Perempuan itu duduk termangu di sebuah sudut café yang sepi. Sudah 15 menit dia menunggu sendiri, terpancar dari raut mukanya yang dingin tanpa segaris senyuman…kalau dia sesungguhnya sedang menyimpan beban yang sungguh berat.
Perempuan itu menggeser posisi duduknya sedikit, hampir tak kentara kalau aku yang duduk di meja persis di depannya tak serius mencuri pandang memperhatikannya…agak sedikit dia meregangkan badan semampainya untuk melemaskan otot-ototnya. Dia manis, perempuan itu sebenarnya sangat enak untuk dipandang, walaupun kulitnya tidak seputih wanita-wanita yang sering berlalu lalang di iklan TV,…kulitnya berwarna coklat, seperti tipikal wanita Indonesia sejatinya, namun aku sangat yakin kalau kulit eksotisnya pasti sangat lembut, dan juga wangi, bahkan bisa terlihat dari tempatku duduk kalau kulitnya ternyata mengkilap seperti warna tembaga …ah tanpa kusadari aku tersenyum tipis ketika lamunanku tentang kulit si perempuan menghampiri otakku, dan sebelum aku mulai berfikir jauh (ke arah negatif seperti fikiran pria normal lainnya yang melihat perempuan yang manis nan eksotis berada dalam jangkauan pandangan mata mereka) aku segera mencuri menatapnya lagi.
Saat ini perempuan itu sedang membuka tas selempang yang sedari tadi masih melingkar di badannya, dan kemudian dia mengeluarkan sebuah buku …hmm…ternyata dia suka buku Paulo Coelho juga, sama sepertiku…maksud lebih jelasnya, dia sama sepertiku yang sebenarnya suka membeli karya Paulo Coelho --- namun tentu saja setelah aku membaca resensinya di Kompas --- sayangnya aku tak pernah sempat membaca buku Paulo yang sudah kubeli. (tahu kan? susah juga loh mengatur pembagian jam kerja dan jam istirahat bagi seorang dokter residence seperti aku ini, malah aku selalu berfikir kalau bisa aku ingin meminta kepada Tuhan bonus tambahan 5 jam saja lagi dari 24 jam yang tersedia dalam sehari agar bisa membaca sebuah novel sastra tanpa adanya gangguan sms untuk sebuah operasi besar yang mendadak!).
Tak lama perempuan itu ‘tenggelam’, larut menikmati imajinasi bersama Paulo, kepalanya terus menunduk seakan dia sedang berada di alamnya sendiri yang sepi, namun itu tak menjadi masalah bagiku, malah menjadi berkah! karena aku dapat semakin leluasa untuk menjelajahi inci demi seinci fisiknya tanpa membuat perempuan itu merasa dilecehkan. Seperti dahaga aku jelajahi paras manis itu, tak akan kulewatkan sedikit pun, sedetik pun, hahaha… sebetulnya belum pernah aku menjadi sedemikian agresif dengan mahluk Tuhan yang berjenis perempuan, BARU dengan sosok di depanku ini, aku bisa menjadi begitu haus akan sebuah rasa terpesona.
Alisnya bagus, sangat alami dan tersikat sempurna, bingkai alis itu semakin menyempurnakan hadirnya kedua bola mata yang bulat. Hidungnya pun juga unik, hidung “mbangir” kata orang Jawa. Namun yang sangat menarik dari semua yang menarik adalah belahan tegas di atas bibirnya plus sepaket dengan bibir ranumnya yang basah oleh lip gloss.
Jadi ingat omongan Vika tempo hari, adikku yang centil itu selalu memakai lip gloss kalau hendak bepergian,”Lip gloss itu bisa untuk menjerat cowok lho Kak…”. Kedip Vika tatkala aku menggoda tentang benda kecil yang membuat bibirnya bisa menjadi sangat basah, licin, dan mengkilap. Hah, ternyata benar juga! Buktinya sekarang aku sudah terjerat, terperangkap oleh pesona bibir basah perempuan itu. Tapi, tanpa bisa ditentang, memang itulah sepaket bibir paling sempurna yang pernah kulihat, Tuhan pasti sedang tersenyum dikala menciptakan perempuan itu. Karena memang sempurna…
Hmm…kalau saja saat ini aku punya cukup keberanian untuk mengajaknya berkenalan atau … kalau saja perempuan itu yang dapat sedikit saja memancing keberanianku untuk mengajaknya berkenalan.
