Google
 
Thursday, August 30, 2007
Enjoy the love

Mari dekat saya…karena saya sedang bahagia…

Ingin rasanya menari-nari ditengah padang rumput hijau yang luas…

Dan biarkan fikiran saya sedang berkelana di rimbun dan sejuknya suasana di Selandia Baru atau di tepi sungai pinggir hutan tempat memancing ikan-ikan salmon di Amerika…

Mari dekat saya…karena saya sedang benar-benar merasakan cinta...


by angin-berbisik


Song by The Corrs - Runaway



Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:18 AM ¤ Permalink ¤ 28 comments
Tuesday, August 28, 2007
Song of my heart

Ku sebut dirimu...barisan nada...partitur cinta...

Walau mulutmu tak bisa mengungkapkan

kata-kata indah...

Aku tahu....hatimu selalu penuh dengan

lukisan yang bermakna...



Semarang, 28 Agustus 2007


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 11:17 AM ¤ Permalink ¤ 21 comments
Friday, August 24, 2007
My Sweety Baby....

Suatu ketika ada seseorang yang merasa cemburu kepada anakku...memintaku untuk lebih mencurahkan perhatian kepadanya, ah tentu saja aku meninggalkannya...anakku adalah hidupku...belahan jiwaku...Kami adalah satu paket yang tidak mungkin terpisahkan...
Mami loves you my pretty Baby...


Kalau slide nya tak bisa terbuka dengan Internet Explorer, coba dengan Mozilla Firefox...:)

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:57 AM ¤ Permalink ¤ 22 comments
Tuesday, August 21, 2007
Memoar seorang kekasih

Dahulu kita adalah sepasang angsa,

Yang kau sebut angsa-angsa itu liar,

Karena terlalu bergairah,

Ingin memacari dunia,


Kubaca berulang-ulang paragraf pertama yang dulu kita tulis bersama, kau dan aku…memoar sepasang kekasih.


Aku ingin terbang bersamamu ke sebuah danau indah di Britain,

Yang cerita dongeng mashurnya selalu diceritakan Bunda menjelang tidur,

Kan kubawa tubuh kurusmu di atas punggungku,

Terbang bersama melintas samudera ditemani angin,


Kekasih, ingatkah kau…dulu kita saling tak terbatas…kebebasan yang manusiawi melingkari jenak kita…tak ada lagi kamu, aku, sendiri…yang ada hanyalah kita, ya! Kita berdua, duduk bersama melingkarkan jemari di depan perapian cinta yang hangat. Saling bertukar pandang ke dalam telaga mata penuh cinta, berbagi detak, berbagi denyut dan berbagi debar…


Kubaca kembali bait-bait cinta yang kutulis untukmu dulu…


Aku tak ingin menjadi angsa tolol yang tidak memilih terbang bersamamu,

Telah terukir dalam benakku saat pertama kali aku melihatmu,

Bahwa aku adalah angsa yang akan menjelma dari seorang itik yang buruk rupa,

Karena yakin engkau yang akan merubahku…dan membawaku ke dalam pelukanmu.


Kupejamkan mata, angan seakan kembali menyaput kenangan masa indah di waktu lampau…hanya secarik kertas ini, sisa-sisa kenangan tentang kita…dan tentu saja wajahmu yang tak berbingkai dan tak berkanvas, karena telah terlukis abadi di dalam hati.

Terbersit sebuah niat di dalam hati, untuk mengirim sebuah pesan untukmu…dan langsung kuwujudkan saat itu juga, karena aku tak mampu lagi meredamnya…sebuah kerinduan yang luar biasa…liarku sebagai angsa.


Masih ingatkah dikau akan impian kita….untuk memacari dunia


Pesan singkat, tanpa nama…dan tanpa identitas lain yang diketahui olehnya….pesan pertama setelah belasan tahun tak pernah bersua…dan berbagi cerita

Dan pesan itu ternyata terbalas…


Hidup dan jiwaku seakan sudah membentuk menjadi labirin, dan jujur, engkau masih terjebak di dalamnya…


Tak kubalas pesan singkatmu Sayang….karena semua hanyalah kenangan…kubatasi diriku tak terlampau jauh bermanja dengan kenangan itu. Karena aku dan kamu, … sudah mengawini dunia yang berlainan.


