Sore itu aku hanya berdiam diri di meja kantorku, sambil sesekali merapikan letak map file yang agak berantakan. Tidak ada lagi yang harus kukerjakan sore ini, satu jam sebelum jamku pulang kantor.
“Diandra..” Seseorang menepuk bahuku, aku menoleh dan ternyata yang menepukku adalah Windi, sekretaris direksi.
“Lagi nggak ada kerjaan?” Windi menggeser kursi yang berada di meja Anton, teman satu bagian denganku.
Aku menggeleng,”Sudah beres semua Win, atau kamu mau kasih aku kerjaan lagi? Bosen nih...” Aku tersenyum kepadanya
“Kebetulan nih, Mbak Tari tadi ajak aku untuk besuk suaminya Conny di rumah sakit, aku dengan Mbak Tari kan nggak bisa nyetir mobil, so kita mau ajak kamu…”
“Em..kok nggak sama Pak Darus, dia kan sopir kantor?” Aku agak kaget dengan ajakan Windi, karena…
“Pak Darus lagi nemenin Bos ke bandara, jemput koleganya dari Amerika, kita rencana sih mau pakai Innova kantor, kamu yang nyupirin ya Di.” Windi berkata tegas kepadaku.
“Aku…
“Lagipula tinggal kita bertiga lho yang belum besuk suaminya Conny, karena tiga hari ini memang kita sibuk banget.”
( Atau memang aku yang sengaja menyibukkan diri ).
Tiba-tiba Mbak Tari, manajer keuangan perusahaan mendatangi kami sambil membawa sekotak kue.
“Gimana, Diandra mau ikutan juga kan?” Mbak Tari menatapku, kemudian ganti menatap Windi,”Eh Win, kita bawain brownies kukus tiramisu aja yah, ini masih hangat, tadi aku pesan delivery service dari tempat temanku.”
“Sip Mbak, ayo Di..siap-siap, kami tunggu kamu di luar yah.” Windi kemudian menggandeng tangan Mbak Tari dan menuju ke luar.
Aku menarik nafas panjang, dan dengan malas-malasan menarik tas kerja yang berada di bawah meja.
( Padahal aku belum bilang kalau aku mau kan? )
*
Di mobil, aku hanya diam sambil mendengarkan percakapan di antara Mbak Tari yang duduk di sebelahku dan Windi.
“Memang suaminya Conny sakit parah Win?” Mbak Tari menoleh ke belakang, ke arah Windi.
“Iya Mbak, katanya sih kena DB, tapi agak telat dibawa ke rumah sakitnya.”
“Namanya siapa yah? Suaminya Conny.”
“Hm…siapa yah…duh…siapa yaa, aku tuh pernah dikasih tahu, kok lupa.”
Aku melihat lewat kaca spion ke arah Windi yang sedang mengeryitkan kening untuk mengingat-ingat. Lalu aku menoleh ke arah Mbak Tari,”Namanya Rian.”
“Oh iya, namanya Rian, hehehe, dah ingat sekarang.” Windi berkata keras dan senang.
“Kok kamu ingat namanya sih Di?” Mbak Tari menatapku.
“Dari Conny.” Jawabku pendek.
( Tentu saja aku ingat dengan jelas nama suami Conny ).
*
Di rumah sakit, Mbak Tari mengetuk pelan pintu kamar yang berwarna putih dengan papan nama bertuliskan Tn. Rian Alfriadi.
Dadaku berdegup kencang.
( Semoga saja tidak ada yang membuka pintu, Rian sedang tidur dan Conny sedang tidak berada di dalam kamar ).
Tapi harapanku tidak terkabul, karena pintu kamar langsung terbuka setelah diketuk, dan Conni yang berada di baliknya tersenyum, kemudian dia memeluk Mbak Tari, Windi dan aku bergantian.
“Terimakasih sudah datang Diandra.” Conny berkata pelan setelah memelukku.
Aku tersenyum kepadanya,”Maaf Con, aku baru bisa datang sekarang.”
Conny menggeleng,”Tidak pa-pa, sebenarnya besok Rian juga sudah boleh pulang kok.” Conny berkata kepada kami bertiga.