Detik itu juga aku mencoba memusatkan fikiranku, mencoba mengadakan telepati dengan perempuan itu, “ajaklah aku sharing tempat duduk denganmu atau ajaklah aku kencan malam ini...atau…argh, susahnya memusatkan fikiranku!” Hal yang paling mustahil yang bisa aku lakukan saat ini, dimana hatiku sedang bergejolak hebat selayaknya cowok SMP yang baru mengalami puber pertama dengan guru olahraganya yang seksi.
Ayo Sayang,… bangkitkan dong kuda jantan keberanianku ini untuk menghampirimu, jangan biarkan dia malah mengembek seperti seekor ‘wedhus’! dan kudapati jidatku sekarang mulai berpeluh, wih! segitunya…
Lima menit sudah berlalu dan rasanya aku semakin dongkol saja dengan perempuan itu, dia seakan enggan mengkhianati kebersamaannya dengan Paulo Coelho untuk sedikit saja menatapku, memberikan senyum manisnya kepadaku yang sedari tadi….diam-diam sangat mengemis untuk mendapatkan senyuman bibir merekahnya, dan sangat kuharap dia yang mencoba menggodaku, dengan membasahi bibirnya (walau memang sudah terlihat basah) dengan lidahnya yang merah, lalu dia akan menyibakkan rambut legamnya yang bergelombang dengan gaya sensual mengundang…seperti yang biasa dilakukan suster Arini kalau sedang menemaniku shift jaga malam di UGD (Suster Arini memang terkenal dengan sikap agresifnya yang menurutku sangat berani mati --- hahaha---, kuakui dia memang cantik, berkulit putih, dan “hot semlohai” >> kata terakhir ini ku’rampok’ dari seorang dokter bedah senior yang sepertinya pura-pura lupa akan umurnya yang sebenarnya sudah hampir mendekati angka yang memprihatinkan, karena tetap saja ketika suster Arini sedang berjalan di depannya, mata sipit si dokter senior sekaligus kaca matanya yang plus plus, pluss banget!---saking tebalnya--- si dokter sepuh itu nggak akan mau melewatkan sedetik pun untuk berkedip dan beliau hanya bisa melongo shock menatap cetakan celana dalam ketat pada bokong Suster Arini yang terlihat jelas ---wajar kali ya, karena kaca mata plus memang dapat memperbesar efek image yang dilihat, hahaha---, dan nggak cuma si dokter senior itu (yang tangannya pernah kudapati sudah gemetaran sewaktu memegang pisau bedah) yang bisa bereaksi seperti itu, tapi juga barisan dokter-dokter lain di rumah sakit ini, tua muda “sami mawon” ada barang bagus, dinikmati secara berjama’ah.
Namun entahlah! mengapa kuda jantan hatiku tak henti-hentinya mengembik kalau berada dekat si suster “hot semlohai” itu, bahkan simbol kejantananku si “lingga yang super gagah” pun akan langsung menciut susut kalau sudah didekati suster Arini yang pastinya punya maksud lain denganku di luar profesional kerja --- sampai pernah aku merasa frustasi karena mengira aku telah mengidap impotensi di usia muda, namun untunglah tak terbukti, ternyata hanyalah merupakan ketakutanku semata, sebab besok paginya aku kembali bernafas lega setelah menemukan fakta bahwa masih ada pemandangan normal di ‘linggaku’ setelah bangun pagi---- dan entahlah … apakah ini bisa kuanggap sebagai kategori sebuah kesialan atau sebaliknya, sebuah anugrah ---karena kalau aku mengatakan ini di rumah sakit, pasti akan ada sejuta ( aku melebihkan…jangan percaya! ) tatapan iri teman-teman sejawatku---, karena sudah menjadi rahasia umum di rumah sakit, kalau Suster Arini sangat terobsesi dan tergila-gila kepadaku, dan tentu saja perasaannya akan sukses bertepuk sebelah tangan, karena aku juga sangat terobsesi menjauhi Suster agresif itu ---yah, daripada aku akan impoten selamanya?---).
Perempuan itu tak tampak terganggu aktivitasnya dengan suasana di dalam café ini, yang memang termasuk sangat sepi untuk ukuran sebuah café franchise terkenal di bilangan perkantoran segitiga emas Jakarta Pusat dan di waktu jam makan siang pula, tapi di luar konteks itu semua…yang menggelitik hatiku sedari tadi, mengapa perempuan itu tak tampak “terganggu” dengan keberadaanku di depannya (yang sejujurnya, kadang aku merasa sudah berlaku norak sedari tadi).
“Haaahh!!”, aku menghela nafas yang sengaja aku perdengarkan agak keras, namun alih-alih membuat perempuan itu mengangkat kepalanya yang seinci pun tidak, perbuatanku yang norak barusan sudah memancing tawa cekikikan para waiter wanita di café tersebut. Kulirik salah satu dari mereka yang paling kecil dan imut, lalu kulempar senyum terbaikku untuk dia, sekejap saja muka si waiter imut itu menjadi bersemu merah dadu, bahkan senada dengan warna celemek yang dipakainya…aih aih…betapa mudahnya pesona senyumku menundukkan perempuan lain, hmm kurasakan kuda jantanku sudah akan mulai kembali meringkik penuh rasa percaya diri, namun ketika kulempar tatapan kembali ke arah perempuan depanku yang bergeming diam, pelan-pelan suara ringkikan kuda jantanku berubah menjadi suara embekan lagi dalam sekejap. “Wedhus!”
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, seorang pria terburu-buru menarik kursi di depan meja si Paula (aku sebut saja dia Paula yang menggemari berimajinasi bersama Paulo Coelho, ah, aku asal banget ya!), dan tanpa babibu… pria tak sopan dari negeri antah berantah itu langsung duduk di depan Paula ku (jangan coba-coba protes kalau aku sudah memplotnya menjadi kepunyaanku, karena aku juga yang menulis cerita ini!, nggak mungkin aku membuat Paula menjadi milikku sekaligus zona terlarang untuk pria lain dengan mengencinginya lebih dulu seperti kebiasaan Harimau Rusia).
Ah bencana! Siapa sih dia! Kenapa aku tak jeli melihat penampilan pria itu dengan lebih cermat. Bodohnya lagi, aku juga tidak menyadari kedatangannya tadi dari arah mana. Spontan aku melihat ke atas langit-langit café (siapa tahu pria tanpa babibu ini dijatuhkan iblis dari langit). Hmm, seharusnya tadi aku bisa membandingkan penampilan dia dengan diriku, apa lebihnya dia dibandingkan aku, mengapa dia bisa begitu saja mendekati Paula ku, dan mengapa dia bisa terlewat dari pengawasanku?! Semenit tadi padahal aku sudah merasa menjadi Sang Harimau Rusia…Kuda Jantan Perkasa…namun lagi-lagi hanya bisa menjadi ”wedhus”!
Tiba-tiba aku heran mengapa harus aku sendiri yang bersikap panik heboh bukan kepalang dan sekaligus aku bisa membuat pertanyaan yang beruntun untuk membela rasa eksistensiku terhadap si Paula yang yahh…jujur kuakui dengan sangat-berat-hati-sebagai-seorang-pria-normal-yang-cenderung-egois-dan-superior, aku merasa sangat teracuhkan dengan sempurna. ---tapi tenang saja para kawan pria… semua kehebohan yang tolol itu hanya terjadi dalam hatiku, sedangkan sikap di luarku tetap kuusahakan tenang terkendali…aku harus berusaha calm untuk menjaga image kaum kita, para pria terhormat, benar begitu?!---
Kembali lagi kepada tempat kejadian perkara, kulirik diam-diam pemandangan panas di depanku. Paula ku..hmm, kulihat mimik mukanya sama sekali tak berubah,…dingin dan sarat beban. Paula ku tak tampak terkejut dengan kehadiran si Pria berpunggung lebar-yang memiliki tinggi kira-kira 175 cm-berbobot kira-kira 75 kg-berambut kira-kira lebat, namun kuharap bagian depan kepalanya ternyata sudah botak separuh! dan kira-kira mereka sudah mengenal sebelumnya, karena tidak terjadi suatu kegemparan yang luar biasa ---Paula ku tadi tidak berteriak “Maling” ketika melihat pria itu, padahal kalau saja pria ini memang maling atau orang gila yang ingin melecehkan diri Paula ku, aku bisa saja berlagak menjadi superhero untuk melindunginya, siapa tau Paula bisa terbuka hatinya *alamaak, garingnya harapanku!*--- dan kira-kiranya lagi, semua analisa asal-asalan ku tadi sudah menjadi sangat mengangguku! Karena, saat ini aku sedang berperang batin menebak-nebak siapa gerangan pria tadi, apakah si pria itu ternyata lebih tampan dan menarik dariku, aku berusaha menebak pertanyaanku secara tepat, hanya dengan melihat punggung lebarnya dari arah belakang. Sial!!