Semarang, Di antara hari-hari dalam Agustus 2007

* ini cerpen, teman.....bukan kisah pribadi...*


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 10:38 AM ¤ Permalink ¤ 24 comments
Wednesday, August 15, 2007
Rindu

Aku rindu kamu...
Suara hujanku...sejuk udaraku...
Hmm....aku rindu kamu...
Pemilik hatiku...perangkap jiwaku...
Ingin ku menjadi udara...
Yang melingkupi tubuhmu...
Ingin ku selalu melihat...
Wajah yang mencintaiku...
Ingin ku memeluk...
Raga yang menghangatkanku...
Datanglah kepadaku...
Duhai kekasih...
Atau aku yang akan datang kepadamu...


Lebih keren bila juga sambil denger lagu If U Leave Me Now yang ada di blog ini :P

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:11 AM ¤ Permalink ¤ 28 comments
Sunday, August 12, 2007
Cerpen dialog tanpa judul

Anita : Suamimu mencintai aku.

Sonia : Ha? Apa maksudmu?

Anita : Tanpa sepengetahuanmu, kami berselingkuh.

Sonia : Hahaha, nggak lucu Nit…sama sekali nggak lucu.

Anita : Kamu lihat mukaku deh, apakah aku tertawa?

Sonia : ….

Anita : Sudah dua tahun kami menjalin hubungan.

Sonia : ….

Anita : Jangan diam saja Son! Katakan sesuatu! Aku bajingan kek! Setan betina kek! Apa saja!

Sonia : Apa saja yang sudah kalian lakukan?

Anita : ….

Sonia : A-pa-sa-ja?

Anita : Semua yang kamu fikirkan Son.

Sonia : Dia menikmati semuanya?

Anita : Kelihatannya.

Sonia : Dan kamu sendiri…kamu menikmati tidur dengan suami sahabatmu sendiri?

Anita : Ya…aku merasakan kepuasan.

Sonia : Kamu sudah TIDUR dengannya?

Anita : Ya…berulang-ulang, saat kamu dinas ke luar kota.

Sonia : Termasuk di sini?

Anita : Yah…apartemen kalian tempat favoritku untuk bercinta.

Sonia : Ka-lian…di si-ni….

Anita : Ya, tepat di atas kasur yang kamu duduki sekarang.

Sonia : ….

Anita : Aku merasa kamu juga ada Son, melihatku ketika suamimu menggauliku. Dan itu membuatku bertambah puas.

Sonia : Kamu gila Nit…

Anita : Hahaha…

Sonia : Wanita gila!

Anita : Akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang kamu miliki Son.

Sonia : Apa maksudmu?

Anita : Yah, kamu wanita beruntung Son, kehidupanmu yang enak, yang belum pernah aku dapatkan.

Sonia : Nit, ini cuman lelucon konyolmu seperti biasanya kan?

Anita : Nih, kamu bisa putar ulang rekaman di Hpku ini!

Sonia : …..

Anita : Kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan Son, dari dulu…sampai perhatian para lelaki di kampus kita, siapa yang tidak kenal Sonia Indra! Otakmu encer, wajahmu cantik tiada cela, harta berlimpah, kamu benar-benar seperti puteri dalam dongeng Son.

Sonia : Ya, aku menjadi sempurna juga karena sahabat sepertimu. I-ni…bagaimana aku bisa melihatnya, file yang mana?! Tanganku gemetaran…

Anita : Klik saja tombol hitamnya! Dan kamu salah Son, pendapatmu tentang aku, 13 tahun kita bersahabat, tidak berarti apa-apa untukku.

Sonia : Oh…………A-pa ini….Nit! Tega betul kamu!

Anita : Ya, itu suami tercintamu dengan aku.

Sonia : Dia tega mengkhianatiku? Oh…

Anita : Demi aku…nice story ya? Hahaha

Sonia : ….

Anita : Kenapa menatapku seperti itu?

Sonia : Tidak ada ungkapan yang lebih kejam untuk kamu Nit…

Anita : Kamu mau tahu, butuh waktu berapa lama untuk menggodanya?

Sonia : Bajingan kamu…

Anita : Hanya dua bulan Son! Hebat kan aku?! Berhasil menjerat dan merebut sang pangeran dari puteri negeri dongeng dalam waktu singkat.

Sonia : ….

Anita : Dan sekarang si Puteri sedang menangis sedih…..dan kalah…

Sonia : Diam kamu! Kamu tahu?! Aku sangat menyayangimu Nit! Bahkan kamu sudah seperti saudara kandungku sendiri!

Anita : Kamu mau membuatku menjadi pelayanmu seumur hidupmu?

Sonia : Pelayan apa?!

Anita : Aku tidak ingin menjadi bayang-bayangmu Son…

Sonia : Tidak Nit, kamu sahabatku….

Anita : Bullshit

Sonia : Kamu tidak mencintainya kan Nit? Kamu hanya ingin memanfaatkan dia untuk menyakitiku.

Anita : Aku ingin melihatmu hancur.

Sonia : Kamu yang menghancurkan hidupmu sendiri! Dan aku saat ini sedang melihat dirimu perlahan-lahan hancur.

Anita : Apa maksudmu brengsek?!

Sonia : Uff…lepaskan tanganmu dari leherku.

Anita : Hei…dengar ya, aku ingin melihatmu hancur, dengan melihat sendiri suami yang kamu cintai telah berselingkuh denganku.

Sonia : Harap kamu tahu, aku tidak lagi mencintai dia Nita.

Anita : Hah, kamu kira aku percaya Sayang? Kamu menangis untuk itu tadi.

Sonia : I am a drama queen. Aku sedang mengurus perceraianku dengan suamiku sejak sebulan yang lalu.

Anita : …

Sonia : Aku tahu dia sudah berselingkuh, tapi aku tidak sangka ternyata dengan kamu.

Anita : Setelah kamu tahu? Apa yang kamu rasakan?

Sonia : Aku ingin membunuh dan mencabik-cabikmu.

Anita : Do it! Tunggu apa lagi?! Just do it!!

Sonia : Aku tidak ingin masuk penjara karena membunuhmu.

Anita : Hahaha, I know it!

Sonia : Pengkhianatan murahan! Tidak cukup membuatku hancur.

Anita : Itu upaya untuk menghibur dirimu sendiri ya?

Sonia : Tidak juga

Anita : Dia berjanji akan menikah denganku

Sonia : Hm..

Anita : Dan aku akan menggeser kedudukanmu sebagai nyonya rumah,…aku akan memiliki semuanya, harta…dan gambaran seorang suami yang ideal!

Sonia : Aku sudah mengurus perceraianku.

Anita : Baguslah, semakin cepat, semain baik

Sonia : Benar-benar iblis betina….dan bodoh

Anita : Pardon me? U said that me, bodoh?! Hei, mau kemana kamu? Aku belum selesai!

Sonia : Paris, sekedar menenangkan diri…pengacaraku yang urus semua.

Anita : Aneh,…kamu tidak kelihatan histeris…panik…whatever…

Sonia : Tidak perlu. Oke Anita…selamat tinggal, dan nikmati saja hidup bermewah-mewah dengan kepailitan perusahaan Suamiku.

Anita : A-pa-mak-sud-mu?!

Sonia : Setahun yang lalu aku bekerja sama dengan Aras, manajer keuangannya yang tampan dan muda, yah…memang penuh intrik dan dendam Nit…sampai akhirnya minggu lalu kami berhasil juga membuatnya pailit…semua halus, tanpa bukti…bahkan detik ini, dia juga belum menyadari kalau perusahaannya sudah di ambang kehancuran, hmmm…aku membagi rahasia ini ke kamu, karena sehina-hinanya kamu, pernah menjadi sahabatku.

Anita : ….

Sonia : Wajahmu pucat…

Anita : Ternyata kamu lebih iblis daripada aku!

Sonia : Selamat tinggal…simpan saja makianmu untuk dirimu sendiri…Aras sudah menungguku di bandara…aku tak membawa apa-apa, semua barangku boleh saja kaumiliki, yah…anggap saja sekedar kenang-kenangan dariku.

******


Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 8:06 AM ¤ Permalink ¤ 29 comments
Wednesday, August 08, 2007
Akhir di hati Diandra

Sore itu aku hanya berdiam diri di meja kantorku, sambil sesekali merapikan letak map file yang agak berantakan. Tidak ada lagi yang harus kukerjakan sore ini, satu jam sebelum jamku pulang kantor.

