Google
 
Sunday, September 07, 2008
Man and The Beauty Chapter II (sebuah cerbung kolaborasi dengan penulis cerpenista)


Satu hal yang aku takutkan dari seorang wanita, adalah tajamnya intuisi mereka. Kuyakin, saat ini gerak-gerik ku yang lahir dari sikap tak mampu beradaptasi dengan wanita ini sudah memancing intuisi tersebut. Mungkin, saat ini Paula tengah berusaha menyelidik balik diriku, mencoba mengkonfirmasi kebenaran intuisinya. Dan mungkin, berusaha menangkap basah kelakuan burukku.

Skenario terburuk, dia akan memanggil security cafe, bahwa ada imposter diruangan ini yang membuatnya tak nyaman.

Ouh..man, no way, batinku berkata. Imajinasiku telah terlalu liar berkelana.

Tentunya, aku tak ingin gerak-gerikku ini tertangkap basah. Walau terus terang, sebelumnya, aku ingin dia menangkap sinyal-sinyalku.

Namun kali ini berbeda. Kehadiran seorang 'rival baru', malah memancing rasa ingin tahu yang berbeda dalam diriku. Kuingin tahu apa yang mereka bicarakan. Siapa pria itu, apa yang mereka lakukan, dan bahkan informasi lain yang kuperlukan untuk bisa berbicara dengan Paula.

Jelas, untuk itu aku butuh taktik, bagaimana bisa eavesdropping tanpa kentara. Strategi yang memungkinkanku mengevaluasi jalannya pembicaraan dengan leluasa.
Aku butuh itu.

Kujentikkan jariku keatas, memanggil waitress cafe. Dalam hati, kuingin waitress yang tadi sempat kugoda bersedia hadir untukku. Ada hal yang kuperlukan darinya.

"Hai," sapaku sambil tersenyum ramah padanya, ketika dia datang. Kulihat wajahnya kembali memerah.

"Bisa tolong berikan saya jasmine tea... dan.. booklet menunya ? Kemungkinan saya akan pesan yang lain" pintaku sopan.

Dia mengangguk, dan siap beranjak.

Sesaat, kutatap mata waitress itu. Dan kugoyangkan kepalaku kearah Paula, seolah bertanya tentang Paula kepadanya.

Sambil mengerling manja, waitress tadi mengangguk.

"Langganan", katanya sambil perlahan berlalu.

Aku tersenyum berterimakasih.

Hehe.. aku dapat informasi pembuka. Tentunya akan mudah men-track keberadaan Paula dilain waktu.

Sejenak kemudian aku beralih. Dudukku kuubah, kini membelakangi Paula dan menghadap kaca. Aku bisa melihat mereka melalui pantulan kaca cafe yang bening. Seluruhnya. Dalam hati, aku memuji kecekatan para karyawan cafe ini dalam mengurus kebersihan. Terutama, kaca ini. Kaca yang menjadi tumpuan utama aktifitas ilegalku, menguping percakapan orang lain.

Dari bayangan di kaca ini, aku bisa leluasa mendengar pembicaraan mereka, mengevaluasi sikap tubuh, wajah dan bahkan, aku bisa melihat posisi kaki mereka.

Dilain pihak, aku yakin, mereka hanya bisa melihat punggungku, sementara sebagian gesture tubuhku yang lain tertutup oleh booklet menu tadi.

Yeah, sempurna. Aku tak ingin terbaca terlebih dahulu, batinku berkata.

Kini, segenap inderaku kukerahkan untuk menangkap pembicaraan mereka.

Sang Paula duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Sebuah cara duduk yang elegan dan terkesan aristokrat. Tangannya disilangkan didepan dada. Wajah cantiknya terlihat begitu serius. Sepertinya dia memang sedang mendominasi jalannya percakapan. Atau mungkin, memang wataknya adalah watak seorang yang selalu dominan disetiap kesempatan.

"..jadi begitu, Tuan Agustinus, Anda ingin dibantu dalam kasus ini ?"

Hmm ? Kasus ? Apakah Paula ini seorang reserse ? intel ? wartawan kriminal ? atau mungkin seorang pengacara ? Batinku berusaha menebak-nebak enigmatis.

Ya, aku jadi kian penasaran. Walaupun baru memperoleh secuil informasi belaka.

Kuingin melihat dengan jelas orang yang barusan di panggil sebagai Tuan Agustinus tersebut. Fokus perhatianku kini beralih padanya, Tuan Agustinus.

Dari pantulan kaca, dapat kulihat wajah kuyu dan memohon milik Tuan Agustinus. Wajah seorang yang tengah dilanda persoalan berat.

"Tolonglah, Bu Meutia. Bantu saya..." mohon Tuan Agustinus memelas.

"Saya tahu prestasi sebuah Nama Mutiara Meutia Nefertiti begitu terkenal. Tak ada satu kasuspun yang tak pernah dimenangkannya di pengadilan.", Tuan Agustinus berhenti sejenak. "Sudilah kiranya Ibu menolong saya..", wajah Tuan Agustinus nampak kian sedih.

OOh... jadi sang Paula itu bernama Mutiara Meutia Nefertiti ? Nama yang bagus dan indah. Cocok dengan paras manisnya, batinku berkata. Nama Nefertiti, adalah pilihan yang anggun. Mungkin ditujukan untuk seorang wanita yang kuat dan berkuasa. Pekerjaan sebagai seorang lawyer, sangat tepat bagi pemilik nama tersebut, pujiku dalam hati.

"Ibu Meutia, saya hanya ingin keadilan.... atas malapraktek yang telah menimpa istri saya." kali ini Tuan Agustinus berkata dengan tegas. Wajahnya yang tadi menunduk melas kini diangkat dengan tegar. Seperti seorang yang baru menemukan tekat baru.