Paula ku perlahan menyudahi acara kencannya bersama Paulo yang kukenal sebagai sastrawan beraliran “science romantic imagination”, Paula ku menutup buku dengan sikapnya yang ternyata sangat elegan dan menampakkan bahwa dia adalah seorang pecinta buku sejati (mana ada seorang biasa yang tanpa sadar mengelus bukunya perlahan setelah menutupnya, seakan-akan itu sudah menjadi ritual para bookholic maupun book’s lover), Paula ku lalu menegakkan duduknya, sekarang lehernya terlihat lebih jenjang, cantik sekali. Paula kemudian menatap si pria itu ( dan sial! Aku hanya bisa melihat punggungnya!), dia menatap dengan pandangan yang tak menyertakan emosinya. Tampak tenang, paula sangat pandai mengendalikan suasana rupanya. Kemudian mereka berdua saling berbicara dengan pelan…namun karena suasana café yang memang sepi, kejadian yang layak aku syukuri adalah suara mereka berdua sudah terdengar seperti pementasan teater di Taman Ismail Marzuki, tanpa aku harus berusaha untuk menguping dengar.
Perempuan itu menggeser posisi duduknya sedikit, hampir tak kentara kalau aku yang duduk di meja persis di depannya tak serius mencuri pandang memperhatikannya…agak sedikit dia meregangkan badan semampainya untuk melemaskan otot-ototnya. Dia manis, perempuan itu sebenarnya sangat enak untuk dipandang, walaupun kulitnya tidak seputih wanita-wanita yang sering berlalu lalang di iklan TV,…kulitnya berwarna coklat, seperti tipikal wanita Indonesia sejatinya, namun aku sangat yakin kalau kulit eksotisnya pasti sangat lembut, dan juga wangi, bahkan bisa terlihat dari tempatku duduk kalau kulitnya ternyata mengkilap seperti warna tembaga …ah tanpa kusadari aku tersenyum tipis ketika lamunanku tentang kulit si perempuan menghampiri otakku, dan sebelum aku mulai berfikir jauh (ke arah negatif seperti fikiran pria normal lainnya yang melihat perempuan yang manis nan eksotis berada dalam jangkauan pandangan mata mereka) aku segera mencuri menatapnya lagi.
Saat ini perempuan itu sedang membuka tas selempang yang sedari tadi masih melingkar di badannya, dan kemudian dia mengeluarkan sebuah buku …hmm…ternyata dia suka buku Paulo Coelho juga, sama sepertiku…maksud lebih jelasnya, dia sama sepertiku yang sebenarnya suka membeli karya Paulo Coelho --- namun tentu saja setelah aku membaca resensinya di Kompas --- sayangnya aku tak pernah sempat membaca buku Paulo yang sudah kubeli. (tahu kan? susah juga loh mengatur pembagian jam kerja dan jam istirahat bagi seorang dokter residence seperti aku ini, malah aku selalu berfikir kalau bisa aku ingin meminta kepada Tuhan bonus tambahan 5 jam saja lagi dari 24 jam yang tersedia dalam sehari agar bisa membaca sebuah novel sastra tanpa adanya gangguan sms untuk sebuah operasi besar yang mendadak!).
Tak lama perempuan itu ‘tenggelam’, larut menikmati imajinasi bersama Paulo, kepalanya terus menunduk seakan dia sedang berada di alamnya sendiri yang sepi, namun itu tak menjadi masalah bagiku, malah menjadi berkah! karena aku dapat semakin leluasa untuk menjelajahi inci demi seinci fisiknya tanpa membuat perempuan itu merasa dilecehkan. Seperti dahaga aku jelajahi paras manis itu, tak akan kulewatkan sedikit pun, sedetik pun, hahaha… sebetulnya belum pernah aku menjadi sedemikian agresif dengan mahluk Tuhan yang berjenis perempuan, BARU dengan sosok di depanku ini, aku bisa menjadi begitu haus akan sebuah rasa terpesona.
Alisnya bagus, sangat alami dan tersikat sempurna, bingkai alis itu semakin menyempurnakan hadirnya kedua bola mata yang bulat. Hidungnya pun juga unik, hidung “mbangir” kata orang Jawa. Namun yang sangat menarik dari semua yang menarik adalah belahan tegas di atas bibirnya plus sepaket dengan bibir ranumnya yang basah oleh lip gloss.
Jadi ingat omongan Vika tempo hari, adikku yang centil itu selalu memakai lip gloss kalau hendak bepergian,”Lip gloss itu bisa untuk menjerat cowok lho Kak…”. Kedip Vika tatkala aku menggoda tentang benda kecil yang membuat bibirnya bisa menjadi sangat basah, licin, dan mengkilap. Hah, ternyata benar juga! Buktinya sekarang aku sudah terjerat, terperangkap oleh pesona bibir basah perempuan itu. Tapi, tanpa bisa ditentang, memang itulah sepaket bibir paling sempurna yang pernah kulihat, Tuhan pasti sedang tersenyum dikala menciptakan perempuan itu. Karena memang sempurna…
Hmm…kalau saja saat ini aku punya cukup keberanian untuk mengajaknya berkenalan atau … kalau saja perempuan itu yang dapat sedikit saja memancing keberanianku untuk mengajaknya berkenalan.
Detik itu juga aku mencoba memusatkan fikiranku, mencoba mengadakan telepati dengan perempuan itu, “ajaklah aku sharing tempat duduk denganmu atau ajaklah aku kencan malam ini...atau…argh, susahnya memusatkan fikiranku!” Hal yang paling mustahil yang bisa aku lakukan saat ini, dimana hatiku sedang bergejolak hebat selayaknya cowok SMP yang baru mengalami puber pertama dengan guru olahraganya yang seksi.
Ayo Sayang,… bangkitkan dong kuda jantan keberanianku ini untuk menghampirimu, jangan biarkan dia malah mengembek seperti seekor ‘wedhus’! dan kudapati jidatku sekarang mulai berpeluh, wih! segitunya…
Lima menit sudah berlalu dan rasanya aku semakin dongkol saja dengan perempuan itu, dia seakan enggan mengkhianati kebersamaannya dengan Paulo Coelho untuk sedikit saja menatapku, memberikan senyum manisnya kepadaku yang sedari tadi….diam-diam sangat mengemis untuk mendapatkan senyuman bibir merekahnya, dan sangat kuharap dia yang mencoba menggodaku, dengan membasahi bibirnya (walau memang sudah terlihat basah) dengan lidahnya yang merah, lalu dia akan menyibakkan rambut legamnya yang bergelombang dengan gaya sensual mengundang…seperti yang biasa dilakukan suster Arini kalau sedang menemaniku shift jaga malam di UGD (Suster Arini memang terkenal dengan sikap agresifnya yang menurutku sangat berani mati --- hahaha---, kuakui dia memang cantik, berkulit putih, dan “hot semlohai” >> kata terakhir ini ku’rampok’ dari seorang dokter bedah senior yang sepertinya pura-pura lupa akan umurnya yang sebenarnya sudah hampir mendekati angka yang memprihatinkan, karena tetap saja ketika suster Arini sedang berjalan di depannya, mata sipit si dokter senior sekaligus kaca matanya yang plus plus, pluss banget!---saking tebalnya--- si dokter sepuh itu nggak akan mau melewatkan sedetik pun untuk berkedip dan beliau hanya bisa melongo shock menatap cetakan celana dalam ketat pada bokong Suster Arini yang terlihat jelas ---wajar kali ya, karena kaca mata plus memang dapat memperbesar efek image yang dilihat, hahaha---, dan nggak cuma si dokter senior itu (yang tangannya pernah kudapati sudah gemetaran sewaktu memegang pisau bedah) yang bisa bereaksi seperti itu, tapi juga barisan dokter-dokter lain di rumah sakit ini, tua muda “sami mawon” ada barang bagus, dinikmati secara berjama’ah.
