Google
 
Saturday, June 06, 2009
a Half Day End The Journey


Kugigit setangkai alang yang kutemukan di ujung jalan ini, aku tak lapar, tapi mulutku terasa gatal, asam...aku tak berani menghisap rokok, aku masih ingin sehat, menghirup udara segar dalam sisa umur yang optimis aku kira masih panjang.

Dan sekarang hatiku patah, seperti alang yang sedang kumamah ini.

Hatiku ini penuh dengan pertentangan, antara surga dan neraka, surga ketika aku merasakan keindahan bersama lelaki beralis jelaga, dan neraka ketika kutahu dia telah beranak dua.

Aku ingin terus berfikir, memompakan udara sebanyak-banyaknya ke dalam otakku agar aku bisa berfikir jernih, dan kurasakan pertentangan itu semakin dalam, namun sayangnya membuatku semakin berfikir dangkal.

Kuludahi sisa alang yang sekarang membuat pahit mulutku, sok menjadi koboi yang terkesan cerdas, aku malah kelihatan konyol.

Ratusan pertanyaan umum berkecamuk di benakku,

Bagaimana cara aku bisa rakus nikmat merasakan surga, tanpa aku harus takut masuk neraka?

Ahh, iblis beralis jelaga itu sangat tampan, tuturnya selembut sutra, sehingga membuat aku terperangkap dalam candu.

"Sudah ada anak?" Pertanyaan ini yang selalu aku lontarkan pertama kali kepada pria yang awalnya menarik mataku, ya mataku...karena aku selalu merasai keindahan dengan mataku bukan lainnya. Dan aku tak pernah memulai dengan "Sudah menikah?"

Ketika jawabannya iya, selanjutnya aku akan berlalu dan kemudian lupa.

Namun tidak dengan dia.

"Kenapa memilihku?" Aku menatapnya, dan betapa kagetnya aku ketika kurasa tatapanku sudah penuh dengan cinta dan ada rasa hangat yang sontak menjalari nadiku, membuat jantungku berdebar ketika bertanya sesuatu yang sederhana.

Dan tentu saja jawabannya tak bisa lagi kuingat dengan baik karena ... saat itu aku dan dia berjanji akan selalu bersama, dengan telah bersatunya jantung kami, darah kami, dan kulit kami.

Inilah permainan hati, sering membuatku merasa lelah dan ingin berhenti, namun ketika niatan itu ada...kenapa dia yang selalu menginginkan perpanjangan waktu?

Kutendang kaleng susu kental kosong di jalan berdebu ini kencang. Lontaran kaleng itu membentur pagar seng dan mebentuk bulatan suara gaduh.

Aku tak peduli lagi saat ini, apalagi ketika terdengar suara orang menyumpah dan memakiku, karena aku tak lagi mau mendengar.

57 menit 35 detik yang lalu, tamparan keras itu mendarat di pipiku, tamparan dari tangan yang halus dan bergetar saking murkanya.

Aku tak ingin bercerita apa yang terjadi, ketika wanita ayu yang mungkin memasak pun dia tak pernah, mencercaku dengan pertanyaan yang bertubi,dengan suaranya yang melengking parau seperti gagak mendatangiku di kantor.

Aku diam, karena akulah terdakwanya, dan tentu saja aku tak akan pernah mengajukan banding terhadap vonisnya.

Aku hanya menatap wanita ayu itu, memperhatikan riasannya yang tak luntur meski wajahnya mulai basah dengan air mata dan keringat.

Dada kecil yang sering dikeluhkan pria beralis jelaga itu bergetar naik turun mengiringi sedu sedannya.

Oke, aku diam, pasrah karena memang aku bersalah...

Aku hanya mengangkat tanganku dan menatap wajah bawahanku yang saat itu ingin mencegah si ayu itu melakukan kekerasan apa pun juga terhadapku, bahasa tubuh diamku mengatakan dengan tegas kepadanya,"Biarkan dia."

Dan semua berakhir dengan satu bekas merah keunguan di pipiku.

Apakah aku akan berhenti?

Tentu saja pria itu tak mau mengerti,

"Dia mencintaiku, tak akan meninggalkanku...jadi...teruskanlah"

Dan aku menjawab,

"Aku yang meninggalkanmu..."

Kulihat matanya, tanpa ucapan perpisahan apa pun juga aku membiarkannya sendiri, mungkin punggungku yang merasakan kalau dia menatapku pergi menjauh, mengalah pada ego kejantanannya yang menjaga kedua kakinya untuk tidak mengejarku.

Dan berakhirlah sudah, dengan aku berdiri di ujung jalan ini dengan sepatu high heelsku.

Udara sore ini sangat panas.

Labels:



 
posted by angin-berbisik at 8:15 PM ¤ Permalink ¤


0 Comments: