*Image from here*
@ Lift, masih di hari Rabu
Rumi : ( gelisah ) Sialan…kenapa gak naik-naik sih!
Wanita : ( mendahului badan Rumi dan memencet tombol lift ) Lantai berapa?
Rumi : ( pipinya merona merah ) Eh, iya…saya lupa mencet tombolnya.
Wanita : ( tersenyum ramah ) Jadi…?
Rumi : Jadi apa ya? ( masih salah tingkah ) Rumi…nama saya Rumi.
Wanita : ( berusaha keras menahan senyum geli ) Oke…Rumi, mau ke lantai berapa?
Rumi : ( bertambah malu sehingga memalingkan muka dan berbisik) bodohnya gue…( menatap si Wanita ) kantor saya di lantai 10.
Wanita : Oke, ( memencet angka 10 kemudian menoleh kepada Rumi dan mengulurkan tangannya ) Saya Jasmine.
Rumi : Hmm, saya…( menjabat tangan Jasmine )
Jasmine : Rumi…nama yang unik ya.
Rumi : Anda pasti mengira inspirasi tentang nama saya berasal dari Jallaludin Rumi, penyair terkenal?
Jasmine : Benarkah begitu?
Rumi : Hehehe bukan, dulu saya lahir di Rumania. Rumi…Rumania…yahh agak-agak nyambung dikit sih.
Jasmine : Hehehe…Beruntung sekali bisa lahir di luar negeri.
Rumi : Orangtua saya yang beruntung, karena mereka berdua yang sempat tinggal lama di Rumania, tapi saya sendiri…hanya numpang brojol di sana, karena umur 5 hari, saya juga udah dibawa ke Indonesia.
Jasmine : ( menatap mata Rumi dan tersenyum penuh arti ) Warna hazel yang cantik.
Rumi : Warisan dari Mami saya…
Jasmine : Rumaniakah?
Rumi : Jawa asli…tapi memang warna matanya coklat. Rumanian kebanyakan malah biru.
Jasmine : Cantik…hmm, wanita-wanita yang beruntung.
Rumi : ( mukanya memerah )
Ting…dan pintu lift terbuka.
Jasmine : Lantaimu…Cantik.
Rumi : ( menoleh ke arah Jasmine ) Thanks Jasmine. Kapan-kapan kita ngobrol lagi yah.
Jasmine : ( tersenyum )
Pintu lift pun tertutup kembali.
Rumi : ( berjalan menuju kantornya dan berkata dalam hati ) Ah…napa juga nggak berusaha buat janji untuk kembali ngobrol ama dia.
@ Cubic
Rumi : Waaaa ( menepuk punggung Anton keras )
Anton : Aku sudah bilang kan…kalau ada trio bawel di bawah, kamunya aja yang nggak mau ndengerin.
Rumi : Ih, aku malah lupa kalau tadi ketemu ama mereka, hmm…( meletakkan kepalanya di tangannya yang tersangga sambil menatap layar monitor )
Anton : Hmm? Ada apa? Kayak orang kesambet deh…matanya menerawang gitu…
Rumi : Dia manggil aku cantik…
Anton : Siapa?
Rumi : Menurutmu siapa?
Anton : Hmm…He or she?
Rumi : ( tergelak ) She lah say…
Anton : ( menghela nafas, kecewa ) Oh…
Rumi : Aku tadi ketemu dia di lift, dia mau ke lantai 15,…ah bego! Napa ga tanya dia kerja di perusahaan apa gitu…
Anton : Pernah melihat dia sebelumnya? Mungkin waktu kita lunch.
Rumi : ( berfikir sebentar ) Belum…kalaupun aku pernah lihat, mungkin aku dah jatuh cinta dari dulu, hehehe.
Anton : ( mengeryit ) Buaya juga kamu.
Rumi : Sebelum aku kenal ama Lily lah! Sekarang kan aku dah ada pasangan, Hmm, Jasmine…dia wanita yang lembut sekali, ber karisma, anggun…dan aroma parfumnya…hmm…manis dan seksi.
Anton : Karena aku yang paling tahu kalau yang kau puji itu juga wanita…ah…aku risih juga tauk!
Rumi : ( tergelak ) Jangan cemburu, masih sore…
Anton : ( tersenyum ) Entahlah, kerisihanku ama kamu bisa dikategorikan sebagai cemburu atau nggak, tapi memang seharusnya aku sudah kebal buat merasa risih, karena selama ini kamu juga selalu curhat tentang wanita-wanita yang menarik perhatianmu.