Namun entahlah! mengapa kuda jantan hatiku tak henti-hentinya mengembik kalau berada dekat si suster “hot semlohai” itu, bahkan simbol kejantananku si “lingga yang super gagah” pun akan langsung menciut susut kalau sudah didekati suster Arini yang pastinya punya maksud lain denganku di luar profesional kerja --- sampai pernah aku merasa frustasi karena mengira aku telah mengidap impotensi di usia muda, namun untunglah tak terbukti, ternyata hanyalah merupakan ketakutanku semata, sebab besok paginya aku kembali bernafas lega setelah menemukan fakta bahwa masih ada pemandangan normal di ‘linggaku’ setelah bangun pagi---- dan entahlah … apakah ini bisa kuanggap sebagai kategori sebuah kesialan atau sebaliknya, sebuah anugrah ---karena kalau aku mengatakan ini di rumah sakit, pasti akan ada sejuta ( aku melebihkan…jangan percaya! ) tatapan iri teman-teman sejawatku---, karena sudah menjadi rahasia umum di rumah sakit, kalau Suster Arini sangat terobsesi dan tergila-gila kepadaku, dan tentu saja perasaannya akan sukses bertepuk sebelah tangan, karena aku juga sangat terobsesi menjauhi Suster agresif itu ---yah, daripada aku akan impoten selamanya?---).
Perempuan itu tak tampak terganggu aktivitasnya dengan suasana di dalam café ini, yang memang termasuk sangat sepi untuk ukuran sebuah café franchise terkenal di bilangan perkantoran segitiga emas Jakarta Pusat dan di waktu jam makan siang pula, tapi di luar konteks itu semua…yang menggelitik hatiku sedari tadi, mengapa perempuan itu tak tampak “terganggu” dengan keberadaanku di depannya (yang sejujurnya, kadang aku merasa sudah berlaku norak sedari tadi).
“Haaahh!!”, aku menghela nafas yang sengaja aku perdengarkan agak keras, namun alih-alih membuat perempuan itu mengangkat kepalanya yang seinci pun tidak, perbuatanku yang norak barusan sudah memancing tawa cekikikan para waiter wanita di café tersebut. Kulirik salah satu dari mereka yang paling kecil dan imut, lalu kulempar senyum terbaikku untuk dia, sekejap saja muka si waiter imut itu menjadi bersemu merah dadu, bahkan senada dengan warna celemek yang dipakainya…aih aih…betapa mudahnya pesona senyumku menundukkan perempuan lain, hmm kurasakan kuda jantanku sudah akan mulai kembali meringkik penuh rasa percaya diri, namun ketika kulempar tatapan kembali ke arah perempuan depanku yang bergeming diam, pelan-pelan suara ringkikan kuda jantanku berubah menjadi suara embekan lagi dalam sekejap. “Wedhus!”
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, seorang pria terburu-buru menarik kursi di depan meja si Paula (aku sebut saja dia Paula yang menggemari berimajinasi bersama Paulo Coelho, ah, aku asal banget ya!), dan tanpa babibu… pria tak sopan dari negeri antah berantah itu langsung duduk di depan Paula ku (jangan coba-coba protes kalau aku sudah memplotnya menjadi kepunyaanku, karena aku juga yang menulis cerita ini!, nggak mungkin aku membuat Paula menjadi milikku sekaligus zona terlarang untuk pria lain dengan mengencinginya lebih dulu seperti kebiasaan Harimau Rusia).
