesekali hanya menimpali perkataan Trias dengan senyuman dan tawanya yang terdengar manja-manja menyebalkan.
“Bun…pulang yuk, Yasa capek.” Yasa berbisik kepadaku, saat itu Vina sedang di toilet.
Aku menatap Trias,”Sudah malam Tri, dan Yasa minta pulang.”
Kentara sekali kekecewaan di raut muka Trias,”Sebentar lagi yah Sayang, Daddy masih kangen banget, besok Daddy sudah balik di Jakarta.”
Yasa menatapku lalu Trias, cemberut, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya kepadaku,”Yasa capek, mau pulang…pokoknya mau pulang!”
Aku sudah bisa menebaknya, lima menit saja kalau tetap dibiarkan, pasti Yasa bisa menangis.
“Dia bisa nangis Tri…biar kami pulang duluan yah.” Kataku sambil memasukkan hadiah hot wheelsnya ke dalam tas punggung spiderman milik Yasa.
“Tadi naik apa ke sini? Biar aku antar yah pakai taksi.”
“Tidak usah Tri, aku bawa mobil kok.”
“Di…kita belum ngomongin tentang biaya hidup Yasa, kamu tahu kan…aku masih punya kewajiban bulanan terhadap dia.”
“Kemana saja dua tahun terakhir ini Tri.” Kataku dingin,”Habiskan dulu jus alpukatnya Ya..” Aku melirik ke arah gelas jus Yasa yang masih setengah.
“Di, maaf, aku….”
“Sekarang sudah tidak perlu Tri, aku sanggup kok mengurusi Yasa, kamu lihat sendiri kan dia tidak kekurangan apa pun.”
Trias hanya menatapku dan Yasa bergantian, ada pandangan rasa bersalah di matanya.
“Lagipula, kalau seandainya kita tidak bertemu kemarin sore, tentu acara pertemuan yang mengharukan antara Bapak dengan Anak tidak akan terjadi kan?” Aku berkata kepada Trias sinis.
Trias belum sempat menanggapi pernyataanku, Vina sudah kembali menuju meja kami,”Maaf lama, tadi aku merokok dulu, lho…sudah mau pulang?” Tanyanya setelah melihat aku dan Yasa berdiri.
“Iya, Yasa sudah capek dan mengantuk, jadi kami pulang duluan.” Lalu kulihat gelas jus alpukat yang kosong, melirik ke Yasa dan berkata pelan,”Good boy.”
“Ayo Yasa, salim ke Daddy dan Tante Vina dulu.” Aku mendorong lembut punggung Yasa ke arah Trias dan Vina yang sudah berdiri.
Setelah mencium tangan Daddynya, Trias langsung memeluk Yasa erat dan menciumi wajahnya, kemudian dia membisikkan sesuatu kepada Yasa, entah apa.
Aku pun berpamitan, dan tentu saja tanpa acara cipika cipiki, apalagi dengan Vina. Kemudian Trias meminta ijin Vina untuk mengantarku sampai luar café.
“Di…boleh kan sekali-kali aku berkunjung ke sini dan bertemu dengan Yasa.”
“Boleh tentu saja,…semua terserah Yasa kok Tri, aku hanya mengikuti kemauannya.”
“Di, terimakasih sudah menjaga Yasa dengan baik.” Trias berkata pelan kepadaku.
Aku hanya menjawabnya dengan segaris senyuman.

*

Sebelum tidur, aku bertanya kepada Yasa apa yang dibisikkan Trias kepadanya sewaku berpamitan di café tadi.
“Maafkan Daddy ya…banyak mengecewakan Yasa dan Bunda, Yasa harus jaga Bunda menggantikan Daddy.” Yasa mengatakan padaku apa yang dibisikkan Trias.
Aku hanya terdiam, tidak bisa mengartikan perasaanku saat itu, apakah sedih, bahagia atau bahkan hampa. Aku hanya mengecup kening Yasa, dan membiarkannya tidur di atas lenganku.
“Yasa maafin Daddy kok Bun.” Yasa berucap pelan sambil terpejam.
“Yah, Bunda juga.” Bisikku di telinganya.

----------the end--------

Puri Anjasmoro, 28 Desember 2006

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 7:23 AM ¤ Permalink ¤ 15 comments
Wednesday, April 04, 2007
Tuk calon suamiku kelak

Mendekapmu adalah duniaku,
Membelaimu adalah kehidupanku,
Melayanimu adalah kebahagiaanku,
Menyayangimu adalah nafasku,
Dan menciummu adalah surgaku,
Tuk calon suamiku kelak,...
Aku sudah mencintaimu sebelum mengenalmu.