“Oh syukurlah, jadi besok kamu bisa ke kantor lagi dong Con?” Mbak Tari tersenyum kepada Conny.
“Iya Mbak, sudah kelamaan cuti, nggak enak dengan Bos.”
Kemudian aku berjalan menuju ranjang, dan Rian tersenyum kepadaku.
Aku tersenyum kepadanya, senyum yang kaku, lalu aku hanya diam mendengarkan Mbak Tari dan Windi berbasa-basi menanyakan kabar Rian, sambil terkadang aku mencuri pandang ke arah Rian yang saat ini sudah duduk di ranjangnya.
( Syukurlah dia sudah tampak sehat ).
“Mau minum apa yah Di?” Tiba-tiba suara Conny mengagetkanku.
“Ah, nggak usah repot-repot Con, kita kan besuk, bukan bertamu.” Aku tersenyum kepada Conny.
“Ada Mbak Tari, aku nggak enak Di, aku beli minuman dulu yah di cafetaria bawah.”
Windi yang mendengar percakapan antara aku dan Conny segera berujar,” Aku temenin deh Con.”
Aku lihat Mbak Tari sedang asyik mengobrol dengan Rian sampai mereka tidak sadar bahwa sudah tidak ada Conny dan Windi di kamar itu.
“Lho, Conny dan Windi kemana?” Mbak Tari melihat ke arahku yang sedang duduk diam di kursi dekat ranjang.
“Mereka baru saja ke bawah, beli minuman.” Aku berkata sambil menatap Mbak Tari, dari ekor mataku aku tahu Rian juga menatapku, tapi aku tidak berani menatapnya.
“Ah, kenapa harus repot sih….” Mbak Tari berkata kepada Rian.
Dan Rian pun tersenyum,”Nggak pa-pa kan, biar Mbak Tari betah disini, hehehe”
“Ada-ada saja kamu ini.” Tiba-tiba HP Mbak Tari berdering,”Sebentar ya, telepon dari Bos nih, maaf ya Rian, Diandra, aku terimanya di luar kamar saja.” Kemudian Mbak Tari bergegas ke luar kamar.
Dan meninggalkan aku yang jujur sangat tidak siap menghadapi situasi ini, karena berdua saja di kamar dengan Rian.
“Andra…” Rian memanggilku pelan, dengan nama kecilku, kemudian dia berusaha untuk mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepadaku.
“Yan, kamu masih lemah, sudah disitu saja.” Aku dengan gugup berdiri dari kursiku, aku memanggil Rian dengan sebutan Yan, panggilanku dulu untuknya.
“Andra, aku kangen kamu.” Rian menatapku tajam, lalu tangannya bergerak seolah ingin menggapai tanganku.
“Tidak boleh Yan, jangan berfikiran macam-macam, kamu masih sakit.”
“Kamu dengar sendiri kan tadi An, besok aku sudah boleh pulang.”
Aku tersenyum kepadanya,”Selamat yah, beberapa bulan lagi kamu akan jadi Bapak.”
Rian tidak tersenyum,”Aku masih menyayangimu An…”
“Conny wanita yang baik yah, dia dengan setia menungguimu di rumah sakit.” Aku menghindari topik percakapannya.
“Andra, kamu harus tahu, semua itu keputusan orang tuaku, sehingga aku harus meninggalkanmu, dan menikah dengan Conny!” Rian berkata tegas kepadaku, nada suaranya dia jaga supaya pelan.
“Aku nggak pa-pa kok Yan, kamu tahu? aku hanya memerlukan waktu sebulan untuk melupakanmu.” Aku tersenyum kepadanya.
( Bohong banget! sebulan itu hanya waktu untukku mengasingkan diri, dan dari waktu kamu menikah tujuh bulan lalu dengan Conny gadis pilihan orang tuamu yang ternyata juga teman sekantorku, sampai sekarang ini aku masih gila memikirkanmu ).
“Kamu tampak kurusan An.” Mata Rian menelusuri tubuhku.