“Diandra..” Seseorang menepuk bahuku, aku menoleh dan ternyata yang menepukku adalah Windi, sekretaris direksi.

“Lagi nggak ada kerjaan?” Windi menggeser kursi yang berada di meja Anton, teman satu bagian denganku.

Aku menggeleng,”Sudah beres semua Win, atau kamu mau kasih aku kerjaan lagi? Bosen nih...” Aku tersenyum kepadanya

“Kebetulan nih, Mbak Tari tadi ajak aku untuk besuk suaminya Conny di rumah sakit, aku dengan Mbak Tari kan nggak bisa nyetir mobil, so kita mau ajak kamu…”

“Em..kok nggak sama Pak Darus, dia kan sopir kantor?” Aku agak kaget dengan ajakan Windi, karena…

“Pak Darus lagi nemenin Bos ke bandara, jemput koleganya dari Amerika, kita rencana sih mau pakai Innova kantor, kamu yang nyupirin ya Di.” Windi berkata tegas kepadaku.

“Aku…

“Lagipula tinggal kita bertiga lho yang belum besuk suaminya Conny, karena tiga hari ini memang kita sibuk banget.”

( Atau memang aku yang sengaja menyibukkan diri ).

Tiba-tiba Mbak Tari, manajer keuangan perusahaan mendatangi kami sambil membawa sekotak kue.

“Gimana, Diandra mau ikutan juga kan?” Mbak Tari menatapku, kemudian ganti menatap Windi,”Eh Win, kita bawain brownies kukus tiramisu aja yah, ini masih hangat, tadi aku pesan delivery service dari tempat temanku.”

“Sip Mbak, ayo Di..siap-siap, kami tunggu kamu di luar yah.” Windi kemudian menggandeng tangan Mbak Tari dan menuju ke luar.

Aku menarik nafas panjang, dan dengan malas-malasan menarik tas kerja yang berada di bawah meja.

( Padahal aku belum bilang kalau aku mau kan? )

*

Di mobil, aku hanya diam sambil mendengarkan percakapan di antara Mbak Tari yang duduk di sebelahku dan Windi.

“Memang suaminya Conny sakit parah Win?” Mbak Tari menoleh ke belakang, ke arah Windi.

“Iya Mbak, katanya sih kena DB, tapi agak telat dibawa ke rumah sakitnya.”

“Namanya siapa yah? Suaminya Conny.”

“Hm…siapa yah…duh…siapa yaa, aku tuh pernah dikasih tahu, kok lupa.”

Aku melihat lewat kaca spion ke arah Windi yang sedang mengeryitkan kening untuk mengingat-ingat. Lalu aku menoleh ke arah Mbak Tari,”Namanya Rian.”

“Oh iya, namanya Rian, hehehe, dah ingat sekarang.” Windi berkata keras dan senang.

“Kok kamu ingat namanya sih Di?” Mbak Tari menatapku.

“Dari Conny.” Jawabku pendek.

( Tentu saja aku ingat dengan jelas nama suami Conny ).

*

Di rumah sakit, Mbak Tari mengetuk pelan pintu kamar yang berwarna putih dengan papan nama bertuliskan Tn. Rian Alfriadi.

Dadaku berdegup kencang.

( Semoga saja tidak ada yang membuka pintu, Rian sedang tidur dan Conny sedang tidak berada di dalam kamar ).

Tapi harapanku tidak terkabul, karena pintu kamar langsung terbuka setelah diketuk, dan Conni yang berada di baliknya tersenyum, kemudian dia memeluk Mbak Tari, Windi dan aku bergantian.

“Terimakasih sudah datang Diandra.” Conny berkata pelan setelah memelukku.

Aku tersenyum kepadanya,”Maaf Con, aku baru bisa datang sekarang.”

Conny menggeleng,”Tidak pa-pa, sebenarnya besok Rian juga sudah boleh pulang kok.” Conny berkata kepada kami bertiga.

“Oh syukurlah, jadi besok kamu bisa ke kantor lagi dong Con?” Mbak Tari tersenyum kepada Conny.

“Iya Mbak, sudah kelamaan cuti, nggak enak dengan Bos.”

Kemudian aku berjalan menuju ranjang, dan Rian tersenyum kepadaku.