Rumi : ( melirik Anton ) Untuk sesaat tadi, aku membayangkan kalau Lily adalah wanita semanis Jasmine.
Anton : Hmm, cukup masuk akal juga sih, karena toh kamu tidak tau siapa sosok Lily sebenarnya, ya kan?
Rumi : Yang kutahu, dia adalah seorang sekretaris, berusia 36 tahun, mapan karena sudah punya rumah sendiri…
Anton : Tapi misterius…Bayangin aja deh, kalau berdasarkan ceritamu itu, dimana Hpnya selalu off kalau malam.
Rumi : Karena dia nggak mau di ganggu kalau udah pulang kantor, waktu istirahat ya buat tidur.
Anton : Tidak mau diganggu…bahkan dengan pasangannya sendiri?
Rumi : Hasshh, sudah ah…males dengar kamu kalau udah main logika, yang penting kan aku percaya ama dia. Dah, Kerja…kerja…. !!
Anton : Eh Rum…( menoleh ke Rumi )
Rumi : ( tetap melihat ke monitor ) Hm..Mm?
Anton : Kalau misalnya Jasmine adalah Lily…yahh, walau aku juga nggak yakin sih, hehehe, apa yang akan kamu lakukan?
Rumi : Langsung ajak nikah di Belanda.
Anton : ( bersungut ) Beneran nih kamu nggak tertarik sama sekali ama aku?
Rumi : Eh aku lupa ( menepuk jidat ) dapat salam dari Lola trio bawel, naksir kamu tuh.
Anton : ( tetap bersungut )
Rumi : ( mengambil Hpnya ) Penasaran juga…
Anton : Apanya?
Rumi : Coba aku sms lily, dia lagi ngapain sekarang,…
Sms dari Rumi : Say, lagi apa?
Tak lama…
Sms dari Lily : Lagi di Bank…
Sms dari Rumi : Dari tadi di luar kantor? Dah makan lum Say?
Sms dari Lily : Iya, 30 menit setelah sign out YM an td…dah mkn kok..thx Say
Rumi : Kayaknya dia bukan Jasmine…
Anton : Kok nadamu seperti kecewa gitu sih?
Rumi : Yee…dah ah…
@ Kamar Anton, Sabtu. Terjadi pembicaraan antara Anton dengan Tonny, saudara kembarnya.
Tonny : ( memetik gitarnya dan memainkan intro Semusim dari album Chrisye – Erwin Gutawa, Badai Pasti Berlalu )
Anton : ( berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit ) Itu lagu kesukaan Rumi, di putar aja berulang-ulang di komputernya,…tapi anehnya aku nggak pernah bosan ndengerinnya tuh, aku menjadi suka apa yang dia suka, dan aku menjadi benci apa yang dia benci.
Tonny : Lupakan dia deh Mas ( segera menghentikan permainan gitarnya )
Anton : Mainkan lagi Dik,...Ayo ah, enak banget dengerin sambil ngelamunin Rumi.
Tonny : Mama bisa jantungan kalau dengar anak sulungnya naksir berat ama lesbian.
Anton : Cuma kamu yang tau kan? Lagipula aku yakin, kamu takkan membocorkan rahasia ini ke Mama.
Tonny : Kalau kamu nekat melamarnya, nggak ada cara lain selain Mama harus tahu.
Anton : Rumi tidak tertarik denganku Dik. Katanya, bahkan kalau aku seganteng Nicholas Saputra.
Tonny : Ya iyalah, dia mungkin lebih tertarik sama Bik Leha pembantu kita yang berbuah dada daripada kaum kita!
Anton : Sialan…( melempar bantalnya ke muka Tonny )
Tonny : Rumi termasuk lesbian tipe apa sih Mas? Cowok? Cewek?
Anton : Androginy…perpaduan cowok cewek. Soal berpakaian sih masih normal kayak cewek, jadi nggak maskulin gitu…tapi perilaku dia ama aku nggak ada lembut-lembutnya. Salah tingkah juga hanya kalau di depan cewek yang cantik.
Tonny : Nggak ada masalah di kantormu? Bos dan rekan kerja?