“Kerjaku beberapa bulan ini berat, lumayan kan aku bisa tampak lebih langsing lima kilo.” Aku memaksakan senyumku kepadanya.
( Padahal beratku turun sepuluh kilo karena secara tiba-tiba di saat sebulan kita akan bertunangan, engkau malah meninggalkanku untuk menikah dengan Conny ).
“Kamu bohong An…” Kemudian Rian berusaha turun dari tempat tidurnya, tapi sekilas dia tampak kesulitan, aku ingin membantunya tapi urung kulakukan, tidak berani kulakukan karena khawatir kalau sewaktu-waktu Mbak Tari atau Conny dengan Windi bisa masuk kapan saja dan melihat aku sedang berdekatan dengan Rian. Jadi aku hanya berdiri, diam mematung di dekat kursi.
“Kamu nggak ingin membantuku Di?” Rian mengangkat tangannya lagi untuk menggapai minta bantuanku.
“Kamu mau apa? Sudahlah di kasur aja, nggak usah kemana-mana.”
“Hanya ingin menyentuhmu An…” Rian menatapku dengan memohon.
Aku menggeleng, tegas,”Aku nggak bisa Yan, sudahlah! Hadapi kenyataan, kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Sekarang sudah ada Conny yang mencintaimu. Lupakan aku Yan! Lupakan kenangan tentang kita. Semua sudah berakhir.”
Rian hanya menatapku dan kemudian dia menundukkan kepalanya, duduk bersila di atas kasurnya,”Conny beda dengan kamu An..dia mencintaiku, tapi aku belum mencintainya, awalnya aku fikir cinta itu akan datang seiring perjalanan kehidupanku yang baru dengan dia, tapi aku masih belum bisa merasakannya, bahkan saat aku tahu dia hamil. Tidak ada yang berubah dengan perasaanku, aku masih saja memikirkanmu.”
“Oleh karena itu, hentikanlah memikirkanku Yan.”
Rian menatapku lagi, matanya memerah.
“Harusnya dulu aku berani tegas dengan orang tuaku,…”
Aku memotong perkataan Rian,”Yang dulu biarlah berlalu, tidak perlu diungkit-ungkit lagi, aku maklum kok mengapa orang tuamu lebih memilih Conny sebagai menantunya, dia lebih cantik dan menarik, anak orang terpandang pula.”
“Tapi aku tidak mencintainya, dan mungkin saat ini kamu berfikir kalau aku adalah seorang lelaki yang pengecut kan An? Lelaki yang tidak bisa mempertahankan wanita yang dicintainya di hadapan orang tua.” Suara Rian terdengar serak.
“Yah, dulu aku sempat berfikir kamu seperti itu Yan, tapi semua tidak ada gunanya…” Aku menatap Rian,”Aku sudah memaafkanmu Yan.”
“Aku masih merasa sangat bersalah kepadamu An, dan keluargamu.” Suara Rian bertambah serak.
Kemudian kudengar suara ramai di belakang pintu, aku memberikan isyarat kepada Rian untuk diam, lalu aku bergegas duduk di kursi kembali.
Pintu kamar terbuka, kemudian Conny, Windi dan Mbak Tari masuk ke dalam kamar.
“Hai, maaf yah lama, tadi cafetaria bawah sudah tutup, jadi aku dan Windi ke supermarket di seberang rumah sakit.” Conny tersenyum ke arahku sambil memberikan kaleng minuman kepadaku.
“Wah, kita nggak bisa lama nih Con, Bos tadi suruh kita cepat balik ke kantor, ada rapat mendadak bersama koleganya dia, yah…” Mbak Tari berkata sambil membuka kaleng minuman yang diberikan Conny.
Sesekali aku menatap Rian dan dia juga menatapku. Dia tersenyum kepadaku, senyum yang sumpah mati aku rindukan juga. Tapi setelah aku melihat Conny dan perutnya yang sudah mulai membuncit, aku segera melupakan kerinduanku.
“Oke, yuk kita balik.” Mbak Tari mengajakku dan Windi.
Aku mengangguk dan berdiri, menunggu Mbak Tari dan Windi menyalami Rian.