Aku tersenyum kepadanya, senyum yang kaku, lalu aku hanya diam mendengarkan Mbak Tari dan Windi berbasa-basi menanyakan kabar Rian, sambil terkadang aku mencuri pandang ke arah Rian yang saat ini sudah duduk di ranjangnya.

( Syukurlah dia sudah tampak sehat ).

“Mau minum apa yah Di?” Tiba-tiba suara Conny mengagetkanku.

“Ah, nggak usah repot-repot Con, kita kan besuk, bukan bertamu.” Aku tersenyum kepada Conny.

“Ada Mbak Tari, aku nggak enak Di, aku beli minuman dulu yah di cafetaria bawah.”

Windi yang mendengar percakapan antara aku dan Conny segera berujar,” Aku temenin deh Con.”

Aku lihat Mbak Tari sedang asyik mengobrol dengan Rian sampai mereka tidak sadar bahwa sudah tidak ada Conny dan Windi di kamar itu.

“Lho, Conny dan Windi kemana?” Mbak Tari melihat ke arahku yang sedang duduk diam di kursi dekat ranjang.

“Mereka baru saja ke bawah, beli minuman.” Aku berkata sambil menatap Mbak Tari, dari ekor mataku aku tahu Rian juga menatapku, tapi aku tidak berani menatapnya.

“Ah, kenapa harus repot sih….” Mbak Tari berkata kepada Rian.

Dan Rian pun tersenyum,”Nggak pa-pa kan, biar Mbak Tari betah disini, hehehe”

“Ada-ada saja kamu ini.” Tiba-tiba HP Mbak Tari berdering,”Sebentar ya, telepon dari Bos nih, maaf ya Rian, Diandra, aku terimanya di luar kamar saja.” Kemudian Mbak Tari bergegas ke luar kamar.

Dan meninggalkan aku yang jujur sangat tidak siap menghadapi situasi ini, karena berdua saja di kamar dengan Rian.

“Andra…” Rian memanggilku pelan, dengan nama kecilku, kemudian dia berusaha untuk mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepadaku.

“Yan, kamu masih lemah, sudah disitu saja.” Aku dengan gugup berdiri dari kursiku, aku memanggil Rian dengan sebutan Yan, panggilanku dulu untuknya.

“Andra, aku kangen kamu.” Rian menatapku tajam, lalu tangannya bergerak seolah ingin menggapai tanganku.

“Tidak boleh Yan, jangan berfikiran macam-macam, kamu masih sakit.”

“Kamu dengar sendiri kan tadi An, besok aku sudah boleh pulang.”

Aku tersenyum kepadanya,”Selamat yah, beberapa bulan lagi kamu akan jadi Bapak.”

Rian tidak tersenyum,”Aku masih menyayangimu An…”

“Conny wanita yang baik yah, dia dengan setia menungguimu di rumah sakit.” Aku menghindari topik percakapannya.

“Andra, kamu harus tahu, semua itu keputusan orang tuaku, sehingga aku harus meninggalkanmu, dan menikah dengan Conny!” Rian berkata tegas kepadaku, nada suaranya dia jaga supaya pelan.

“Aku nggak pa-pa kok Yan, kamu tahu? aku hanya memerlukan waktu sebulan untuk melupakanmu.” Aku tersenyum kepadanya.

( Bohong banget! sebulan itu hanya waktu untukku mengasingkan diri, dan dari waktu kamu menikah tujuh bulan lalu dengan Conny gadis pilihan orang tuamu yang ternyata juga teman sekantorku, sampai sekarang ini aku masih gila memikirkanmu ).

“Kamu tampak kurusan An.” Mata Rian menelusuri tubuhku.

“Kerjaku beberapa bulan ini berat, lumayan kan aku bisa tampak lebih langsing lima kilo.” Aku memaksakan senyumku kepadanya.

( Padahal beratku turun sepuluh kilo karena secara tiba-tiba di saat sebulan kita akan bertunangan, engkau malah meninggalkanku untuk menikah dengan Conny ).

“Kamu bohong An…” Kemudian Rian berusaha turun dari tempat tidurnya, tapi sekilas dia tampak kesulitan, aku ingin membantunya tapi urung kulakukan, tidak berani kulakukan karena khawatir kalau sewaktu-waktu Mbak Tari atau Conny dengan Windi bisa masuk kapan saja dan melihat aku sedang berdekatan dengan Rian. Jadi aku hanya berdiri, diam mematung di dekat kursi.