Anton : Bos sudah tahu dari awal kalau Rumi lesbian…so what gitu loh...Bos berfikiran terbuka kok, siapa aja boleh kerja di kantor, asal dia cerdas dan ber prestasi. Mau dia banci kek…eh kalau pun ada banci yang diterima di kantor, mungkin aku sendiri yang ketakutan kali ya…
Tonny : Yah, secara tampang seperti kita kan emang target utama banci, hehehe.
Anton : Yang jelas Bos sendiri nggak ada masalah, kalau rekan kantor sih, awal-awalnya menjauh, terutama yang cewek, dulu mereka takut banget kalau di dekatin ama Rumi, sempat ada phobia Rumi deh di kantor, ya ampun…geer banget tuh cewek-cewek, walau Rumi lesbi, aku juga tahu selera dia tuh kayak apa, dan dia nggak mau juga pacaran ama cewek yang sekantor. Dia kan pengen kerja se profesional mungkin.
Tonny : Yah, kamu udah pernah cerita Mas.
Anton : Tapi setelah Rumi berhasil mendapatkan tender besar dari perusahaan di US, baru deh mereka yang tadinya sempat memandang sebelah mata, melakukan diskriminasi dan bahkan melecehkan, berbalik 180 derajat jadi mengagumi sosok Rumi, karena di balik penyimpangan orientasi seksualnya, dia adalah manusia yang sangat berharga, aset untuk perusahaan. Bos aja sekarang sayang banget ama dia.
Tonny : Iya…iya…apalagi buat Mas…segala-galanya kale,…
Anton : ( menoleh ke Tonny dan tersenyum ) Dik…jika kau jatuh cinta kepada seseorang, apa yang akan kau lakukan?
Tonny : He…( terpana ) Hmm…
Anton : Pasti kamu akan mencintainya sepenuh hatimu kan? Dan kau akan mencintai kekurangannya…yaah, walau aku tahu saat ini dia tidak tertarik kepadaku, tapi harapan dia akan berubah masih besar di hatiku…Bahwa Rumi akan menolehku dan mencintaiku…
Tonny : Tapi kata Mas, sekarang dia dah punya…hmm, pasangan?
Anton : Lily…tapi bagiku, dia adalah sosok misterius, terus terang aku curiga dengan dia Dik.
Tonny : Sepertinya dia takut kalau identitasnya sebagai seorang lesbian akan terkuak. Makanya dia selalu menjaga rahasia jati dirinya rapat-rapat. Mungkin Lily belum percaya diri seperti Rumi.
Anton : Apa yang bisa buat Rumi jatuh cinta dengan dia, Apa?! ( geram )
Tonny : Yang jelas karena dia wanita ( setengah bercanda dan nyengir ).
Anton : Aku nggak yakin dia benar-benar serius dengan Rumi, bahkan pernah terbersit di fikiranku, kalau dia adalah seorang mahasiswi normal yang sedang melakukan penelitian mengenai kehidupan lesbian, sehingga harus menyamar menjadi seorang lesbian, ah sialan!
Tonny : Hei…hei…itu kan baru di fikiranmu Mas, sudahlah nggak usah terlalu difikirkan, dah malam, bobok gih…
Anton : Oke, tutup pintu dan matikan lampunya ya Dik kalau kamu keluar.
Tonny : Mas, satu pertanyaan lagi yang sering buat aku penasaran…
Anton : Hmm…
Tonny : Apa yang membuat Rumi menjadi seorang lesbian?
Anton : Kenapa? Kamu masih berfikiran sempit ya Dik? Apakah salah menjadi seorang Lesbian? Selama dia tidak merugikan lingkungan di sekitarnya,… lebih baik hidup dengan sepuluh orang lesbian daripada dengan seorang koruptor atau maling.
Tonny : Bukan gitu Mas…aku hanya ingin tahu, Mas kan belum pernah cerita.
Anton : Banyak faktor Dik, tapi yang paling berpengaruh adalah waktu masih remaja, Rumi sering melihat Papanya menyiksa fisik dan psikis Maminya sebelum akhirnya mereka bercerai.
Tonny : Dia…dia cerita itu ke Mas?!
Anton : Iya, karena aku dianggap sahabatnya yang paling deket dan ngerti dia…mengecewakan memang ya Dik. Tapi nggak pa-pa, selama Rumi merasa nyaman bercerita denganku, itu juga sudah cukup, walau aku hanya dianggapnya sebagai seorang sahabat.
Tonny : ( menarik nafas panjang ) Ya sudahlah Mas…( mematikan lampu dan menutup pintu kamar Anton ).
Bersambung -->