Sampai giliranku, Rian mengenggam tanganku lama, sampai aku yang terpaksa menarik lepas tanganku dari genggamannya.
*
Conny mengantarkan kami sampai di depan lift, kemudian sebelum aku masuk ke ruang lift, Conny menarik dan memelukku, dia berkata kepadaku singkat,”Maafkan aku Di, aku telah merebutnya darimu…”
Aku bergetar dan dadaku berdegup kencang.
( Bagaimana dia tahu…bagaimana dia tahu…)
Conny menatap Mbak Tari dan Windi yang sudah masuk di dalam lift, “Aku boleh bicara dulu dengan Diandra?”
Aku menatap Conny, panik,”Tidak ada yang perlu dibicarakan Con, tidak ada…”
“Okay, kami tunggu di bawah ya Di.” Mbak Tari berkata kepada aku dan Conny, kemudian dia menutup pintu lift.
Conny menatapku,”Aku sudah tahu, ternyata kamulah An yang sering dia sebut-sebut itu.”
Aku menggelengkan kepalaku,”Semua sudah berlalu Con, tidak ada hubungan lagi di antara aku dengan suamimu, aku berani bersumpah.”
“Dia belum mencintaiku Di…dan kamu pasti juga tahu hal itu kan?” Ada nada kegetiran dalam suara Conny. “Kenapa dulu kamu tidak bilang, kalau orang yang telah meninggalkanmu itu Rian?” lanjut Conny.
Aku hanya menatap Conny, tak tahu harus berkata apa.
“Di, kita sudah bersahabat sejak awal kita bekerja di kantor.”
“Karena kamu sahabatku itu! Aku bisa menyerahkan dia kepadamu dengan hati tenang dan ikhlas.” Aku berkata mantap kepada Conny.
“Tapi kamu sempat membenciku kan?”
“Aku tidak pernah membencimu Con, aku hanya sempat membenci ketidak adilan yang menimpaku.”
“Kamu pasti akan menemukan pengganti yang lebih baik Di.”
“Yah, pasti Con…semoga.”
“Apakah kamu masih mencintainya Di? Maaf, aku harus tahu…”
“Conny, perasaanku bukanlah hal penting lagi untuk kalian…Sekarang yang penting adalah bagaimana menjalani masa depan kalian bersama.”
Kemudian aku membalikkan tubuhku dan cepat menyentuh tombol lift untuk turun.
“Aku mencintai dia sekarang Di.”
“Iya, aku tahu…” Aku berkata tanpa membalikkan tubuhku.
“Aku mengandung anaknya.”
“Iya, aku tahu Conny.”
“Maafkan aku Di, tapi jahatkah aku kalau memintamu agar tidak mendekati Rian lagi?”
Aku menggeleng,”Tanpa kau minta pun, aku sudah melakukannya, semenjak kalian akan menikah.”
Aku membalikkan tubuhku, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, sambil berjalan mundur aku berkata kepada Conny,”Tetapi aku tidak bisa berjanji dapat membuat Rian akan melupakanku, itu semua tergantung kepadamu juga Conny, kamu yang bisa buat dia melupakanku.”
Aku masih menahan tombol untuk menutup pintu lift.
Conny menatapku,”Maafkan aku Di, dan maafkan Rian.”
Aku melepaskan tombol, “Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah ikhlas… sampai ketemu besok di kantor.” Aku tersenyum kepada Conny, dan perlahan pintu lift menutup.
Di dalam lift, aku hanya menyenderkan badanku ke dinding dan memejamkan mataku.
( Semuanya sudah berakhir…)
Bahkan Rian sendiri tidak tahu kalau dulu aku telah mengandung benihnya juga dan kemudian bayiku keguguran pada saat dia meninggalkanku, aku sudah kehilangan buah cinta ku dengan Rian. Bukti cinta kami…yang masih berumur dua minggu.
( Semua benar-benar sudah berakhir…)
Puri Anjasmoro, 17 Januari 2007
Background Song : Ada Band - Nyawa Hidup
Lanjutan bisikan si angin...