“Kamu nggak ingin membantuku Di?” Rian mengangkat tangannya lagi untuk menggapai minta bantuanku.

“Kamu mau apa? Sudahlah di kasur aja, nggak usah kemana-mana.”

“Hanya ingin menyentuhmu An…” Rian menatapku dengan memohon.

Aku menggeleng, tegas,”Aku nggak bisa Yan, sudahlah! Hadapi kenyataan, kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Sekarang sudah ada Conny yang mencintaimu. Lupakan aku Yan! Lupakan kenangan tentang kita. Semua sudah berakhir.”

Rian hanya menatapku dan kemudian dia menundukkan kepalanya, duduk bersila di atas kasurnya,”Conny beda dengan kamu An..dia mencintaiku, tapi aku belum mencintainya, awalnya aku fikir cinta itu akan datang seiring perjalanan kehidupanku yang baru dengan dia, tapi aku masih belum bisa merasakannya, bahkan saat aku tahu dia hamil. Tidak ada yang berubah dengan perasaanku, aku masih saja memikirkanmu.”

“Oleh karena itu, hentikanlah memikirkanku Yan.”

Rian menatapku lagi, matanya memerah.

“Harusnya dulu aku berani tegas dengan orang tuaku,…”

Aku memotong perkataan Rian,”Yang dulu biarlah berlalu, tidak perlu diungkit-ungkit lagi, aku maklum kok mengapa orang tuamu lebih memilih Conny sebagai menantunya, dia lebih cantik dan menarik, anak orang terpandang pula.”

“Tapi aku tidak mencintainya, dan mungkin saat ini kamu berfikir kalau aku adalah seorang lelaki yang pengecut kan An? Lelaki yang tidak bisa mempertahankan wanita yang dicintainya di hadapan orang tua.” Suara Rian terdengar serak.

“Yah, dulu aku sempat berfikir kamu seperti itu Yan, tapi semua tidak ada gunanya…” Aku menatap Rian,”Aku sudah memaafkanmu Yan.”

“Aku masih merasa sangat bersalah kepadamu An, dan keluargamu.” Suara Rian bertambah serak.

Kemudian kudengar suara ramai di belakang pintu, aku memberikan isyarat kepada Rian untuk diam, lalu aku bergegas duduk di kursi kembali.

Pintu kamar terbuka, kemudian Conny, Windi dan Mbak Tari masuk ke dalam kamar.

“Hai, maaf yah lama, tadi cafetaria bawah sudah tutup, jadi aku dan Windi ke supermarket di seberang rumah sakit.” Conny tersenyum ke arahku sambil memberikan kaleng minuman kepadaku.

“Wah, kita nggak bisa lama nih Con, Bos tadi suruh kita cepat balik ke kantor, ada rapat mendadak bersama koleganya dia, yah…” Mbak Tari berkata sambil membuka kaleng minuman yang diberikan Conny.

Sesekali aku menatap Rian dan dia juga menatapku. Dia tersenyum kepadaku, senyum yang sumpah mati aku rindukan juga. Tapi setelah aku melihat Conny dan perutnya yang sudah mulai membuncit, aku segera melupakan kerinduanku.

“Oke, yuk kita balik.” Mbak Tari mengajakku dan Windi.

Aku mengangguk dan berdiri, menunggu Mbak Tari dan Windi menyalami Rian.

Sampai giliranku, Rian mengenggam tanganku lama, sampai aku yang terpaksa menarik lepas tanganku dari genggamannya.

*

Conny mengantarkan kami sampai di depan lift, kemudian sebelum aku masuk ke ruang lift, Conny menarik dan memelukku, dia berkata kepadaku singkat,”Maafkan aku Di, aku telah merebutnya darimu…”

Aku bergetar dan dadaku berdegup kencang.

( Bagaimana dia tahu…bagaimana dia tahu…)

Conny menatap Mbak Tari dan Windi yang sudah masuk di dalam lift, “Aku boleh bicara dulu dengan Diandra?”

Aku menatap Conny, panik,”Tidak ada yang perlu dibicarakan Con, tidak ada…”

“Okay, kami tunggu di bawah ya Di.” Mbak Tari berkata kepada aku dan Conny, kemudian dia menutup pintu lift.

Conny menatapku,”Aku sudah tahu, ternyata kamulah An yang sering dia sebut-sebut itu.”