Hmm.. Malapraktek ? Aku berguman dalam hati.

"Panggil saya Tiara saja, Tuan Agustinus.", pinta sang Paula dengan lembut tapi tegas. "Siapa yang ingin kau tuntut demi keadilan ?"

Wah menarik nih, pikirku dalam hati. Jangan-jangan ada kolega dokterku yang kena, batinku tersenyum dalam hati.

"Saya ingin menuntut dokter yang bertanggung jawab selama almarhum istri saya dirawat di rumah sakit Husada Palace.", tukas Tuan Agustinus tegas.

"Dan siapa nama dokter itu ?" tanya sang Paula kembali.

Kupasang telingaku untuk mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Tuan Agustinus. Rasa penasaranku menggelegak tak terhingga. Adrenalinku, mungkin sudah meroket saat ini.

Dari bayangan kaca, kulihat Tuan Agustinus beringsut maju. Sepertinya dia ingin memastikan bahwa Tiara, sang Paula itu, takkan salah mendengar.

"Kuingin menuntut,... Dokter Heinrich Tanuwijaya..."

Dar !!!!

Seperti disambar petir disiang bolong.

Seolah sekujur tubuhku disiram air dingin. Seolah jiwaku dicabut paksa keluar. Seolah jantungku direnggut dari rongga tubuhku.

Aku... dituntut oleh orang ?

Bagimana mungkin ?

Kapan ada pasien mati ditanganku ?

Dunia serasa berputar. Kepalaku berat. Tengkuk dan bahuku seolah bukan milikku lagi.

Apakah kasus yang dulu itu ?

Tapi..

Kasus itu sudah lama berlalu..

Setahun berlalu..

Dan lagi, saat itu yang bertanggung jawab adalah dokter lain.

Bukan aku.

Seniorku, Dokter Abel Stevenson.

Kenapa harus aku ?

Kenapa ?

Aku pucat. Badanku lemas.

Cafe yang indah ini bagaikan neraka kecil.

Aku...


by : Lelouch

To Be Continued


 
posted by angin-berbisik at 10:42 PM ¤ Permalink ¤


13 Comments:


  • At September 08, 2008 2:11 AM, Anonymous bune

    2 chapter udah aku copy dan tersimpan dipc.. Bharap bisa kubaca besok. Tp ntah knapa rasa pnasaran bgt bergejolak dan kubuka jg blog ini lwt opera dihp.. sambil rebahan n menunggu waktu sahur *info ga penting*
    Font yg lembut tak menjadikan halangan karna ternyata cerita ini bner2 menarik!.
    Dan yg menarik lg karna kolaborasi yg sangat bagus.. Bagaikan piano & biola. Senada tp beda.., terasa sekali mana suara piano dan mana yg biola. Sungguh harmonis.
    1 pertanyaan aku.. Kenapa pengacara itu harus bernama MM+N? (sungguh bikin aku surprise, karna nama MM lbh cocok jd accounting)
    Ah sudahlah, tak perlu dijawab.. Ditunggu sambungane.. *sambil menebak2 apa yg terjadi*.

     
  • At September 08, 2008 11:06 PM, Anonymous SatoNa

    waa.. yang chapter pertama, jujur aja aku agak males baca. huhu.. soalnya kalo menurutku penjelasannya terlalu panjang n' banyak ga pentingnya.. *tapi itu hanya pendapatku lho mbaak..*

    tapi yang ke dua ini aku suka banget. dah mayan masuk yaa.. jadi seru. hehe.. ga sabar nunggu kelanjutannya.. ^o^

     
  • At September 09, 2008 9:32 AM, Blogger indri

    keren.....
    ayooo mbak....sekarang giliranmu :D
    jgn lama2 loh...

     
  • At September 09, 2008 2:15 PM, Anonymous www.freewebstemplate.co.nr

    beautiful story...
    salute!

     
  • At September 10, 2008 6:02 AM, Anonymous rausyan

    alur ceritanya kaya gossip girl di trans7 aja nih.. imposter tu apaan ya?

     
  • At September 10, 2008 9:03 AM, Blogger lelouch

    gossip girl di trans7?
    ndak pernah nonton TV hehehe...
    malah baru denger nih

    imposter, coba disini http://en.wikipedia.org/wiki/Impostor

     
  • At September 11, 2008 1:34 PM, Blogger afin yuliani

    dari awal cerita kalimatnya sudah menarik untuk dibaca
    mbak ayo teruskan nih cerita
    naga-naganya bakal seru nih

     
  • At September 11, 2008 7:34 PM, Blogger ichal

    udah lama juga gak baca cerpen yg menggigit disini!!

     
  • At September 14, 2008 12:00 PM, Anonymous Sukabumi

    Menyentuh banget cerpennya!

     
  • At September 16, 2008 11:09 AM, Anonymous laila

    kayaknya bakalan seru nih... *jadi teringat cerita-cerita harlequin*

     
  • At September 20, 2008 9:12 AM, Blogger Vina Revi

    hi, Jeng!
    apa kabar?
    how is ur new marriage life?
    keren? keren?

    lah, kok malah OOT.

     
  • At September 23, 2008 1:40 PM, Blogger Kristina Dian Safitry

    huhuyy..mau ikutan baca ah...btw,pa khabar nih mba tia...

     
  • At September 24, 2008 1:40 AM, Blogger geka

    Tiada kata se-indah Zikir.
    Tiada bulan se-indah Ramadhan yang telah lewat
    Mohon maaf untuk lisan yang tak terjaga,
    janji yang terabaikan
    hati yang berprasangka dan
    semua sikap yang pernah menyakitkan

    Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429 H
    Maaf lahir dan batin
    Minal aidin wal faizin.