Semarang, 23 Oktober 2006

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:45 AM ¤ Permalink ¤ 21 comments
Tuesday, April 03, 2007
Cinta pujangga

Oh Tuhan...
Di malam sunyi ini...
Biarkan hati hamba bernyanyi...
Lagu pujangga yang sedang merindu...
Kisah tentang kapal karam di tengah lautan...
Nahkoda tercinta hilang entah ke mana...
Nyanyian rindu yang lirih merintih...
Biarkan liriknya menyentuh hati...
Oh Tuhan...
Ijinkan hati sang nahkoda kembali...
Dan membuat biduk berlayar...
Menyusuri samudera cinta...
Biarlah cinta di hatinya berlabuh...
Hanya di dermaga punya hamba...
Oh Tuhan...
Begitu manis cinta yang terjalin...
Walau sekarang semua tlah terburai...
Bagi Tuhanku...
Apalah di dunia ini yang tak mungkin...
Sejentik jari Tuhanku...
Semua bisa lenyap...
Sejentik lagi jari Tuhanku...
Cinta pun bisa tumbuh...
Oh Tuhanku...
Semoga rindu ini cepat menjadi bertepi...

Semarang, 14 Maret 2007

Image from corbis.com

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:13 AM ¤ Permalink ¤ 14 comments
Sunday, April 01, 2007
Kunjungan Sahabat
Sabtu sore saya kedatangan tamu, sahabat saya selama di S1, setelah sekian lama tidak berjumpa ( sekitar 1,5 tahunan ), nama panggilannya adalah Susi. Orangnya baik, lucu, dan ramah, dia sangat akrab juga dengan Mamah saya. Jadinya sore sampai malam kita habiskan untuk ngobrol bertiga.
Sewaktu di S1, hubungan saya dan Susi sangat dekat, yang membuat saya selalu teringat kepada dia adalah teh hangat buatan dia yang enak. Padahal rasa teh dimana-mana sama saja, dari teh di angkringan, teh Tong tji yang di stand, sampai teh di café mahal, tapi entahlah, teh hangat buatan Susi rasanya tiada duanya.
Pernah di suatu sore, saat itu perasaan saya sedang sangat suntuk, dan saya ingin main ke rumahnya, sepanjang perjalanan, di dalam hati, saya menebak-nebak, pasti saya akan menangis saat ketemu dia, saya akan tumpahkan semua kesuntukan saya ke dia, tapi ternyata setelah sampai di rumahnya dan disuguhi secangkir teh hangat, rasa suntuk itu menguap entah kemana. Malah saya akhirnya pulang dengan hati riang.
Dengan Susi, saya bisa bercanda tentang apa saja, tidak ada hal yang tabu buat kami, dan selama saya berteman dengan dia, sekitar 10 tahun, saya tak pernah melihat dia marah atau tersinggung kepada saya, kalau dicela dia hanya tersenyum atau tertawa, dan celaannya pun tidak pernah menyakitkan hati saya, itu yang membuat saya selalu merasa nyaman berteman dengan dia.
Sebenarnya sahabat saya sewaktu di S1 bukan hanya Susi, tetapi karena rumah dia yang dulu ( sekarang sudah pindah di daerah Ngaliyan ) dan rumah saya agak berdekatan, kami sering berangkat kuliah bareng, hanya di semester-semester akhir saja kami jarang bersama, karena Susi ambil konsentrasi Pemasaran, sedangkan saya ambil Keuangan. Namun para sahabat saya selalu mengadakan pertemuan rutin, entah itu hanya sekedar untuk ngobrol atau liburan bersama.
Saya dan Susi berbeda agama, dia penganut Katolik yang taat, tetapi itu tidak pernah menjadi suatu permasalahan yang berarti untuk kami. Bahkan terkadang kami mengobrol tentang kegiatan agama masing-masing untuk sekedar menambah pengetahuan. Saya merasa beruntung pernah kuliah di Unika Soegijapranata, karena saya bisa berteman akrab dengan penganut agama lain dan dengan teman-teman yang keturunan Cina. Saya bisa mempelajari karakter dan kebiasaan mereka ( tentu saja ini menjadi bekal yang bermanfaat untuk saya ). Tidak ada perbedaan di antara kami, walau pada dasarnya merupakan sebuah Universitas berbasis Katolik, tetapi HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ) juga ada di sana. Semua mahasiswa mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Bahkan saya lebih enjoy kuliah di sana, daripada di Universitas Negeri. Karena di Unika, semuanya dilakukan secara transparansi dan adil ( tidak ada istilah dekat dengan Dosen, maka dapat nilai lebih bagus ). Dan yang lebih penting, selama kuliah S1 di sana, saya sudah mengenal sahabat sebaik Susi.




Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 4:43 PM ¤ Permalink ¤ 17 comments