Ah bencana! Siapa sih dia! Kenapa aku tak jeli melihat penampilan pria itu dengan lebih cermat. Bodohnya lagi, aku juga tidak menyadari kedatangannya tadi dari arah mana. Spontan aku melihat ke atas langit-langit café (siapa tahu pria tanpa babibu ini dijatuhkan iblis dari langit). Hmm, seharusnya tadi aku bisa membandingkan penampilan dia dengan diriku, apa lebihnya dia dibandingkan aku, mengapa dia bisa begitu saja mendekati Paula ku, dan mengapa dia bisa terlewat dari pengawasanku?! Semenit tadi padahal aku sudah merasa menjadi Sang Harimau Rusia…Kuda Jantan Perkasa…namun lagi-lagi hanya bisa menjadi ”wedhus”!
Tiba-tiba aku heran mengapa harus aku sendiri yang bersikap panik heboh bukan kepalang dan sekaligus aku bisa membuat pertanyaan yang beruntun untuk membela rasa eksistensiku terhadap si Paula yang yahh…jujur kuakui dengan sangat-berat-hati-sebagai-seorang-pria-normal-yang-cenderung-egois-dan-superior, aku merasa sangat teracuhkan dengan sempurna. ---tapi tenang saja para kawan pria… semua kehebohan yang tolol itu hanya terjadi dalam hatiku, sedangkan sikap di luarku tetap kuusahakan tenang terkendali…aku harus berusaha calm untuk menjaga image kaum kita, para pria terhormat, benar begitu?!---
Kembali lagi kepada tempat kejadian perkara, kulirik diam-diam pemandangan panas di depanku. Paula ku..hmm, kulihat mimik mukanya sama sekali tak berubah,…dingin dan sarat beban. Paula ku tak tampak terkejut dengan kehadiran si Pria berpunggung lebar-yang memiliki tinggi kira-kira 175 cm-berbobot kira-kira 75 kg-berambut kira-kira lebat, namun kuharap bagian depan kepalanya ternyata sudah botak separuh! dan kira-kira mereka sudah mengenal sebelumnya, karena tidak terjadi suatu kegemparan yang luar biasa ---Paula ku tadi tidak berteriak “Maling” ketika melihat pria itu, padahal kalau saja pria ini memang maling atau orang gila yang ingin melecehkan diri Paula ku, aku bisa saja berlagak menjadi superhero untuk melindunginya, siapa tau Paula bisa terbuka hatinya *alamaak, garingnya harapanku!*--- dan kira-kiranya lagi, semua analisa asal-asalan ku tadi sudah menjadi sangat mengangguku! Karena, saat ini aku sedang berperang batin menebak-nebak siapa gerangan pria tadi, apakah si pria itu ternyata lebih tampan dan menarik dariku, aku berusaha menebak pertanyaanku secara tepat, hanya dengan melihat punggung lebarnya dari arah belakang. Sial!!
Paula ku perlahan menyudahi acara kencannya bersama Paulo yang kukenal sebagai sastrawan beraliran “science romantic imagination”, Paula ku menutup buku dengan sikapnya yang ternyata sangat elegan dan menampakkan bahwa dia adalah seorang pecinta buku sejati (mana ada seorang biasa yang tanpa sadar mengelus bukunya perlahan setelah menutupnya, seakan-akan itu sudah menjadi ritual para bookholic maupun book’s lover), Paula ku lalu menegakkan duduknya, sekarang lehernya terlihat lebih jenjang, cantik sekali. Paula kemudian menatap si pria itu ( dan sial! Aku hanya bisa melihat punggungnya!), dia menatap dengan pandangan yang tak menyertakan emosinya. Tampak tenang, paula sangat pandai mengendalikan suasana rupanya. Kemudian mereka berdua saling berbicara dengan pelan…namun karena suasana café yang memang sepi, kejadian yang layak aku syukuri adalah suara mereka berdua sudah terdengar seperti pementasan teater di Taman Ismail Marzuki, tanpa aku harus berusaha untuk menguping dengar.
by : angin berbisik









sangat menarik :D
tense-nya kuat banget...
tak sabar menanti kelanjutannya..