Aku menggelengkan kepalaku,”Semua sudah berlalu Con, tidak ada hubungan lagi di antara aku dengan suamimu, aku berani bersumpah.”

“Dia belum mencintaiku Di…dan kamu pasti juga tahu hal itu kan?” Ada nada kegetiran dalam suara Conny. “Kenapa dulu kamu tidak bilang, kalau orang yang telah meninggalkanmu itu Rian?” lanjut Conny.

Aku hanya menatap Conny, tak tahu harus berkata apa.

“Di, kita sudah bersahabat sejak awal kita bekerja di kantor.”

“Karena kamu sahabatku itu! Aku bisa menyerahkan dia kepadamu dengan hati tenang dan ikhlas.” Aku berkata mantap kepada Conny.

“Tapi kamu sempat membenciku kan?”

“Aku tidak pernah membencimu Con, aku hanya sempat membenci ketidak adilan yang menimpaku.”

“Kamu pasti akan menemukan pengganti yang lebih baik Di.”

“Yah, pasti Con…semoga.”

“Apakah kamu masih mencintainya Di? Maaf, aku harus tahu…”

“Conny, perasaanku bukanlah hal penting lagi untuk kalian…Sekarang yang penting adalah bagaimana menjalani masa depan kalian bersama.”

Kemudian aku membalikkan tubuhku dan cepat menyentuh tombol lift untuk turun.

“Aku mencintai dia sekarang Di.”

“Iya, aku tahu…” Aku berkata tanpa membalikkan tubuhku.

“Aku mengandung anaknya.”

“Iya, aku tahu Conny.”

“Maafkan aku Di, tapi jahatkah aku kalau memintamu agar tidak mendekati Rian lagi?”

Aku menggeleng,”Tanpa kau minta pun, aku sudah melakukannya, semenjak kalian akan menikah.”

Aku membalikkan tubuhku, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, sambil berjalan mundur aku berkata kepada Conny,”Tetapi aku tidak bisa berjanji dapat membuat Rian akan melupakanku, itu semua tergantung kepadamu juga Conny, kamu yang bisa buat dia melupakanku.”

Aku masih menahan tombol untuk menutup pintu lift.

Conny menatapku,”Maafkan aku Di, dan maafkan Rian.”

Aku melepaskan tombol, “Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah ikhlas… sampai ketemu besok di kantor.” Aku tersenyum kepada Conny, dan perlahan pintu lift menutup.

Di dalam lift, aku hanya menyenderkan badanku ke dinding dan memejamkan mataku.

( Semuanya sudah berakhir…)

Bahkan Rian sendiri tidak tahu kalau dulu aku telah mengandung benihnya juga dan kemudian bayiku keguguran pada saat dia meninggalkanku, aku sudah kehilangan buah cinta ku dengan Rian. Bukti cinta kami…yang masih berumur dua minggu.

( Semua benar-benar sudah berakhir…)


Puri Anjasmoro, 17 Januari 2007

Background Song : Ada Band - Nyawa Hidup



Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 6:22 AM ¤ Permalink ¤ 19 comments
Monday, August 06, 2007
Jenuh
Jenuh bukan karena cinta, karena justru percintaan saya sedang hangat2nya *halah*
Ini jenuh nge blog...ide nya lagi kosong,
Mau hunting foto, mending nunggu waktu luangnya si cewek tulen, Diajeng Senja, yang sedang sibuk banget dengan liputan olahraganya,
Ah,...bisa juga saya terkena jenuh nge blog...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:28 AM ¤ Permalink ¤ 22 comments
Friday, August 03, 2007
Kebiasaan Baby di 5 tahunnya
1. Suka ngomong 'ya iyalah...'

2. Suka ngomong 'sedep, mantep, maknyuz....' >> pak Bondan mania gitu loch

3. Suka ngomong 'da pa ini...da pa ini...' >> ala Benue Buloe di Trans TV, dan saya selalu tertawa kalau denger Baby ngomong kata2 itu.

4. Ceriwis banget >> beneran deh, diemnya pas bobok aja. Ini nurun sapa yah? karena Papi dan Maminya kan pendiam, hehehe

5. Penakut banget >> duh...Baby terobsesi ama pocong, yang sering salah dia sebut dengan KOCONG...padahal saya dah bilangin ke dia kalau itu hanyalah sebuah GULING, dan sekarang..akibatnya kalau bobo ma dia, saya ndak boleh membelakangi dia.

6. Hobi banget mainan laptop >> sekarang lagi suka prog. Paint dan Winamp *lagi seneng lagunya Tompi-Balonku, You are beautiful-James Blunt, kalau games, dah bosen*

7. Ga pernah mau matiin TV pakai remote, jadi matikan TV nya selalu manual...> saya fikir ini aneh,...hehehe

8. Ceplas Ceplos >> kadang suka buat saya khawatir deh, mana suka keras volumenya kalau dah bicara.

9. Kalau bobok di kasur, ga mau pakai sprei >> jadi kasur saya 1 tapi ada 2 kubu, yg satu pakai sprei, yaitu saya, yang satunya tidak bersprei, buat si Baby, jadinya aneh banget kalau di lihat.

10. Suka banget merintah-merintah >> karena kelewat dimanja sama Eyang Ti nya jadi Baby agak2 kelewatan deh kalau nyuruh...tapi kalau Eyangnya atau saya dah pasang tampang galak, dia mau juga akhirnya bilang,"Yang Ti sayang....Baby bikinin susu..."

11. Makan di atas kasur sambil nonton TV

12. Kalau ingin sesuatu, selalu bilang,"Kayaknya aku nggak pernah ke Mal deh" atau "Kayaknya dah lama aku gak pernah makan bubur deh...." >> pinter basa basi keknya hehehe

13. Suka buat saya bingung dengan kemampuan membacanya, kalau saya ajarin membaca di rumah, padahal dengan kata2 yg sederhana, susah banget masuk di dia, tapi kadang suka ngagetin juga, karena tiba2 Baby bisa tau kata2 yg sulit hanya dengan melihat tulisan...dan tidak pakai dieja.

14. Suka tertawa dengan keras >> anaknya periang banget...setiap mainan di Mal atau sekolah, Ibu2 dan guru sering bilang..anaknya periang banget yah...hehehe

15. Jago utik2 HP >> setiap aplikasi di HP dijelajahi...di cari tau fungsinya untuk apa, dan dia suka ngakak2 kalau lihat hasil rekaman video/suaranya sendiri.

16. Suka main sekolah2an >> di rumah selalu bawa tas punggung yang bisa didorong atau tas kresek yang gede, trus diisi ma buku2, majalah2, kertas2, pokoknya semua harta karun dia masuk ke sana, jadinya tas itu beraaattt banget.

17. Ga bisa lihat kertas nganggur >> pasti akan langsung ditulis2 ma dia, suka nulis namanya sendiri, trus nulis kata2 Mami, Eyang, Papah,...dan saat ini lagi suka nulis surat, dan minta saya yang ngeja hurufnya. Kalau nulis angka udah jago, kertas2 suka dibuat seperti uang2an.

18. Manja banget >> wah tambah besar, manjanya tambah pol...

19. Kalau pup suka heboh sendiri >> dia dah bisa duduk di toilet sendiri, tapi tetep saja heboh banget kalau pas minta cebok...suka ngamuk2 juga...waduhhh, mungkin tetangga bisa budeg kali...:P

20. Kalau naik mobil, harus dipangku ama eyang di bangku depan >> ndak mau duduk sendiri di kursi tengah, alasannya..."Nanti aku mual..."

21. Pintar dan cepat mengerti >> Harus lebih hati2 deh kalau ngobrol di depannya Baby, kadang Mamah (yangtinya) dan saya memakai singkatan2 atau kata2 samaran untuk ngobrol kalau pas ada Baby di dekat kami, palagi sekarang Baby dah ngerti banget dengan bahasa Jawa, kromo dan moko.

22. Bisa ketawa ngakak kalau nonton Avatar >> emang kartun Avatar lucu ya? dia selalu nerangin ama saya dan yangtinya yang tanya Avatar itu tentang apa, kata Baby, "itu lho...api lawan air..."*trus lucunya dimana?*

23. Mulai semalam dah bisa lepas dari botol dot...alhamdulillah.......Baby sendiri yang buang botol dotnya ke kotak sampah...

Lanjutan bisikan si angin...
 
posted by angin-berbisik at 9:45 AM ¤ Permalink ¤ 22 comments